"Viva JKT48" yang Memarodikan Dunia Ngidol







Aduh, Yupi!!! Dikau unyu-unyu sekali!!! xD
JKT48 itu girlband Indonesia yang sekarang ini tengah naik daun. Oke, terserah penulis mau menyebut JKT48 itu girlband. Kalau dipikir, sebetulnya penyebutan idol group itu--setelah melakukan banyak riset--memang sama dengan girlband. Konsepnya sama, tidak jauh beda. Di Jepang, idol group disebut sebagai girlband. Korea pun sama. Kalau di Indonesia, Girls Generation itu dikatakan sebagai girlband. Di Korea, tak sedikit yang menyebut Girls Generation sebagai idol group. And, please tell me perbedaan spesifik antara girlband dengan idol group. Sama-sama menghibur para penonton dengan keahlian dance dan menyanyi. Pula sama-sama berisi sekelompok perempuan yang memang sudah dipilih yang berpenampilan aduhai. Jika ada perbedaannya, hanya segelintir. Ambil contoh: kebanyakan idol group (kita mengacu pada yang di Jepang) itu memiliki persaingan yang cukup ketat secara intern. Maksudnya, tiap member harus bersaing pula untuk bisa tampil di MV--atau meraih popularitas di kalangan fan. 

Fixed. Walau sebetulnya bukan itu maksud dari artikel ini. Anggap saja itu hanya intro. 

Berhubung JKT48 itu namanya mulai menanjak sejak 2013, sejak "RIVER" dan "Koisuru Fortune Cookie" diluncurkan, ada rumah produksi yang rupanya mau memanfaatkan ketenaran JKT48. Kalau tak salah ingat, Desember 2013 pernah ada sinetron yang menjadikan single Koisuru Fortune Cookie sebagai opening theme-nya. Judul single pun digunakan sebagai judul sinetron itu. Apesnya, tak ada satu member yang ikut ambil bagian dalam sinetron tersebut. Miris! 

Tak hanya satu, tahun 2014 ada rumah produksi yang tertarik pula. Kali ini JKT48 benar-benar dilibatkan. Maxima Pictures tertarik untuk menciptakan satu film khusus JKT48. Dan wota-wota mulai teriak-teriak kesenangan sejak Januari (padahal filmnya baru rilis Juni 2014). Ekspektasi para wota terlalu berlebihan. Kenyataannya setelah rilis, wow, tak sedikit para wota yang hanya bisa menggigit-gigiti lightstick mereka. Filmnya tak cukup bagus (kalau kata buruk terlalu kasar). 

Jujur, khusus penulis sendiri, "Viva JKT48" itu memang sudah terlihat sebagai film khusus fan. Dari kaver sudah menunjukan, bukan? Ada beberapa member--seperti Melody, Nabilah, Haruka, Shania, Ayana, Yupi, Ayen dan Ayana yang terlihat berdiri dekat tirai tebal khas teater JKT48. Apalagi mereka semua tampil dengan kostum panggung mereka--seragam kotak-kotak. Dari trailer semakin terlihat bahwa film itu memang khusus fan. Itulah sebabnya, penulis enggan untuk beli tiketnya. Oh please, penulis bukan wota. Penulis nyaris belum pernah datang ke teater. Beli CD mereka pun hanya sekali, yaitu pas "Flying Get" rilis. Nama-nama tiap member juga tidak hapal. Masih suka tertukar antara Jessica Veranda dan Shania Junianatha. 

Yang bikin penulis mau juga menonton filmnya, yah karena sosok Nobuyuki Suzuki, aktor keturunan Jepang. Penulis masih terkesan dengan akting beliau di salah satu film Indonesia yang dia ikut ambil bagian. Salah satunya di "Soegija". Hanya itu. 

Alasan lainnya: well, karena Haruka Nakagawa. Entah mengapa segala yang berbau dengan Harugon itu pasti bisa bikin penulis tertawa lepas. 

Alasan lain berikutnya: para wota banyak mengajukan protes. "Kenapa 'Viva JKT48' kayak ini?", "Jelek banget!", "Ceritanya nggak masuk akal banget!", dan masih banyak kalimat protes lainnya. 

