Wajik Mengingatkanku akan Mendiang Mami







Kehilangan seorang ibu kandung memang menyakitkan dan menyedihkan. Itu mungkin jauh menyedihkan daripada kehilangan ayah kandung. Atau samakah keduanya? Yang jelas, kehilangan salah satu atau keduanya itu membuat kita selalu menangis jika bersentuhan dengan segala hal yang berhubungan dengan mendiang. Rasanya sangat sesuatu sekali jika tiba-tiba menemukan sesuatu yang begitu akrab dengan familier setelah beberapa waktu lamanya sang mendiang pergi.












Itulah yang aku rasakan saat mendadak menemukan kue wajik. Inilah kue yang sangat kental dalam segala memoriku dengan almarhumah Mami. Dulu pas Mami masih hidup, aku dan saudara kandung yang lain suka dibelikan kue wajik. Jangankan dibelikan, Mami tuh kadang suka bikin kue wajik dan kue wajik buatannya yang terenak di seluruh alam semesta. Aku selalu ketagihan untuk mencicipinya. Ingin lagi, deh! 😉

Ah, terakhir aku mencicipi wajik buatan Mami itu pas Desember 2012. Waktu itu Mami terima pesanan wajik untuk satu kegiatan gereja. Aku dan yang lainnya sempat kebagian untuk mencicipi. Wajiknya itu yang paling enak, sebab selain 'daging'nya lebih banyak, ada rasa khusus dalam wajik tersebut. Rasa itu bernama rasa ibu.

Wajik ialah salah satu penganan buatan Mami yang paling aku gemari. Mami itu dulu hobi masak. Salah satunya, suka bikin kue-kue kering dan basah macam brownies, lemper, bolu, nastar, kue putri salju, maupun kastangel.


* Tulisan ini didedikasikan untuk memperingati dua tahun meninggalnya Mami.


No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.