Dipersatukan oleh Kucing dalam "Cat A. W. O. L."






Enggak didandani seperti ini pun, pemeran Mayo-nya memang sudah cantik. 
Untuk sekarang ini, kalau bicara film-film romance, mari lupakan segala produksi Hollywood. Mulailah melirik negara-negara Asia. Terutama dari Korea Selatan dan Thailand. Kedua negara itu sanggup menciptakan film-film bernuansa cinta-cintaan yang lumayan segar dari sesuatu yang (mungkin) bersifat klise. Alur cerita yang ditawarkan menarik. Menarik di sini bukan hanya berarti bisa mengundang gelak tawa. Namun BENAR-BENAR MENARIK. Sehingga mau tak mau memaksa kita untuk menamatkannya.

Termasuk film Thailand yang rilis baru-baru ini di Blitz Megaplex. Judulnya "Cat A. W. O. L.". Seperti yang sudah tertera di poster, film ini bukan film tentang cinta. Meskipun penulis berani jamin para cat-lovers pasti akan menyenangi film ini. Ada satu adegan di mana kita bisa memuaskan beragam jenis kucing yang lucu-lucu. Sisi positif lainnya: kita jadi tahu bagaimana cara kerja industri periklanan. Walau itu juga tak terlalu mendetail.

Kalau soal cerita cintanya, yah namanya juga kisah cinta. Kebanyakan selalu begitu: itu-itu melulu yang dibahas. Soal naksir-jatuh cinta-pendekatan-nembak-putus-patah hati-cinta segitiga-selingkuh. Apalagi kalau bukan soal itu semua. Di mana-mana yang namanya konflik cinta, pasti selalu berhubungan dengan itu semua. Kalau ada yang terlewatkan, tolong dimaafkan. Penulis hanya manusia biasa (yang juga butuh cinta).

"Cat A. W. O. L." ini bercerita mengenai seorang mahasiswi Komunikasi yang harus menjalani proses magang di sebuah perusahaan periklanan. Nama mahasiswi itu Mayo. Ia datang dan lalu diwawancarai oleh salah seorang asisten sutradara bernama Mor. Bingung juga kenapa Mayo di akhir wawancara itu malah ditanyai soal status asmaranya--masih lajang atau tidak. Tapi jika melihat keseluruhan alur cerita, penulis mulai merasa menemukan jawabannya.

Dan, sewaktu Mayo datang, perusahaan periklanan tengah mengurus sebuah iklan dari perusahaan mi instan. Awalnya mereka menggunakan jasa manusia sebagai bintang iklannya. Namun salah seorang yang terkait dengan kliennya itu berpikir lain. Seorang pengusaha Jepang yang eks Yakuza minta supaya bintang iklannya itu kucing peliharaannya yang bernama Johnny. Sebelumnnya hal itu tak langsung diberitahukan. Si eks Yakuza itu hanya bilang bahwa dia ingin iklannya itu dibintangi oleh kucing, bukan oleh manusia. Sempat bikin kelabakan kru-krunya juga. Karena harus mencari kucing-kucing yang bisa berdiri dan main pedang. Apalagi si eks Yakuza juga emoh menggunakan teknik CGI.

Sebetulnya pas diberitahukan bahwa si eks Yakuza itu memiliki kucing yang dimaksud, itu lumayan membantu. Tapi tetap saja bikin tiap kru pusing tujuh keliling. Sebab Johnny itu kucing yang banyak maunya, susah diatur. Belum lagi saat tiap kru lagi pusing bagaimana caranya menangani Johnny, sang  sutradara, Mor ada masalah pula. Masalah cinta; ia baru patah hati.

Sementara itu, harus penulis akui, chemistry yang terjalin antara Mayo dan Mor juga masih kurang kuat. Kurang begitu jelas apa sebabnya dan sejak kapan Mayo mulai suka sama Mor. Yang jelas, di film, hanya ditunjukkan bahwa Mayo mulanya hanya memendam rasa tanpa berani menyatakannya. Agak sedikit janggal juga, perasaan Mayo begitu cepat berubah dari kagum, ke naksir, lalu murni jatuh cinta. Begitu cepatnya kisah cinta itu dibangun. Walhasil penulis kurang merasakan apa yang dialami baik oleh Mayo maupun oleh Mor.

Meskipun ada kata-kata Mayo yang cukup nancep. Itu: "Aku tidak tahu apakah perasaanku ini benar-benar ada, atau hanya di pikiranku saja (baca: delusi)." Seringkali saat lagi naksir seseorang, kita pun seperti Mayo. Tapi yang namanya persoalan asmara memang begitu. Sulit dibedakan antara kagum, suka, dan cinta.

Di luar konflik cintanya, justru penulis amat sangat terhibur dan terbuai oleh segala pembuatan iklan tersebut. Agak sedikit mendapat gambaran bagaimana industri periklanan bekerja. Pun terhibur dengan aksi Johnny dan si kucing betina yang lucu menggemaskan. Ada-ada saja kelakuan dua kucing tersebut sehingga bikin tiap krunya jadi pusing. Terlebih lagi temannya Mor yang awalnya jadi sutradara untuk proyek itu.

Oh yah, sebelumnya sudah disinggung soal CGI kan? Nah gara-gara soal CGI itu, penulis jadi bingung apakah pemeran kucing-kucingnya itu betulan atau hanya hasil CGI. Sumpah, proses rendering-nya itu lumayan bersih. Sehingga jika memang benar menggunakan CGI, sama sekali tak terlihat.

Akhir kata, "Cat A. W. O. L." ini walau ceritanya lumayan ringan, berhubung kandungan humor di dalamnya yang lumayan bisa mengocok perut, tak ada salahnya untuk coba ditonton. Apalagi ditonton saat tengah liburan. Dari film ini pun, kita bisa tahu (sedikit) seluk beluk soal industri periklanan, pun tentang kucing.

Omong-omong, kalau ditelaah baik-baik, Mayo bisa jadian dengan Mor itu pun karena bantuan Johnny (secara tak langsung). Lucu juga seekor kucing bisa mempersatukan dua insan.



RATE: 85 / 100



Genre: Family
Produksi: 
Distributor: 
Produser: 
Sutradara: Pongsak Pongsuwan, Nareubadee Wetchakam
Pemain: Pimchanok Leuwisetpaiboon, Arak Amornsupasiri, Choosak Iamsook, Pongsak Pongsuwan,... 
Bahasa: Inggris
Durasi: 115 menit
Tanggal Rilis: 6 Juli 2015

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.