(Mungkin) Film Animasi Paling Filosofis










Selama ini, mungkin kebanyakan dari kita menganggap film animasi itu hiburan untuk anak-anak. Tak bisa diperdebatkan juga. Selain berupa gambar hasil kreasi otak kanan seseorang, film animasi (kebanyakan) juga bersifat fiksional. Namun sebaiknya juga jangan terlalu disamaratakan. Tak semua animasi cocok ditonton untuk anak-anak. Ada beberapa animasi yang kurang cocok. Ambil contoh: Crayon Sinchan dengan ceritanya yang sangat dewasa sekali dan sesekali dibumbui humor vulgar. 

Ada pula yang tak memasukkan unsur esek-esek, tapi tetap tak sesuai ditonton anak-anak. Alasannya, menurut penulis, ceritanya terlalu berat untuk dipahami otak seorang pelajar SD. Ada beberapa contohnya. Seperti "Kungfu Panda 1", "Kungfu Panda 2, dan "Toy Story 3". Ketiganya memiliki alur yang sangat filosofis. Penulis sempat meragukan ada seorang pelajar kelas 3 SD yang bisa memahami jalan ceritanya dan makna di baliknya. 

Di luar itu, ada lagi. Baru keluar pertengahan tahun ini. Sebuah film keluaran Disney-Pixar. Judulnya "Inside Out". 

Jujur, penulis ini seorang Disney-mania. Tahu betul berbagai macam film Disney mulai dari "Snow White" hingga "Wall-E". Hampir kebanyakan film Disney (pun Pixar, berhubung Disney sering bekerja sama dengan Pixar dalam hal film animasi 3D) itu filosofis. Entah itu soal soundtrack maupun soal alur cerita. Tak ayal, banyak film keluaran Disney (juga Pixar) yang begitu memorable

Kembali ke soal "Inside Out". Penulis sudah merasa tertarik untuk menonton filmnya sejak Juni lalu. Trailer-nya yang terus menerus ditayangkan tiap sebelum film utama ditayangkan, menjadi penyebabnya. Apalagi salah satu tagline-nya, "an emotion film". Ditambah lagi, salah satu ulasan seorang penulis di sebuah koran lokal yang mengatakan bahwa film animasi ini memiliki skenario yang terus digodok berkali-kali. OKAY,YOU MUST WATCH THIS MOVIE!

Sayang sekali, mungkin juga bagian dari strategi pemasarannya (atau apalah itu), film ini baru tayang sejak awal Agustus ini. Begitu melihat posternya di salah satu bioskop, langsung saja penulis membeli tiketnya. Dan... 

...YOU ARE GOING TO BE REALLY SATISFIED!!!

Belum pernah penulis merasa sepuas ini. Film animasi ini sungguh luar biasa. Sungguh menghibur, sungguh filosofis. Begitu lucu, begitu mengharu-biru. Nyaris tak ada kelemahan yang bisa penulis temukan. 

"Inside Out" dibuka dengan sebuah kisah menarik. Kalau tak jeli, mungkin kita bakal berpikir, "Apaan sih? Enggak nyambung banget!!" Tahan dulu, Sob. Mungkin ada baiknya tonton sekali lagi film in agar mengerti kenapa awal film dibuka soal kisah dua buah gunung berapi yang saling menantikan, saling berharap, saling merindukan, dan saling mencintai. Kisah itu ada hubungannya dengan cerita utamanya. Benang merahnya: EMOSI. You got it? I hope so! Nah, kisah gunung berapi itu bisa dibilang sebuah pembakar sehingga bikin kita jadi penasaran dan akhirnya menandaskan film animasi ini. 

