Pelajaran dari CHICKEN SOGIL













Ayam goreng yang ada di foto di atas tersebut, kalian menyebutnya apa? Kalau waktu kecil, Mendiang Mami menyebutnya ayam sioto (dalam bahasa Batak itu, yang artinya ayam si bodoh). Ada yang menyebutnya ayam suntik. Ada juga yang menyebutnya ayam crispy. Ada pula yang menyebutnya ayam kriuk-kriuk. Buat dua terakhir itu mungkin karena faktor kulit ayamnya yang garing. Krik-krik-krik. Sama garingnya waktu ada teman coba melawak atau melucu, tapi malah krik-krik-krik. Coba membantu atau baik-baik, nyatanya malah tidak membantu dan membuat segala sesuatunya jadi tambah runyam. Coba ikut campur demi kebaikan, eh malah tambah bikin ribet. Yang ada, zzzzz. Tidur saja sana! 












Apapun itu penyebutannya, jenis ayam goreng yang cara pembuatannya terinspirasi dari KFC, McDonalds tersebut memang sangat enak. Akhir-akhir ini makin menjamur saja jenis ayam goreng seperti ini dengan beragam nama dan merek. Sepengamatan aku juga, secara rasa, tak jauh beda. Namun untuk para inspiratornya, memiliki banyak pembeda. Seperti ayam KFC yang ada rasa pedasnya; ukurannya kecil, dagingnya banyak. Ayam McDonalds yang banyak berukuran besar, namun beberapa kalau tak pakai bumbu, seringkali tasteless. Dan, masih banyak lagi para pembedanya.

Skip!

Sebab, aku bukan mau membahas soal segala pembeda di rivalitas ayam goreng bernama macam KFC, McDonalds, Burger King, Wendy's, A&W, hingga Texas Fried Chicken. Tidak, bukan itu yang mau kubahas. Yang mau kubahas itu.....

.....

Lihat foto pertama, kan? Nah, baru-baru ini aku pesan ayam goreng secara delivery order (secara online maksudnya). Bukan dari merek terkenal. Dari yang kecil-kecil begitu. Awalnya pesan yang paha atas. Eh kata driver Grab-nya, lagi kosong. Ya sudah aku alihkan ke bagian dada. Pas diantarnya, surprise banget buat aku. Tak menyangka dada ayam Chicken Sogil sebesar ini ukurannya. Bahkan kalah, loh, sama KFC, McDonalds, dan sebangsanya. Seumur hidup baru kali ini aku makan dada ayam yang sebesar ini. Rasanya juga lumayan DEP SEDEP. Soal harga, tak terlalu mahal. Masih di bawah Rp 20.000 untuk menu nasi + dada ayam + teh manis. Murah meriah kan.

Kaget aku. Perasaan sebelumnya makan di Chicken Sogil, belum sebesar ini dada ayamnya. Ah, mungkin sudah mulai terjadi perubahan sedikit. Apalagi yang aku lihat Chicken Sogil ini cabangnya tidak hanya di Jalan MH Thamrin, Kebon Nanas, Tangerang. Mereka memiliki beberapa gerai juga di beberapa tempat di Tangerang (setelah aku amati). Mungkin sudah mendapatkan kepercayaan. Alhasil banyak pembelinya. Semoga makin laris dan harganya tetap diusahakan murah. Karena biasanya begitu, kan? Makin digemari, jadi makin mahal.

Anyway, yeah, belajar dari kasus Chicken Sogil, hidup memang suka kasih kejutan yah. Satu lagi, jangan suka meremehkan sesuatu. Kadang yang seperti Chicken Sogil ini bisa memberikan ke-DEP SEDEP-an sangat luar biasa daripada yang gerai ayam goreng dari negeri Paman Sam. Pernah juga, loh, waktu ke basement Senayan City bareng Dias, aku menemukan merek jenis ayam goreng seperti ini yang tak kalah DEP SEDEP. Merek kecil, merek abal-abal, eh malah tak kalah DEP SEDEP!

Hmmm.....






No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.