"Secret Sunshine" : Agama (Faith) Bagaikan Sebuah Matahari




Film-film bertemakan religius, apalagi yang bernuansa kristiani, jarang sekali ditemukan. Di Amerika saja, film seperti itu termasuk jarang dibuat. Kalau pun dibuat, promosinya, yah seadanya. Mungkin kebanyakan orang, sepertinya berusaha menjauhi tema seperti itu. Alasannya.. entahlah. Mungkin itu karena semakin tingginya angka atheis dan agnostik di dunia ini. Plus agama juga semakin seperti mainan yang tak berharga sama sekali. Salut ada film Asia bertemakan kristiani. 

"Secret Sunshine" besutan Chang-dong Lee ini menceritakan mengenai seorang wanita yang menuju ke sebuah kota yang dulunya kampung halaman sang suami yang tewas dalam sebuah kecelakaan. Nama kota itu Miryang, yang dalam bahasa Kanton itu artinya Matahari Rahasia yang sesuai judulnya. Shin-ae membawa serta anaknya yang masih kecil, Jun. Penduduk kota Miryang ini ramah-ramah. Terlalu ramah, malah. Kenapa dibilang terlalu ramah? Yah soalnya mereka terlalu mencampuri urusan Shin-ae, bahkan cukup tahu soal perempuan itu. Terlebih lagi, seorang wanita yang bekerja di sebuah apotek. Wanita itu memanggil Shin-ae, berusaha menghiburnya dengan firman Tuhan, dan memberikan sebuah alkitab. Saat menyaksikannya, aku merasa wanita yang cukup religius itu mempraktekan agamanya seolah-olah barang dagangan saja.

Kelakuan si wanita itu kelak semakin menjadi-jadi, setelah anak Shin-ae bernama Jun diculik, lalu dibunuh di suatu tempat. Di tengah kegundahan hati Shin-ae, wanita seharusnya menjadi sahabatnya dengan cara menemani dan menghibur tanpa embel-embel agama. Nyatanya, ia semakin gencar mendakwakan ajaran agamanya (Kristen) pada Shin-ae. Agak kesal sih menontonnya. Tapi orang-orang seperti itu banyak; tak hanya Kristen juga lho. Awalnya Shin-ae yang berlatar atheis (atau mungkin agnostik) terus berusaha melawannya. Shin-ae mengatakan bahwa Tuhan itu tak ada, karena ia tak melihatnya. Namun lambat laun, ada prahara dahsyat dalam hatinya. Itulah yang menyebabkan ia malah akhirnya menghadiri sebuah acara kerohanian Kristen. Iman kekristenannya mulai muncul. Ia mulai percaya terhadap segala ajaran kristiani. Tapi...

Di sinilah jeniusnya sang sutradara. Sepertinya ia ingin memberitahukan bahwa ajaran sebuah agama itu tak seharusnya disiarkan lewat bujuk-rayu-paksaan. Sebab, jadinya iman si penganut baru itu lemah. Ia beragama hanya ikut-ikutan. Tidak ada keikhlasan hati. Rentan goyah imannya oleh sebuah masalah. Dan benar saja, iman Shin-ae goyah. Goyah, saat pembunuh anaknya yang sudah dipenjara tiba-tiba saja mendapatkan hidayah untuk menganut Kristen dan merasa Allah Bapa di sorga sudah mengampuninya. Di sini, Shin-ae kesal. Mungkin ia ingin sekali si pembunuh dapat hukuman setimpal dari Tuhan, walau saat mengunjungi penjara, ia berkata pada temannya--dirinya sudah mengampuni si pembunuh. Setelah kejadian di penjara itu, ia kembali jadi seorang atheis dan mulai membenci kepercayaan lamanya--termasuk membenci pendeta yang membaptisnya. Ia mulai menjalani fase-fase tersulit dalam hidupnya dan semakin sering berhalusinasi melihat anaknya.

Walau genrenya drama, jangan harap lihat akhir yang  bahagia. Kalian salah, jika berharap seperti itu. Akhir dari film ini sama seperti film-film horor: menggantung. Tapi di situlah letak kejeniusan sang sutradara, Chang. Memang akhir seperti itulah yang cocok untuk cerita seperti ini. Secara sinematografi, yah cukup digarap dengan baik. Ritual-ritual kristen juga tak terlalu dieksplorasi berlebihan. Akting? Mari kita berikan dua jempol untuk pemeran Shin-ae: Do-yeon Jeon. Total keseluruhan, film ini mendapatkan nilai 100. Sempurna.



RATE 100


Genre: Religi
Produser: Lee Chang-Dong
Sutradara: Lee Chang-Dong
Pemain: Jeon Do-yeon, Song Kang-ho, Jo Young-jin
Durasi: 142 menit
Bahasa: Korea
Tanggal Rilis: 23 Mei 2007

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.