10 Pesan Moral dalam "Pixels"






Lihat scene ini, kayak lagi main video game deh! :p




Dari poster, "Pixels" (2015) ini memang terlihat sebagai film anak-anak. Komikal sekali. Apalagi dengan penampakan si Pac-Man yang sampai sekarang game-nya masih eksis. Namun tidak dengan isi ceritanya. Ada beberapa scene dari film yang rilis pertama pada 24 Juli 2015 ini yang harus dihindari mereka yang berusia di bawah 13 tahun. Entah itu secara adegan maupun dialog. Kalau saja tidak ada adegan dan dialog khas film dewasa, film ini seratus persen aman ditonton oleh para pelajar SD. Ada banyak pesan moral yang bisa dipetik. Seperti kesepuluh pesan moral yang berhasil penulis dapatkan. Yuk disimak!






1. Jangan menyepelekan pekerjaan apa pun.
Secara teori, tiap orang setuju bahwa tiap pekerjaan itu sama pentingnya. Namun tidak secara praktiknya. Ada saja mereka yang nyinyir dengan beberapa pekerjaan tertentu yang menurut mereka itu begitu hinanya. Sama seperti Sam Brenner yang bekerja di sebuah jasa yang bergerak tak jauh dari hobi masa kecilnya, ng-game. Awalnya, sewaktu mengunjungi rumah pelanggannya, Sam terlihat diremehkan. Tapi setelah keahlian bermain game-nya menyelamatkan dunia, segalanya berubah. 



2. Curang itu tak baik, kakak!
Walau pada dasarnya yang namanya cheat itu memang sudah sengaja dibuat oleh para pengembangnya, tetap saja jangan pernah menggunakan cheat. Nanti bakal kecanduan seperti Eddie Plant yang cebol. Lantas berlanjut menjadi seorang penipu yang berakhir di balik jeruji besi. Memang segala hal yang kita lakukan itu tak langsung menuai akibatnya. Akibatnya--apabila terus melakukannya, yah di masa depan. Penyesalan selalu datang terakhir. 



3. Bahkan orang besar pun bisa bertingkah konyol
Memang terasa hiperbolis sekali. Namun adegan saat Toru Iwatani tengah bernegoisasi dengan ciptaannya, Pac-Man itu ingin sekali mengatakan bahwa terkadang orang besar (atau terkenal) pun bisa melakukan hal-hal bodoh nan konyol. Jadi jangan terlalu silaulah dengan nama besar beberapa orang tertentu. Mereka juga manusia biasa, kok. 



4. Apa pun bisa terjadi di dunia ini. Jadi jangan berhenti berharap.
Sama seperti Ludlow Lamonsoff yang lebih aneh dari Sam Brenner. Ludlow yang dijuluki "Wonder Kid" ini amat mencintai tokoh fiksi dalam sebuah game yang bernama Lady Lisa. Ia sangat berharap bahwa suatu saat Lady Lisa bisa hidup, lalu bakal ia kencani. Khayalannya jadi kenyataan saat Bumi dianeksasi oleh sekelompok alien aneh. 

Selain Ludlow, Will Cooper pun sama. Will yang sebetulnya agak bodoh ini, malah menjadi seorang presiden Amerika Serikat. 



5. Jangan terjebak dengan teori-teori yang ada.
Awalnya Sam selalu berpatokan bahwa tiap game itu selalu memiliki pola-pola tertentu. Karena itulah, ia begitu lihai bermain game. Sampai akhirnya, saat dunia sudah berubah, dan game-game semakin canggih, di tambah lagi ekspansi para alien, Sam menyadari satu hal: ia harus berpikir out of the box. Lagipula dalam hidup pun kita harus berpikir seperti itu, bukan? Jangan sekali-kali kita hanya berpatokan ke teori-teori yang sudah kita pelajari. Ilmu juga terus berkembang. 



6. Kesempatan kedua selalu ada.
Eddie Plant memang telah curang. Ia juga sadar dirinya sebetulnya tak lebih jago dari Sam Brenner dalam hal bermain video game. Makanya demi bisa mengalahkan Sam, ia menggunakan cheat yang keterusan sampai berada di penjara. Dan, saat sadar akan kekeliruannya, Eddie tetap dipercaya teman-temannya untuk menyelamatkan planet Bumi. 



7. Jangan sekali-kali menutupi perbuatan-perbuatan buruk. Suatu saat pasti akan terbongkar.
Kebiasaan Eddie Plant yang suka menggunakan cheat itu terbongkar saat dirinya beranjak dewasa. Oleh seorang bocah yang juga hobi bermain game, kebiasaan Eddie itu terungkap. Pun terungkap oleh para alien tersebut. Walau pada intinya sih, apa pun yang kita lakukan--baik maupun buruk, percayalah, suatu saat akan terungkap.



8. Tak selamanya hobi bermain game itu buruk.
Bahkan Sam Brenner yang dulu piawai bermain game (walau harus menjadi teknisi di sebuah perusahaan video game), bisa menjadi penasehat pribadi seorang presiden Amerika Serikat. Berlebihan memang. Namun bukankah sudah banyak kajian yang mengatakan bahwa bermain game itu bisa mengasah keterampilan berpikir kita? 



9. Jangan terlalu membenci seseorang.
Sebetulnya Sam Brenner masih membenci Eddie Plant. Namun saat Bumi tengah dalam masa kondisi siaga satu, Sam malah teringat pada Eddie Plant yang dulu mengalahkan dan sempat mengolok-olok dirinya. Pula Eddie memiliki peranan saat pasuka alien itu berhasil dikalahkan. 



10. Indahnya persahabatan baru akan terlihat setelah melewati masa-masa sulit.
Sama seperti Sam Brenner, Will Cooper, Ludlow Lamonsoff, hingga Eddie Plant yang bahu membahu menyelamatkan Bumi dari serangan alien. Mereka saling menolong dan memahami satu sama lain. Ganjarannya, sebuah pesta di halaman White House untuk mereka berempat.




Begitulah kesepuluh pesan moral yang berhasil penulis dapatkan dari film yang dibintangi oleh Adam Sandler ini. Film berdurasi 105 menit ini lumayan menghibur. CGI-nya lumayan rapi, walau masih terlihat bolong-bolong di beberapa scene. Agak berlebihan, tapi ini kan film komedi. Sepertinya juga (kalau beberapa adegan disensor) "Pixels" ini memang ditujukan ke anak-anak. Jadi wajar kalau berlebihan alur ceritanya. Satu lagi, film ini sepertinya pun berusaha mengajak kita bernostalgia akan game-game klasik seperti Pac-Man, Mario Bross, hingga Tetris. Apalagi beberapa game klasik sudah punah juga.

Akhir kata, setelah menimbang-nimbang, penulis akhirnya memberikan nilai 80 untuk film yang disutradarai oleh Chris Columbus lewat sebuah production house bernama Columbia Pictures. 

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.