"Midnight Sun": Salju yang Tak Selamanya Dingin






Jika dilihat dari posternya, entah mengapa penulis teringat pada "Alaska" yang rilis pada tahun 1996. Film yang disebutkan terakhir itu bercerita mengenai dua orang anak yang berkelana hingga Alaska demi menyelamatkan sang ayah yang berjuang hidup dan mati di sana. Mereka melakukan itu karena tak mau kehilangan ayahnya. Apalagi ibu mereka sudah meninggal sejak si bungsu lahir.

Nah, kurang lebih begitulah "Midnight Sun"  bercerita. Premisnya agak mirip dengan "Alaska". Tak hanya itu sebagian kecil dari story line-nya pun sama. Namun jangan langsung menghakimi sebuah film karena kesamaan beberapa unsur. Tak selamanya memiliki kesamaan itu identik dengan plagiarisme (baca: tukang tiru). Tahan dulu. Sebab "Midnight Sun"  ini juga layak ditonton.

"Midnight Sun"  bercerita tentang seorang pemuda bernama Luke yang hidup di rumah bibinya bersama-sama dengan kakaknya, Abbie. Ibunya tak bersama dia dan kakaknya karena alasan pekerjaan. Ayahnya sudah lama meninggal akibat suatu insiden yang nanti saat menjelang ending, penonton bakal tahu. Tapi yang jelas, apa yang dilakukan Luke terhadap seekor anak beruang kutub itulah yang kurang lebih dilakukan pula oleh ayahnya. Mereka rela berkorban demi pihak lain.

Suatu ketika, seperti yang sudah dijelaskan, Luke bertemu dengan seekor beruang kutub betina. Di matanya, si beruang kutub itu jinak. Namun tidak untuk beberapa aparat yang menangkapnya. Dalam hati kecilnya, Luke tak tega. Namun apa daya, dia hanya seorang remaja yang pendapatnya sering dianggap remeh. Si beruang kutub itu dibawa pergi.

Tapi ternyata si beruang kutub itu membawa anaknya. Di salah satu ruangan dari gedung kosong, Luke bertemu dengan anaknya. Sekonyong-konyong Luke merawatnya hingga beranjak besar. Awalnya ia tak menemui kendala. Hingga akhirnya bibinya mendapati tahu, lalu bersikeras menyuruh Luke membuangnya. Luke tak setega itu. Namun dia juga masih menaruh respek ke bibinya. Jalan keluar lain: si anak beruang kutub itu dibawa ke sebuah penitipan yang dijaga oleh seorang Inuit kenalan ayahnya yang bernama Muktuk.

Walaupun demikian itu hanya sementara. Berikutnya muncul ide bahwa Luke harus membawa anak beruang kutub itu induknya yang sudah dipulangkan ke habitatnya yang berada di utara. Mendapat tentangan sih. Luke tak gentar. Ia malah pergi sendiri terus menuju utara sambil membawa si anak beruang kutub yang diberi nama Pazoo. Rintangan demi rintangan telah dilaluinya. Luke tetap bersikeras melanjutkan perjalanannya. Mulai dari badai salju, bertemu pemburu liar, hingga nyaris mati. 

"Midnight Sun" ini memang film keluarga. Nyaris tak ada satu adegan pun yang layak disensor demi kepentingan pendidikan anak-anak. Tak ada sex scenes. Tak ada adegan-adegan sadis pula. Aman ditonton bersama anak-anak. Malah anak-anak bisa dibiarkan menonton sendiri. 100% aman. Film ini justru menginspirasi mereka untuk jangan takut mengikuti kata hati mereka walau mendapat tentangan dan rintangan. Dan bahwa menolong itu--selama positif tujuannya--tak salah untuk dilakukan.

Penulis suka dengan ending-nya. Sangat mengharu-biru. Lumayan mengena di hati. Kemampuan akting pemain nyaris tak ada satu pun yang mengandung cacat cela. Termasuk dengan binatang-binatang yang terlibat (meskipun beberapa terlihat hasil dari computer graphic). Binatang-binatang itu sungguh terlatih. Soal alur, tak munafik pula, filmnya agak membosankan di tengah-tengah penayangan. Terlihat alurnya berjalan begitu lambannya. Kurang konflik yang bisa memaksa tiap penontonnya mau menyelesaikannya sampai credit title.

Selain itu, visual dari "Midnight Sun" itu lumayan ciamik. Memang ada beberapa semacam noda yang muncul di kamera. Itu mengganggu sejujurnya. Namun setelah dipikir-pikir, noda-noda seperti itulah yang membuat tiap penonton jadi merasa seperti di daerah salju betulan. Penggunaan angle-nya lumayan luar biasa. 

Kalau bicara soal twist, "Midnight Sun" punya lumayan banyak. Cukup tak bisa ditebak alurnya walau beberapa ada mudah tertebak. Tapi mari kita kembali ke genre film ini yang sebuah film keluarga. Mungkin tujuan film ini untuk sebuah perenungan tentang pentingnya menolong pihak-pihak yang membutuhkan. Pula tentang pentingnya mengikuti nurani sendiri.

Nilai plus lainnya dari "Midnight Sun" ialah penonton diajak untuk mengenali beberapa hal soal Inuit. Tak gamblang memang. Tapi lumayanlah kita--sebagai penonton--jadi tahu soal adat istiadat, kebiasaan, dan budaya Inuit.

Last but not least, film ini cocok ditonton bareng keluarga di momen-momen liburan yang istimewa. Ada satu quote penting yang intinya seperti ini:

"Tak peduli akan diremehkan oleh orang lain, aku lebih memilih untuk mengikuti kata hatiku sendiri." 

"Midnight Sun" memang film yang sederhana, tapi cukup untuk ditonton. Bukan film sembarangan. Dan, ada satu yang ingin disampaikan. Bahwa salju tak selamanya dingin. Terkadang salju bisa menghangat. Apalagi jika ada perbuatan baik dilakukan di atas hamparan salju-salju. 


RATE : 85 / 100



Genre: Family
Produksi: Hyde Park Entertainment, Imagenation Abu Dhabi FZ, Media Max Productions, Original Pictures, Rob Heydon Productions 
Distributor: Prorom Media-Trade, Alliance Atlantis Communications, Lumix Media, Medusa Distribuzione, Pinema  
Produser: Rob Heydon dan Karine Martin
Sutradara: Roger Spottiswoode dan Brando Quilici
Pemain: Dakota Goy, Goran Visnjic, Bridget Moynahan, Kendra Timmins, Russell Yuen, Duane Murray,... 
Bahasa: Inggris
Durasi: 120 menit
Tanggal Rilis: 21 September 2014

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.