Kalau "Inside Out" sendiri bercerita mengenai perjalanan hidup seorang gadis bernama Riley yang lahir di Minnesota, lalu pindah ke San Fransisco. Yang uniknya, film ini tidak gamblang bercerita soal Riley. Bahkan (mungkin) untuk kali pertama ada film yang tokoh utamanya tak memiliki nama belakang. Yang menjadi fokus film animasi ini ialah isi kepala dari Riley tersebut. Kita diajak untuk memahami mengapa Riley bisa bahagia, sedih, merasa terganggu (baca: disgusted), marah, dan sedih. Ternyata di balik kepala Riley, hiduplah empat tokoh imajiner yang lucu-lucu. Ada Joy, sosok gadis berwarna hijau yang karenanyalah Riley bisa senang. Lalu ada Fear, sosok pemuda ungu yang menyebabkan Riley merasa ketakutan. Anger, sosok bapak--penyebab Riley bisa marah. Disgust, sosok gadis hijau yang menimbulkan emosi khusus saat Riley merasa terganggu. Terakhir, sosok Sadness, sosok gadis cebol berwarna biru yang selalu murung. Yang terakhir itulah yang selalu dihindarkan Joy agar jangan menyentuh core memory. Karena tiap Sadness menyentuh, Riley akan sedih. 

Padahal, lambat laun, ke depannya, Joy akan sadar bahwa Sadness juga memiliki peranan dalam kehidupan Riley dari balita hingga remaja. Berkat Sadness, hubungan Riley jadi semakin akrab dengan kedua orangtuanya. Omong-omong, seringkali kita tak sadar juga akan fungsi Sadness dalam pikiran kita. Pikir kita, buat apa sih kita merasa sedih? Padahal lewat Sadness, orang lain bisa masuk ke kehidupan kita untuk bisa semakin mengenal kita. Terkadang lewat si Sadness-lah, kita bisa menjalin hubungan yang semakin baik dengan sesama kita. Justru kebahagiaan utama itu jika ada kesedihan di baliknya. Manusia sering lupa akan hal itu. Dan, baru ketika satu pengalaman tersendiri yang terjadi, yang akan membuat manusia sadar akan peran sebuah kesedihan. Percayalah, dalam diri tiap insan, selalu ada fase-fase sulit di mana seseorang akan mengalami apa yang dialami oleh Riley, yang jauh dari kata 'joy' dan no expression

Ah, sungguh "Inside Out" ini film animasi yang amat sangat berkesan. Harus segera ditonton. Temukan sendiri alasan di balik kalian bisa senang, sedih, marah, kecewa, dan takut. Film ini sangat filosofis. Dan kalau kalian memaksa untuk mengajak adik, keponakan, atau anak menonton film ini, pastikan kalian sudah dewasa secara mental untuk bisa menjelaskan beberapa bagian yang mungkin mereka akan sulit pahami, "Inside Out" sungguh film yang layak ditonton sekali. Kalian tidak akan pernah menyesal untuk membuang uang demi film ini. 

Sungguh tak sia-sia pengorbanan Disney-Pixar dalam menggodok screenplay-nya. Semoga "Inside Out" bisa setidaknya memenangkan satu penghargaan. It does really deserves that! Film ini sungguh film terbaik yang pernah dihasilkan oleh duo Disney-Pixar, setidaknya untuk kategori script



Most-Memorable Scene:
Saat Bing Bong dan Joy terjebak di sebuah lembah. Untuk menyelamatkan Joy dari lembah, Bing Bong sampai rela menghilang dari hidup Riley, asalkan Riley bisa merasakan kebahagian kembali. 




RATE: 100




Genre: Family
Produksi: Disney-Pixar
Distributor: Walt Disney Studios, Motion Pictures
Produser: Jonas Rivera
Sutradara:Pete Docter, Ronnie del Carmen
Pengisi Suara: Amy Poehler, Phyllis Smith, Bill Hader, Lewis Black, Mindy Kaling, Richard Kind, Kaitlyn Dias, Diane Lane, Kyle MacLachlan
Bahasa: Inggris
Durasi: 102 menit
Tanggal Rilis: 17 Juni 2015




No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.