"DoReMi": Kisah Persahabatan Bergelut dengan Passion








Ki-ka: Reggie-Donnette-Mikki
Judulnya lucu: "DoReMi". Kaver posternya juga lumayan mengundang. Terlebih untuk kaum Adam. Hanya saja film ini agak lumayan bermasalah di jalan ceritanya. Agak-agak berantakan. Tak berpola. Bikin kita bingung, film ini sebetulnya bercerita tentang apa. 

Tapi sebaiknya tahan dulu. Walau kesannya tak jelas premisnya itu apa, mari selesaikan film yang berdurasi selama 110 menit. Lumayan lucu juga, kok. Akting tiga pemeran wanitanya lumayan bisa bikin perut terkocok. Terutama buat Donna Cruz yang berperan sebagai Donnette Legaspi. Sebab, menurut penulis, yang paling menonjol itu Donna Cruz. Oh, jika kalian terus mengikuti filmnya sampai habis, bersiap-siaplah menyaksikan ending yang cukup menggigit. Menurut penulis sih, ending-nya lumayan mengena di hati. 

"DoReMi" ini sendiri merupakan akronim dari tiga nama toko utama wanitanya. Donnette Legaspi, Reggie Mendoza, dan Mikki Tolentino. Ketiganya berkarier sebagai seorang penyanyi. Namun bukan penyanyi yang sering tampil di televisi atau minimal radio. Mereka hanya sering tampil di bar-bar. Dan, keseluruhan cerita film ini berputar di kehidupan mereka bertiga. Khususnya soal bagaimana mereka bertiga menjalani hari demi hari untuk terus bisa eksis sebagai penyanyi. Sampai akhirnya, mereka dapat kesempatan untuk bisa berkarier di Jepang sebagai penyanyi. Sayang mimpi itu harus kandas. Sudah jatuh, ketiban tangga pula. Sudah kena penipuan, eh malah dihina-hina petugas imigrasi, dirampok di tengah jalan, dan harus hidup di sebuah desa terpencil. 

Mereka bertiga hidup di desa itu. Berkat kemurahan hati seorang bapak, mereka menyambung nyawa dengan mengelola sebuah rumah makan. Sembari mengelola, mereka juga menyuguhi hiburan ke para pengunjung lewat live performance mereka. Begitu terus mereka menjalani hari-hari mereka di desa tersebut sampai dua orang talent scout datang tak sengaja ke rumah makan itu. Rupanya dua talent scout itu sudah lama memantau bakat mereka bertiga sejak ketiganya masih bernyanyi di bar. Mereka girang bukan kepalang. Impian mereka untuk jadi penyanyi kenamaan yang sering tampil di televisi, lalu punya album sendiri, akhirnya bisa menjadi kenyataan. Sayang...

...sebetulnya takut spoiler sih. Takut mengurangi kenyamanan kalian menonton saja. Tapi kalau melihat bagaimana karakter dan latar belakang mereka bertiga, sebetulnya ending-nya bisa mulai terbaca sedikit. Pertama, Donnette Legaspi itu seorang gadis berambut pendek dengan sifat yang agak manja dan hedonisnya masih tinggi. Donnette itu seorang lulusan sekolah hukum. Ayahnya berharap dirinya bisa menjadi penerus--jadi corporate lawyer. Namun Donnette berkata lain. Yang terlihat, sosok Donnette ini seperti berada di persimpangan jalan, bingung mau apa ke depannya. Yang kedua, Reggie Mendoza, seorang gadis berambut pendek yang lumayan anggun dan berprinsip. Sayangnya Reggie ini lumayan melankolis dari teman-temannya. Mudah sekali menangis, terlebih gara-gara cowok. Dan Reggie ini yang lebih berhasrat untuk menjadi penyanyi, pun lebih sabar. Ia selalu mendapat banyak dukungan dari neneknya.

Terakhir, Mikki Tolentino. Seorang gadis berambut panjang yang tomboy dan agak benci lelaki. Gara-gara itulah, kedua temannya sempat berpikir Mikki itu lesbi. Mikki ini--ketimbang kedua temannya--amat didukung kedua orangtuanya untuk menjadi penyanyi. Saking didukungnya, ayah dan ibunya terus mengasah Mikki untuk memiliki olah vokal yang mumpuni. Sampai-sampai, Mikki sempat direndam dalam sebuah gentong penuh air. Sayangnya, terutama saat ia dan kedua temannya menjalankan rumah makan tersebut, matanya sempat melek. Ia mulai menyadari akan passion-nya yang sesungguhnya, yaitu...

...mulai terbacakah ending-nya seperti apa? Kalau belum, berarti penulisnya belum sampai spoiler dalam me-review. Mending langsung tonton saja filmnya, deh. 

Secara akting, tak terlalu bermasalah. Walau ada beberapa pemain yang kemampuan aktingnya perlu diragukan lagi. Soalnya tak terlihat alami. Soal sinematografi, apalagi soal pengambilan gambarnya, agak-agak mirip cara pengambilan kamera ala FTV begitu. Tak terlalu istimewa. Ceritanya pun sebetulnya tak terlalu istimewa (kecuali ending-nya!!!). Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, filmnya ini memiliki alur yang tak berpola. Berantakan. Kelebihannya hanya di bagian komedinya yang lumayan nendang humornya. Plus, kelebihan lainnya, para penonton akan disuguhi musical performance yang lumayan menghibur. 

Oh satu lagi, jalan ceritanya itu tak terlalu berbau FTV sebetulnya. Ada beberapa bagian dalam ceritanya yang lumayan bikin kalian mungkin akan tertegun. Seperti saat mereka diadang perampok. Atau saat Donnette yang awalnya kesal dengan seorang gadis kecil yang begitu terobsesi meniru dirinya, namun mendadak berubah jadi simpati. Dan rasa simpati itulah yang akan mengubah jalan hidupnya  ke depan. Belum lagi, saat menyaksikan bagaimana kisah persahabatan antara Donnette, Reggie, dan Mikki itu dijalin dengan sangat unik sekali. Mungkin terasa dangkal. Namun menyaksikan ending-nya, kalian semua pasti akan merasa takjub. 

Selain itu,... ah, penulis sangat terkesan dengan soundtrack film ini. Liriknya sangat indah sekali, begitu menggambarkan jalan cerita film ini. 

I can live, I can love, I can reach the heavens above.
I can right what is wrong. 
I can sing just any song. 
I can dance, I can fly, and touch the rainbow in the sky. 
I can be your good friend. 
I can love you until the end.

Film ini memang film persahabatan yang lumayan manis. Sangat cocok buat kalian memahami apa itu passion.




RATE: 85 / 100



Genre: Komedi-Musikal
Produksi: Neo Films
Distributor: Viva Video
Produser: Vic del Rosario, Jr., Eric M. Cuatico
Sutradara: Ike Jarlego Jr. 
Pemain: Donna Cruz, Regine Velasquez, Mikee Cojuangco, Gloria Romero, Gary Estrada
Bahasa: Tagalog dan Inggris
Durasi: 110 menit
Tahun Rilis: 1996

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.