"The Gallows" yang Super Duper Menakutkan








Salah satu adegan pamuncak dalam "The Gallows" yang bakal
bikin kalian benar-benar bergidik 
Sudah jelaslah sudah betapa sang penulis membenci IMDb, Rotten Tomatoes, Metacritic, dan segala situs yang memberikan penilaian ke tiap film yang beredar. Karena kenapa, alasannya satu: penulis tidak bisa mempercayai lagi tiap nilai yang mereka berikan. Bukan terkadang lagi, tapi sudah sering situs-situs seperti itu memberikan penilaian yang berbeda dari kenyataan. Alhasil penulis lebih memilih untuk mengikuti kata hatinya dalam memilih film apa yang bakal ditonton. Acuannya: trailer, sinopsis, kaver, dan chemistry

Sama seperti "The Gallows" yang pada tanggal 11 Juli kemarin, penulis tonton di Blitz Megaplex Teraskota. Film ini jika kita mengacu pada situs-situs yang tadi sudah disebutkan, babak belur. 4,5 oleh IMDb; lalu 16% oleh Rotten Tomatoes. Padahal film ini sewaktu menonton tak begitu buruk. Lumayan seram dan menegangkan. Buntutnya, selepas menonton, penulis jadi seperti habis treadmill selama empat puluh lima menit. Bahkan salah satu penonton sampai menundukkan kepala dengan lesunya sekeluarnya dari studio. Film ini sungguh penuh dengan jumpscar dan twist

"The Gallows" bercerita mengenai sekelompok anak-anak teater di SMA Beatrice ingin menampilkan drama "The Gallows" lagi. Dulu, dua puluh tahun silam, drama ini pernah dibawakan. Sayang jadi hancur berantakan. Entah bagaimana caranya, salah satu murid yang bernama Charlie, memilih untuk mengakhiri nyawanya sendiri di sebuah tali gantungan yang disebut the gallow. Keanehan lainnya--yang baru disadari salah seorang murid yang gila merekam bernama Ryan Shoos, ada satu penonton mencurigakan yang ternyata salah seorang pemeran dalam pertunjukan terdahulu. Lalu, ada satu pintu yang selama ini terbuka. Padahal menurut Ryan, seharusnya terus terkunci karena memang pintu itu tak pernah dilewati siapapun. 

Ceritanya mulai seru saat Ryan Shoos, Reese Mishler, dan Cassidy Spilker itu datang ke gedung pertunjukan malamnya untuk menghancurkan setnya. Entah apa maksudnya, mungkin karena dendam atau apalah itu. Di saat penyabotasean itu, Pfeifer Ross datang. Oleh Reese dijelaskan akar masalahnya. Pfeifer sempat jengkel. Tapi ya sudahlah, itu tidak membuat Pfeifer pergi untuk melaporkan ulah teman-temannya ke pihak sekolah. Di saat itu, mereka berempat mulai merasakan adanya keanehan. Tiap barang yang mereka rusak, entah mengapa pulih lagi seperti semula. Hingga Reese menyadari satu hal soal Charlie dan juga ayahnya yang ternyata seharusnya terlibat dalam drama dua puluh tahun lalu. Sayang urung karena berhalangan. Gara-gara fakta yang Reese temukan sekeluarnya dari ruangan aneh nan misterius, Reese merasa jiwanya terancam. Yang lain pun sama. Mereka mulai merasa aura dalam gedung pertunjukan itu semakin aneh saja. 

Entah "The Gallows" ini terinspirasi atau memang dari kisah nyata seperti "Paranormal Activity", akibat dari penggunaan teknik hand held, penulis sempat merasa jangan-jangan "The Gallows" ini memang dari kisah nyata. Namun sirna setelah melihat beberapa adegan yang terasa janggal jika pengambilannya itu memang dari pengalaman nyata. Oh, penggunaan teknik hand held ini juga luar biasa. Tak lazim untuk sebuah film horor. Tapi cukup efektif untuk memberikan terapi kejut ke tiap penonton. Justru jumpscar-nya itu muncul karena teknik hand held ini. Memang rada aneh, namun penulis merasa penggunaan teknik hand held yang begitu dominan ini benar-benar menjadi kunci kesuksesan dari "The Gallows". 

Dibandingkan film-film horor lainnya, efek musik dalam "The Gallows" ini tak terlalu dominan. Sedikit sekali penulis temukan efek-efek suara khas film horor yang bikin bulu kuduk berdiri. Justru teknik hand held itulah faktor utamanya. Dan, oh satu lagi, kebrilianan sang sutradara dalam memberikan twist di saat-saat yang tepat. Efek visualnya juga pas, tidak berlebihan sama sekali. Tak ada penampakan makhluk supranatural yang seringnya terlihat mulai klise dan berlebihan. Justru di sini, biang ketakutannya itu tak berwujud aneh dan menyeramkan. Sedikit bocoran, si 'hantu'nya malah mengambil wujud seorang algojo di era pertengahan--lengkap dengan penutup kepalanya. Kurang seram kan? Penulis merasa"ya". Namun kemunculan si algojo itu tepat sekali untuk memberikan para penonton efek ketakutan yang luar biasa. 

Soal kemampuan akting, nyaris mendekati sempurna. Sampai-sampai--yah itu dia--penulis merasa "The Gallows" ini memang diangkat dari kisah nyata. Beberapa adegan awal malah menggiring penulis ke opini tersebut. Dimulai dari diceritakan kehidupan Ryan, Reese, Pfeiffer, dan Cassidy di sekolah mereka. Ryan malah digambarkan sebagai seorang murid SMA yang jahil dan agak-agak pandir begitu. Ketiga temannya itu sungguh memiliki karakter yang kuat. Malah lucunya lagi, mungkin juga karena disengaja, nama-nama tokoh itu diambil dari nama pertama dari pemerannya. Walhasil penulis merasa "The Gallows" ini diangkat dari kisah nyata. Walau setelah riset, film ini murni rekaan saja. Meskipun tiap krunya mengaku bahwa mereka sering mengalami banyak kejadian aneh di lokasi syuting. Bahkan di beberapa scene tampak jelas adanya penampakan. 

"The Gallows" ini sungguh memiliki unsur menyeramkan (horor), tegang (thriller), dan menyayat hati--plus bikin perut mual (slasher). Sungguh hiburan yang paling tepat jika kalian butuh satu film yang benar-benar bikin kalian sulit tidur di malam harinya; atau setidaknya bikin napas ngos-ngosan setelah menontonnya. 

Tak ada penampakan hantu dengan make-up yang kacau. Tak ada efek-efek suara yang bikin jantung berdebar-debar. Tak ada pula kejadian-kejadian aneh yang biasanya menjadi awal dari keseruan sebuah film horor. Segalanya berjalan apa adanya, seapa adanya sebuah film yang dibuat dengan teknik penggunaan kamera selayaknya handy-cam. Seperti itulah "The Gallows". Semuanya hanya butuh kejelian dan ketepatan waktu saja. 



RATE: 100



Genre: Horor
Produksi: New Line Cinema, Blumhouse Productions, Management 360, Tremendum Pictures
Distributor:  Warner Bros Pictures
Produser: Jason Blum, Travis Cluff, Benjamin Forkner, Chris Lofing, Dean Schnider
Sutradara: Travis Cluff dan Chris Lofing
Pemain: Reese Mishler, Pfeifer Brown, Ryan Shoos, Cassidy Gifford,... 
Bahasa: Inggris
Durasi: 81 menit
Tanggal Rilis: 30 Juni 2015 (saat Fresno Premiere), 10 Juli 2015 (di Amerika Serikat)

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.