Pasar 8 Alam Sutera












Jadi..... setelah Mami aku meninggal dua tahun lalu, di rumah, pas jam makan siang, biasanya sama Papi, lauknya itu beli dari suatu tempat kuliner yang lumayan dekat dengan rumah. Itu di daerah  Alam Sutera. 

Langsung saja.




















Namanya itu Pasar Delapan. Dekat, kok, sama perumahan di mana aku tinggal. Kalau naik motor, sekitar lima belas menit juga sudah sampai. Pasar Delapan ini terletak hampir di dekat gerbang masuk ke Perumahan Alam Sutera. Dari jam bundaran-nya, kalau jalan kaki sih, paling hanya sepuluh menit. Tak jauh pula dari Flavor Bliss--dan persis di seberang Rumah Makan Cianjur. 






Aku lagi di salah satu gerbang Pasar Delapan. 






Tak hanya buat makan siang, biasanya kalau pagi hari, buat sarapan, seringnya beli di Pasar Delapan. Bakmi-nya, Kwetiauw-nya, Bihun-nya,..... lumayan DEP SEDEP!!!!! Tak pernah bosan buat mencicipi tiap kuliner yang dijual di tiap lapak yang berada di Pasar Delapan. Soal harga, seperti kebanyakan pasar moderen lainnya, tak terlalu mahal pula. Relatif. Kalau mau cari makanan yang sesuai untuk kantong mahasiswa (yang hanya mampu beli makanan dengan harga di bawah Rp 50.000), banyak tersedia di Pasar Delapan. Mau ambil duit dulu, ada ATM center pula. Nah!





Lagi di dekat Pasar Delapan, yang ada tempat kuliner yang jual masakan khas Vietnam. 






Layaknya pasar, Pasar Delapan ini buka pada jam 6 pagi; yang mulai agak sepi ketika matahari tepat di atas kepala (alias jam 12 siang). Jam-jam sibuknya itu memang di antara jam 7 sampai jam 10 pagi. Sudah agak siangan, sudah mulai agak sepi. Sepi pengunjung, sepi penjual pula. Sudah banyak lapak atau kios yang tutup. 






Buat rotinya, rotinya itu beli di Bakery Caramia yang ada di Jakarta.






Berikut foto di atas itu bakmi rebus campur pangsit yang biasanya aku jadikan sarapan. DEP SEDEP banget. Kuahnya gurih. Mi-nya apalagi. Malah saking enaknya, aku lebih suka makan mi tanpa kuah. Serius, malah lebih enak mi-nya ketimbang kuahnya. Haha. 












Sementara, yang ini foto lauk makan siang di keluargaku. Bisa dilihat kan, harganya murah meriah. Sama-sama DEP SEDEP pula. Biasanya Papi paling sering beli ayam cabai hijau dan telur rebus bersambal. Itu yang paling sering dijadikan lauk makan siang sehari-hari. Saking DEP SEDEP-nya, aku malah jauh lebih suka makan lauknya saja tanpa nasi.












Gimana? Tertarikkah sehabis baca tulisan ini? Kalau iya, jika tengah main ke Tangerang, tak ada salahnya main ke Alam Sutera, terus dilanjutkan hingga Pasar Delapan. Oh iya, di waktu sorenya, ada banyak warung tenda juga di Pasar Delapan. Makin banyak kuliner lainnya yang murah meriah dan serba DEP SEDEP. Seperti kata anak kekinian, "Makin malam, makin seru!" 😆












No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.