Oke, tiga alasan itu sudah cukup untuk bikin penulis harus mengintip filmnya lewat Youtube. Dan, memang "Viva JKT48"  ini jatuhnya B-Movie. Kualitas gambarnya tak jauh berbeda dengan FTV. Screenplay-nya hanya untuk memuaskan para wota yang rupanya sulit untuk dipuaskan. Mungkin para wota berharap "Viva JKT48"  bisa seperti "Majisuka Gakuen"-nya AKB48 yang memang harus penulis akui "Majisuka Gakuen" memang film khusus fan yang kelewat bagus. Niat sekali pembuatannya. Bahkan bisa dinikmati untuk mereka yang bukan wota 48 Group sekalipun (kalau mau). 

Sebetulnya "Viva JKT48"  ini film yang bagus. Tak terlalu mengecewakan. Serius, ini film yang bagus. Premisnya itu lumayan menarik. Ada kebaruan juga dalam filmnya. Hingga empat puluh lima menit penayangan, penulis merasa terhibur dengan alur ceritanya. Selama menonton, penulis merasa film ini mungkin seperti "Mousou Deka", film khusus wota-nya SKE48 yang merupakan sebuah parodi. Yup, begitulah "Viva JKT48"  di mata penulis: sebuah film parodi (yang kalau digarap dengan baik sekali, film ini pasti bisa menyaingi "CJR The Movie", film khusus fan lainnya di Indonesia). 

Kenapa penulis bilang "Viva JKT48"  ini film parodi? Jadi begini, beginilah ceritanya.

Tiba-tiba JKT48 dibubarkan secara sepihak oleh Kejora (Ayu Dewi). Penggemar yang telah menunggu-nunggu penampilan JKT48 harus kecewa karena idolanya digantikan oleh idol group baru bernama BKT48, yang mana selain Meirayni Fauziah yang berperan sebagai Vega, member-member BKT48 lainnya tetap diperankan oleh member-member JKT48. Seperti Delomy, Balinah, Anayah, Nashia, Kahura, dan Ivayu; yang kalau kalian jeli, itu plesatan dari Melody, Nabilah, Ayana, Shania, Haruka, dan Yuvia. Singkat cerita, keenam member ini langsung down. Entah bagaimana caranya, dari seorang member JKT48 yang amat sangat dipuja tiap fan, keenam member itu jadi seperti gelandangan. Ya ampun, pembodohan sekali, keenam member itu kan juga punya rumah dan keluarga. Kalau teaternya diambil alih dan JKT48 dibubarkan, ya sudah lupakan. Konsentrasi saja ke urusan pendidikan dan kejar mimpi-mimpi yang lain. Masa sampai harus menggembel di sebuah minimarket yang dijaga oleh Babe Cabita sih? 

Namun sebelum jadi luntang-lantung dan merepotkan Babe Cabita, Kejora menantang para anggota JKT48 untuk mengumpulkan uang sebesar satu miliar rupiah jika ingin membeli kembali posisi mereka. Awalnya keenam member bingung bagaimana caranya. Apalagi manajer mereka, Takeshi-san (Nobuyuki Suzuki) juga sudah terlihat hopeless. Alhasil mereka semua pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa lagi selain bengang-bengong di minimarket. 

Rupanya dari antara para wota yang mulai beralih ke BKT48 yang lucu-lucu (apalagi Ivayu yang menggemaskan sekali), ada tiga wota yang masih setia dengan JKT48. Saking setianya, mereka rela membantu keenam member untuk mendapatkan kembali teaternya. Adalah Oi (Mario Maulana), Bobby (Bobby Samuel), dan Miko (Stephanus Tjiproet) yang luar biasa sekali perhatiannya--bagaikan tidak ada kerjaan lain saja. 

Ah, ada satu yang bikin heran. Seingat penulis, member JKT48 itu kan berjumlah lebih dari enam orang. Mana yang lain? Mana Yayang Jessica Veranda yang cantik jelita bagaikan bidadari itu? Mana pula Jessica Vania, Dhike, Kinal, Shinta Naomi, Sinka Juliani, hingga Thalia. Ke mana mereka? Kenapa beberapa dari mereka baru  muncul saat menjelang ending? Teman macam apa itu yang membiarkan temannya jadi hidup menggembel di sebuah minimarket. Kan kasihan si Babe. Nah, itu salah satu bagian yang tidak logis dari "Viva JKT48".

