"Everest": Pemandangan Serba Putih yang Bikin Bosan Sekali






Saat para pendaki berhasil mencapai puncak Everest.
Apa sih daya tarik utama film-film bergenre adventure yang mengambil latar di alam bebas? Pasti sebagai penonton, ketimbang oleh akting para pemainnya, kita lebih berharap disuguhi oleh  kepiawaian juru kamera dalam mengambil angle (faktor lainnya: unsur drama). Itulah yang membuat Nuel merasa terkantuk-kantuk sewaktu menonton "Everest". Dari awal film, Nuel sangat tertarik untuk terus menyimaknya. Konflik mulai ditawarkan pula. Namun di pertengahan, terlebih pas momen-momen pendakian,... shit, I'm getting totally bored!

Well, maaf jika ada yang keberatan. Ini hanya opini subyektif Nuel. Nuel merasa sutradaranya terlalu mengulur-ulur di bagian Rob Hall, dkk tengah berusaha mencapai puncak Everest. Apa sang sutradaranya ingin memberikan sebuah drama? Kalau ingin memberikan suatu drama yang pasti lebih disukai penonton, sutradaranya kurang begitu cerdas. Bukankah sebaiknya unsur drama diletakkan di bagian saat turun gunung? Dengan kondisi gunung yang serba putih, tentunya akan jadi semakin membosankan jika sutradaranya terus mengulang latar yang sama. Penguluran waktu kurang begitu efektif. Apalagi Nuel yakin, dengan melihatnya judul saja, para penonton berharap sesuatu mendebarkan (yang tak membosankan) dari "Everest". Sutradaranya sungguh gagal dalam memberikan hiburan yang mendebarkan. 

Oh iya, "Everest" sendiri bercerita tentang sekelompok orang yang tengah menjalani ekspedisi terakhir mereka dalam sebuah tajuk berjudul 'Seven Summits'. Yup, ini kisah nyata. Nama-nama tokohnya betulan ada. Mulai dari Rob Hall, Beck Weathers, Yasuko Namba, Doug Hansen, Scott Fischer, dan Helen Wilton. Nama-nama tiap pendakinya betulan ada di dunia nyata, bukan sekadar tokoh fiksi belaka. Dua nama pertama berhasil selamat dari dahsyatnya cuaca dingin Everest. Menurut sejarah, kisah itu terjadi di periode 1950-an. 

Film ini sendiri ini dibuka dengan adegan di mana Rob Hall dihubungi teman-temannya untuk melanjutkan ekspedisi. Misi selanjutnya di Everest. Rob setuju dan segera berangkat--yang meninggalkan istrinya yang tengah hamil. Di perjalanan, ia bertemu dengan beberapa orang baru seperti John Hawkes, seorang tukang pos. Mungkin agar terlalu bertele-tele dengan menampilkan sebuah drama tanpa latar Everest-nya, segera scene film ini berpindah ke Himalaya, Nepal. Penonton langsung disuguhi oleh bagaiman rumitnya sebuah tim ekspedisi yang akan mendaki gunung, terutama gunung sebesar Everest. 

Selanjutnya, adrenalin penonton mulai diuji dengan perjalanan Rob Hall, dkk dalam mendaki Everest. Mungkin dengan menyampaikan informasi soal  sindrom-sindrom yang diderita tiap pendaki, film ini akan menjadi sangat seru. Belum lagi dengan permainan efek yang membuat kita serasa di Everest. Awal-awal sih, untuk Nuel sendiri, cukup ngefek. Namun lambat laut, bosenin juga. Apalagi sutradaranya terus mengulur di lokasi sama dengan pemandangan serba putih. Kalau ingin menampilkan drama, bukankah sebaiknya pindah scene dulu untuk memberikan kesegaran di tiap pandangan para penonton? Penonton pasti jenuh menyaksikan pemandangan yang sama. Putih, putih, dan putih. 

Penyelamat film ini justru ada di scene menjelang ending. Itu saat salah satu pendaki (lupa yang mana) begitu berjuang agar bisa tiba di salah satu titik aman pendakian. Dengan terus dimotivasi oleh suara istrinya, si pendaki terus berjalan hingga akhirnya sampai juga dan terselamatkan. Bagian itu lumayan mengobati Nuel dari rasa bosan. Senjata 'drama' yang menjadi penyelamat film ini, menurut Nuel, ada pada saat keluarga pendaki bahkan sampai rela ke Nepal demi sang pendaki itu sendiri. 

Saran Nuel, sebaiknya tonton film ini lewat DVD atau situs streaming saja. Kalian bisa skip bagian-bagian membosankannya dan hanya menyaksikan bagian-bagian mendebarkan yang Nuel sebutkan tadi. Yaitu saat menjelang ending. Bagian menarik film ini hanya di scene-scene awal dan akhir. Itu saja. 

Bagi Nuel sendiri, film ini lebih menyerupai sebuah film dokumenter saking membosankannya. Andai saja latar belakang tiap pendaki dikupas, komplet sudah. "Everest" langsung menjelma jadi film dokumenter. Apalagi di poster filmnya disampaikan pula bahwa film ini 'based on true'.

Soal kemampuan akting, tak perlu diragukan. Sinematografi? Cukup apik. Namun kalau mau jeli, kalian bisa melihat ada beberapa kejanggalan. Ceritanya lumayan bagus. Walaupun demikian, tentu akan semakin bagus jika sutradara menambahkan lebih banyak lagi bumbu-bumbu drama. Tentunya dengan menghindari pemandangan serba putih.

Untuk film-film yang mengambil latar di alam bebas yang Nuel tonton di tahun 2015 ini, "Midnight Sun" jauh lebih baik dari "Everest". Sutradara "Midnight Sun" tahu betul bagaimana menghindari penonton dari yang namanya kebosanan. Kameramennya pun tahu scene yang seperti apa yang bakal memukau tiap orang yang menyaksikan film tersebut. Hal itulah yang tidak didapatkan Nuel dari "Everest".


RATE: 85 / 100


Genre: Adventure
Produksi: Cross Creek Pictures, Walden Media, Working Title Films
Distributor: Universal Pictures
Produser: Tim Bevan, Eric Fellner, Nicky Kentish Barnes, Tyler Thompson, Brian Oliver,...
Sutradara: Baltasar Kormákur
Pemain: Jason Clarke, Josh Brolin, John Hawkes, Robin Wright, Emily Watson, Keira Knightley, Sam Worthington, Jake Gyllenhaal,...
Bahasa: Inggris
Durasi: 121 menit
Tanggal Rilis: 23 June 2015 (untuk CineEurope), 18 September 2015 (Untuk Amerika Serikat dan Britania Raya)

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.