Shiritsu Bakaleya Koukou yang campur-aduk, tapi menghibur





Shiritsu Bakaleya Koukou. Awalnya merupakan nama sebuah dorama (drama dalam bahasa Jepang) yang sebagian besar pemerannya ialah member AKB48. Ada Haruka Shimazaki, Mina Oba, Mariya Nagao, Mariko Nakamura, dan Marina Kobayashi. Bahkan penulis naskah aslinya sendiri pun ialah Yasushi Akimoto, pendiri AKB48. Dan penyanyi untuk ending theme-nya itu  - yang berjudul "Migikata" - ini ialah Atsuko Maeda alias Acchan yang  2012 silam sudah lulus. Tak hanya itu, di doramanya, ada beberapa episode yang begitu gencar mempromosikan AKB48. Bagi para fan, pasti tak asing dengan istilah senbatsu atau jankenpon (Sebetulnya ini nama suit Jepang) yang akan diceritakan di dorama ini.


Dorama yang disutradarai oleh Kentaro Moriya dan Masahiko Kiki ini menceritakan mengenai sebuah sekolah yang kebanyakan muridnya ialah berandalan yang suka berkelahi dengan murid sekolah ini. Karena kebiasaan brutal mereka itulah, pihak sekolah Bakada - nama sekolah itu - bekerja sama dengan sebuah sekolah swasta putri bernuansa Katolik - yang tampak dari gedung sekolah dan istilah 'pelayanan doa'. Mereka sepakat menggabungkan kedua sekolah. Tak sepenuhnya bergabung, sebetulnya. Hanya sebagian dari murid sekolah Cattleya (baca: Cataleya - dari sini muncul kata Bakaleya yang artinya mungkin, Cattleya yang bodoh) yang pindah ke Bakada.Dan segelintir itulah yang akan disebut sebagai Cattleya cabang dua.

Mengetahui kabar merger tersebut, beberapa murid senior Bakada protes. Mereka main masuk begitu saja ke kantor guru. Tapi protes mereka diabaikan. Keputusan tetap keputusan. Mereka harus bersedia menerima kedatangan murid-murid perempuan yang awalnya bikin jengkel. Bagaimana tak bikin jengah? Siswi-siswi tersebut berani benar dengan para murid Bakada yang sudah terkenal keberingasannya. Siswi-siswi itu dengan beraninya mencopot plakat Bakada, merombak toilet, membuang meja bersejarah Bakada, hingga merombak total isi ruangan kelas.

Tapi sih, yang menjengkelkan saat meja kebanggaan para Bakada dibuang. Siswi-siswi itu tak tahu meja tersebut begitu berharganya. Makanya, mereka bingung setengah mati kenapa para murid lelaki sampai rela mencari meja yang sudah dibuang. Tapi pimpinan siswi Cattleya yang bernama Fumie Shingyoji mengerti sangat kenapa mereka melakukan itu. Walau sudah usang, yang namanya benda penuh kenangan pasti akan sulit dibuang.

Itulah awal-awal kisah pertemuan siswi Cattleya dengan murid Bakada yang bengal. Selanjutnya banyak kisah menarik yang terjadi dan memberikan pelajaran berharga, khususnya ke siswi-siswi Cattleya; terlebih lagi untuk Fumie. Fumie yang merasa dirinya sempurna akhirnya sadar bahwa ia sudah melewatkan beberapa hal dalam kehidupannya yang nyaris sempurna. Bahkan dari salah seorang murid Bakada bernama Tatsuya Sakuragi, ia belajar tentang arti persahabatan. Kala itu, Tatsuya menegurnya, "Jadi kamu lebih mementingkan pelajaran daripada teman?". Waktu itu, ada salah seorang teman Fumie yang lagi ada masalah dan harus absen. Dan Fumie, bukannya mencari, ia malah sibuk di dalam kelas dengan alasan tak baik meninggalkan jam pelajaran yang sedang berlangsung.

Sungguh dorama yang satu ini, walau banyak adegan kekerasan dan bahasa eksplisit, namun penuh moral dan layak ditonton kaum remaja. Dorama ini mengajarkan tentang apa itu solidaritas dan persahabatan. Seperti saat Tatsuya yang kerepotan bikin naskah pidato. Teman-temannya yang pergi dahulu karena enggan membantu, jadi balik lagi dari kesibukan masing-masing. Atau saat Cattleya diterpa isu tak enak, murid-murid Bakada dengan sukarela membantu. Tatsuya malah menyuruh kawan-kawannya untuk menghibur Fumie. Lucu melihat kawan-kawan Tatsuya berusaha melawak, tapi tampang Fumie datar.

Terakhir, dorama ini terdiri dari 12 episode, seperti layaknya dorama-dorama lainnya.  Walau berakhir, Shiritsu Bakaleya Koukou tetap berlanjut dalam bentuk film. Namun kalau boleh jujur, lebih suka doramanya ketimbang filmnya. Lebih berkesan. Filmnya, terlebih ultimanya, kurang greget. Tapi tetap saja, suka dengan cara sutradaranya, Takashi Kubota yang berani bereksperimen dengan menggabungkan unsur action, romance, dan commedy menjadi satu bagian utuh yang enak ditonton. Ini sungguh hiburan yang jarang sekali kita temukan. Coba deh berpikir. Berapa banyak sih film - dimana ada adegan pukul-pukulan yang begitu dipertontonkan, lalu ada adegan mesra-mesraan khas romance, diikuti aksi-aksi konyol khas komedi? Jarang sekali, kan? Nah itu dialah kelebihan film ini. Dijamin tak akan pernah bosan menonton film Shiritsu Bakaleya Koukou ini.


Terakhir, penilaiannya nih. Untuk dorama, berani kasih nilai 10. Sementara filmnya, sepertinya hanya cukup dengan nilai 8,5.

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.