Namun, karena penulis sudah mulai terhibur dengan segala aksi komikal para pemeran, terlebih Oy, Bobby, dan Miko, segala ketidaklogisan dalam "Viva JKT48" itu menguap begitu saja. Komedinya sih lumayan lucu. Apalagi sejak bagian BKT48 itu tampil, penulis sudah merasa bahwa "Viva JKT48" itu memang film parodi yang memarodikan dunia ngidol. Bahkan aturan anti cinta (renai kinshi jourei) itu juga dijadikan sebagai guyonan. Penulis lupa yang mana, tapi waktu salah satu dari Oy, Bobby, dan Miko itu tengah dekat dan hampir bermesraan dengan Melody, teman-temannya cemburu. Bagian itu bikin penulis geli. Ya ampun sampai sebegitunya. Kalau penulis sih masa bodoh yah. Penulis lebih tertarik dengan output yang dihasilkan daripada hal-hal lainnya. Kalau memang lagunya bagus dan enak diikuti, yah penulis bakal mati-matian untuk membeli kaset, CD, hingga merchandise-merchandise lainnya. Tapi memang begitulah dunia fandom, persis seperti yang dipertunjukkan oleh Oy, Bobby, dan Miko tersebut.

Kelebihan "Viva JKT48" ini karena sang sutradaranya sedikit memasukkan aksi panggung JKT48. Jadi, "Viva JKT48" ini memiliki sedikit unsur untuk dikatakan sebagai film musikal. Kelebihan lainnya: humornya lumayan nendang walau ada beberapa yang terasa jayus. Dan, sepertinya hanya itu kelebihan dari "Viva JKT48", selain hanya untuk memuaskan eargasm dan eyegasm semata.

Sisanya, "Viva JKT48" ini banyak sekali kelemahannya. Storyline-nya yang kacau sekali. Pengambilan gambar yang tak ada yang istimewa. Visualnya yang setara FTV. Hingga akting tiap member yang sungguh payah. Untuk penulis sendiri, walau dari judul--film ini memang didedikasikan untuk JKT48, sepertinya dalam film ini yang begitu menonjol itu justru para pemain di luar member JKT48. Terutama untuk trio Oy-Bobby-Miko. Sorry to say, tak ada satu pun member yang memiliki kemampuan akting yang sangat menonjol di "Viva JKT48". Semua member JKT48 sungguh terkerdilkan di "Viva JKT48". Miris (lagi-lagi)!

At last, penulis tetap merekomendasikan film ini untuk ditonton, terlebih untuk wota garis keras yang sebegitu fanatiknya dengan JKT48 sampai-sampai menduakan Tuhan, keluarga, teman, hingga kekasih (kalau ada). Film ini cukup lucu dan menghibur, kok! Sungguh film parodi yang luar biasa menghibur kalau sudah tidak ada lagi stok film komedi yang lumayan berbobot. =D

Oh yah, menyimak komentar pihak rumah produksinya, sekali lagi penulis merasa geli. Bagaimana bisa berharap lebih dari sebuah B-Movie yang syutingnya itu hanya berjalan selama tiga belas hari? Are you kidding me? -_-


RATE: 60 / 100



Genre: Komedi, Musikal
Produksi: Maxima Pictures
Distributor:  Maxima Pictures
Produser: Yoen K
Sutradara: Awi Suryadi
Pemain: Ayu Dewi, Meyrayni Fauziah, Stephanus Tjiproet, Bobby Samuel, Mario Maulana, Nobuyuki Suzuki, Yanda Djaitov, Babe Cabita, Soleh Solihun, Melody Nurramdhani Laksani, Nabilah Ratna Ayu Azalia, Ayana Shahab, Cindy Yuvia, Haruka Nakagawa, Rona Anggaraeni, Shania Junianatha,... 
Bahasa: Indonesia
Durasi: 90 menit
Tanggal Rilis: 5 Juni 2014

3 comments:

  1. Hahaha...
    Justru tertarik sama tulisan ini dibanding review filmnya

    Koq iso...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah makasi, haha. Kirain selama ini banyak yang ngira suka spoiler.

      Delete

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.