"Battle of Surabaya": Cerita Indonesia, Rasa Jepang



Berhubung akan mendekati Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Oktober, salah satu Admin GETO KATANYA akan me-review karya anak bangsa. Sebuah animasi yang lumayan bisa membakar semangat patriotisme. MERDEKAAAAA!!!

Walau sebetulnya animasi "Battle of Surabaya" ini terasa kurang sreg di hati jika melihat visualnya. Bagaimana tidak, visual dari "Battle of Surabaya" ini menyerupai anime-anime Jepang. Namun yah apa boleh buat. Dari sejak Admin masih pelajar SD, selain hampir jarang terdengar, animasi-animasi Indonesia memang kurang memiliki ciri tersendiri yang bisa membedakan dengan Western cartoon dan Japanese anime. Apalagi pengaruh anime masih kuat di Indonesia. Atas dasar itulah, segenap kru "Battle of Surabaya" sepakat berkarya lewat jalur anime.

Namun visual dari "Battle of Surabaya" ini tak sepenuhnya anime. Ada beberapa scene yang mana visualnya itu berbeda. Terasa nyata begitu. Kita ibarat seperti berada di masa pertempuran Surabaya. Dan, alhasil "Battle of Surabaya" ini jadi lumayan ciamik. Ciri anime yang dipadukan dengan potongan-potongan gambar hidup. Bagi penulis, ini suatu seni yang indah. Meskipun, maaf-maaf kata, ada gerak dari tokoh-tokoh animasinya yang masih kaku.

Bicara soal cerita, "Battle of Surabaya" ini hanya mengambil latar di Surabaya saat Belanda bareng sekutu datang ke Surabaya. Selebihnya kisah yang ada di dalamnya itu fiksi. Jadi, yah tokoh-tokoh di dalamnya seperti Musa, Yumna, dan Danu itu hanya rekaan para kru. Ada juga sih memang yang benar-benar ada seperti Brigjen A. W. S. Mallaby.

Diceritakan Musa adalah seorang remaja lelaki yang hidup sebagai penyemir sepatu di kota Surabaya. Nasib mengantarkannya berkenalan dengan Yumna--seorang gadis yang memiliki masa lalu cukup memedihkan--dan Danu--yang seorang anggota TKR (Tentara Keamanan Rakyat, red). Nah, akibat kenalan dengan Danu inilah, Musa direkrut oleh pimpinan TKR untuk jadi semacam mata-mata begitu. Lewat Musa, TKR bisa mengirimkan bala bantuan ke tempat-tempat yang dijaga oleh tentara Nippon atau Belanda. Musa ini pasti memiliki nyali yang besar yah? Kalau tidak, sepertinya di jaman sekarang jarang sekali ada remaja yang mau diemban tugas seberbahaya itu. Mengundang maut, membahayakan nyawa.

Walau masih muda dan postur yang kurang begitu mengemban, demi rasa cinta ke tanah airnya, Musa mengemban amanah tersebut. Tak mudah. Beberapa kali ia sempat kepergok tentara musuh. Bahkan dikhianati oleh teman sendiri pernah. Yup, Yumna pernah mengkhianati. Mas Danu yang membawa Musa ke pimpinan TKR  pun sama. Namun Musa tetap menjalankan tugasnya pada negara dengan sebaik-baiknya. Bahkan lewat perjuangan Musa untuk Indonesia itulah yang menyadarkan Mas Danu yang ternyata anggota Kapak Merah, sebuah organisasi bentukan Jepang di Indonesia.

Di tengah kondisi perang seperti itu, suasananya jadi chaos. Aura kebencian menguar ke mana-mana. Tak ada damai, baik di pihak Indonesia, Jepang, Belanda, maupun sekutu. Orang yang seharusnya tak berkepentingan, malah jadi sasaran. Baik Musa, Yumna, dan Mas Danu pun sama. Mereka terbawa suasana perang. Sehingga waktu keduanya menyadari fakta tak enak di masing-masing, langsung berubah jadi permusuhan. Hingga akhirnya, dengan memakan ibu Musa, ketiganya sadar bahwa--well, there's no glory in a war. Perang itu tak ada untung-untungnya sama sekali. Sadarnya mereka bertiga itulah yang akan membuat film ini diakhiri dengan ending yang luar bisa menyentuh. Tak heran film animasi ini bisa memenangkan People's Choice Award di International Movie Trailer Festival (IMTF) pada tahun 2013.

Di luar visualnya yang mengingatkan kita ke anime Jepang, sepertinya kita patut mengapresiasi para kru yang sudah membuat  "Battle of Surabaya". Dari alur ceritanya, kita jadi mempelajari sejarah negara sendiri. Terlebih soal Kapak Merah yang jarang sekali orang tahu, tapi betulan ada. Jujur saja, untuk penulis sendiri, lewat media animasi seperti ini, belajar sejarah jadi lebih menyenangkan. Sejarah jadi lebih mudah dipahami. Apalagi dikemas dalam bentuk cerita semi fiksi pula. Mungkin ke depannya harus lebih diperbanyak film-film animasi buatan Indonesia yang mengambil latar sejarah... dan dibalut fiksi.



RATE: 85 / 100

Genre: Action, Adventure, Sejarah
Produksi: STMIK Amikom, MSV Pictures
Produser: M. Suyanto
Sutradara: Aryanto Yuniawan
Pemain: Dominic, Maudy Ayunda, Reza Rahadian, Jason Williams, Tanaka Hidetoshi,...
Bahasa: Indonesia
Durasi:
Tanggal Rilis: 28 September 2014

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.