Gambaran Dunia Hiburan dalam Saba Doll




Pernah diketahui dari suatu sumber, di Jepang, profesionalitas itu harus dijunjung tinggi. Orang harus bisa memisahkan mana urusan pekerjaan, mana urusan non-pekerjaan. Nah, drama Jepang yang satu ini juga berbicara soal filosofi yang satu ini.

Oke, jika kita menilik episode pertama dari Saba Doll, mungkin bagi yang kurang terbiasa (Atau anti!), kalian akan menghentikan untuk menonton lebih lanjut sampai episode 12, yang mana episode terakhirnya. Sebab bertajuk idol-idol-an. Apalagi sang pemeran utama, Mayu Watanabe memang seorang idol. Ia member AKB48 (Silakan eneg buat yang bosan mendengar satu kata laknat tersebut!), idol group paling terkenal seantero Jepang. Tak salah jika kalian berpandangan seperti itu. Itu hak kalian mau menggemari yang mana juga.

Tapi sebaiknya tahan dulu segala subjektivitas kalian. Kalau kata pepatah: "Jangan menghakimi buku dari sampulnya saja!" Drama yang kali pertama keluar pada 13 Januari 2012 ini layak sekali untuk kalian tonton. Yah walau temanya cukup klasik dan sering dijadikan ide cerita untuk film atau serial televisi.

Yup, drama ini mengangkat tema kehidupan seorang selebritas. Tak usah lihat hingga ke Jepang sana, di Indonesia pun, pernah beberapa kali para pelaku showbiz mengangkat tema ini ke dalam sinetron atau film. Jangankan Indonesia, Amerika Serikat juga pernah. Contoh, film animasi Bolt, dimana menceritakan tentang seekor anjing yang jadi pemeran utama dalam sebuah film, yang dicelikkan matanya setelah tak sengaja keluar dari studio.

Tak hanya Indonesia atau Amerika, negara tetangga Jepang juga sama. Korea pernah mengangkat tema ini ke dalam bentuk film. Salah satunya, film Mr.Idol. Soal perjuangan membentuk sebuah boyband.

Kembali ke soal Saba Doll -- yang amat sangat wajib tonton. Ada beberapa pesan terselubung yang kalian semua perlu tahu.





Saba Doll ini bercerita tentang Usa Shijimi, seorang wanita guru berusia 38 tahun, yang semenjak kanak-kanak, dirinya sudah bercita-cita menjadi seorang idol. Sayang, nasib baik tak kunjung datang. Ia gagal dan akhirnya menjadi seorang guru. Namun siapa sangka, di usianya yang sudah kepala tiga, dirinya seolah diberikan kesempatan untuk mewujudkan cita-cita masa kanak-kanak lewat sebuah makanan.

Lewat kudapan yang mirip risol, Shijimi yang sudah tua bisa berubah menjadi seorang gadis muda berusia 17 tahun. Maka dimulailah petualangan Shijimi sebagai seorang idol dengan menggunakan identitas palsu sebagai Watanabe Mayu. Dan sebagai seorang idol atau selebritas, Shijimi tahu bahwa fans pasti harus mengetahui beberapa informasi soal kepribadian barunya tersebut; seperti makanan favorit, clothing line favorit, hingga anime favorit. Dengan bantuan sang adik, ia lalu menjalani kehidupan sebagai seorang idol dan bagaimana harus bertingkah.

Namun ternyata kehidupan seorang idol atau selebritas itu keras. Lebih keras dari dugaannya selama ini. Dulu ia membayangkan betapa enaknya menjadi seorang idol yang begitu dipuja-puja. Kilauan itulah yang dilihatnya dari kehidupan menjadi seorang idol. Ia baru menyadari bahwa kilauan itu hanya di permukaan saja. Jika menyelami lebih ke dalamnya, kehidupan yang sudah dan tengah ia jalani tersebut luar biasa keras. Pertama, ia harus menjalani serentetan jadwal yang cukup padat dan sudah diatur oleh manager atau agency-nya yang tak jarang menekannya habis-habisan. Kedua, dunia showbiz -- atau entertainment -- rentan akan skandal. Tidak ada yang namanya privasi di dunia tersebut.

Ia juga seperti diwajibkan untuk selalu tersenyum dan tak boleh menunjukan perasaan ketidaksenangannya. Lagian, fans mana coba yang mau melihat idolanya bermuram durja. Mau mengidolakan siapapun, yang namanya fans selalu ingin melihat idolanya tersenyum riang -- atau berada dalam kondisi terbaik.Seorang idola pun dituntut untuk bisa menjaga sikap.

Lewat seorang idol juga -- Utamaro, Shijimi belajar soal profesionalitas, terlebih profesionalitas di dalam dunia hiburan. Profesionalitas ialah kondisi dimana kita harus mengorbankan apapun demi kepentingan orang lain. Terlebih lagi, demi kepentingan penggemar atau penikmat. Di sini, Utamaro sudah kehilangan cintanya demi bisa menjadi seorang idol. Ia juga menikmati sekali perannya sebagai seorang idol. Walau skandal menerpanya, ia selalu tersenyum.




Selain menyoroti kehidupan seorang idol atau selebritas, drama ini juga berbicara soal fans. Mengajarkan bagaimana seharusnya seorang fans bersikap yang baik. Seorang fans yang baik akan selalu mendukung idolanya. Terutama saat sang idola tengah terpuruk. Namun tentunya tak boleh berlebihan. Jujur saja, saat dipertunjukan aksi seorang fans yang mengidolakan seseorang sampai berbuat yang absurd, itu terasa menggelikan -- juga menjijikan.

Ah, sungguh kita telah disodori sekelumit dunia hiburan itu. Bagaimana kerasnya bertahan di dunia yang memang bertujuan menghibur khalayak. Selain harus bisa selalu ceria, pula harus berhadapan dengan wartawan, kecemburuan pekerjaan, skandal, tekanan dari pihak yang mempekerjakan, dan lain-lain sebagainya.

Walaupun disajikan dengan cara menarik, yaitu lewat jalur komedi, drama ini masih tetap ada kekurangan. Seperti: tak dijelaskan lebih lanjut soal kudapan yang mengubah Shijimi menjadi Mayuyu. Atau tak diceritakan bagaimana Shijimi bisa menjadi seorang idol. Tapi sudahlah, tetap saja drama ini menjadi hiburan yang tepat untuk melihat bagaimana dunia hiburan itu sebenarnya bekerja, dimana seorang selebritas sesungguhnya merupakan sebuah boneka yang patut dikasihani (Sesuai dengan judul dramanya). Pula untuk menertawakan betapa bodohnya kita yang begitu naifnya dalam mengidolakan sesuatu.



RATE: 90 / 100


Genre: Komedi
Sutradara: Tomohide Sano, Kei Hirota, Toyoshima Dai, Satou
Pemain: Mayu Watanabe, Hitomi Takahashi, Tamae Ando, Keisuke Kaminaga
Produser: Tomohiro Gouda
Produksi: TV Tokyo
Jumlah Episode: 12
Tayang: 13 Januri 2012 - 6 April 2012




Sumber gambar: hasil capture

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.