Belajar untuk Berempati pada Penderitaan Orang Lain dalam "Kauwboy"




Pas lihat film "Kauwboy" ini berhasil memenangkan penghargaan sebagai film berbahasa asing terbaik di Academy Awards yang ke-85, Nuel rada terkesan begitu. Apalagi film ini datang dari dataran Eropa, dari negara yang jarang sekali disentuh film-filmnya oleh para penikmat film tanah air. Oke kebanyakan kita lebih menyimak film-film dari Perancis, Jerman, Inggris, Italia, maupun Spanyol. Makanya penasaran juga sama film dari tanah Kincir Angin ini. Ternyata pas menontonnya, luar biasa. Angle-nya menawan, akting para pemain terlebih pemeran utama sangat patut diacungi jempol, dan terakhir--walau lambat pace-nya, itu ada alasannya. Karena kita, para penontonnya, dipaksa untuk merenungi kehidupan sang tokoh utama yang lumayan nelangsa, tapi akhirnya tetap bangkit dan terus berjalan. Memaksa untuk berpikir juga. 

"Kauwboy"  ini bercerita tentang Jojo yang ditinggal mati ibunya di usia yang sangat muda. Pasti untuk anak seusia itu kehilangan ibu, memang sangat berat. Saking beratnya (nan depresinya), Jojo terus merasa sang ibu masih ada. Alhasil dia masih suka menelepon nomor ibunya hanya untuk menanyai dan menyampaikan kabar. Jojo ini anak yang pemurung setelah kepergian ibunya, sampai akhirnya dia bertemu seekor burung (lupa nama jenis burungnya apa), yang burung itulah obat pelipur lara. Selain si burung, ada pula teman perempuannya yang bernama Yenthe. Sayang oleh sang ayah, Jojo berkali-kali diminta usir burung itu dengan beragam jenis alasan. Tapi Jojo membatu karena burung itu sangat berarti. Sampai akhirnya ayahnya sadar bahwa Jojo memang butuh ditemani dan burung itu sudah menyelamatkan hidup Jojo. Jojo dibiarkan memelihara burung itu sampai meninggal dan sadar bahwa hidupnya harus terus berlanjut.

Ah, film ini membuat Nuel teringat akan masa-masa sukar ditinggal Mami Nuel dulu. Dan, Nuel bilang buat yang tengah kehilangan, cocok sekali menonton "Kauwboy" ini. Moralnya sangat jelas. Di saat tengah berduka karena kehilangan, akan ada selalu yang akan menemani dan menguatkan dengan sendirinya. Film ini juga mengajarkan kita untuk berempati pada penderitaan sesama, alih-alih mengejeknya lemah. Berdiri di samping mereka jauh lebih baik ketimbang berdiri di depan. Salut pula sama Jojo yang terus meneruskan hidup walau sebetulnya kakinya sangat berat melangkah, dan Jojo menghibur diri sendiri dengan caranya sendiri yang menurut sebagian orang mungkin terasa aneh (atau gila).


RATE: 95 / 100


Genre: Family
Produksi: Waterland Junior, NTR, Nederlands Filmfonds
Distributor: Benelux Films
Produser: Martijn van der Vliet, Stef Meijer
Sutradara: Boudewijn Koole
Pemain: Rick Lens, Loek Peters, Cahit Ölmez, Susan Radder, Ricky Koole,...
Bahasa: Belanda
Durasi: 81 menit
Tanggal Rilis: 11 Februari 2012 (di Berlin) atau 7 April 2012 (di Belanda)

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.