"COMIC 8: CASINO KINGS" yang Jauh Lebih Rapi dari Pendahulunya







Film komedi Indonesia mana yang melibatkan efek spesial seperti ini?
Takjub beneran!
Ketimbang film pendahulunya, penulis lebih menyukai "COMIC 8: CASINO KINGS". Bukan karena ada Sophia Latjuba yang masih sekali di usia paruh bayanya. Bukan pula karena ada Nikita Mirzani yang di film ini, hot mampus. Atau karena ada Hanna Al Rasyid. Namun lebih karena film ini dikemas secara lumayan ciamik dan memesona daripada pendahulunya yang--maaf--berantakan dari segi alur.

Mungkin tak banyak film seperti "COMIC 8: CASINO KINGS" ini. Dikemas dalam bentuk omnibus, padahal sutradaranya hanya Mas Anggy Umbara. Ya, "COMIC 8: CASINO KINGS" ini dikemas dalam bentuk omnibus. Para penonton akan dibawa ke beberapa cerita yang sebetulnya bermuara ke hal yang sama; tujuannya sama pula, dan tiap subfilmnya saling menjelaskan. Mungkin buat yang belum terbiasa dengan konsep omnibus, bakal menganggap "COMIC 8: CASINO KINGS" ini lebih aneh, sulit dimengerti, dan kacau daripada sebelumnya. Padahal, untuk penulis sendiri, "COMIC 8: CASINO KINGS" ini jauh lebih bagus daripada sebelumnya.

Di awal film, telah diceritakan sekelompok pemuda yang dikirim ke sebuah hutan rimba. Tak tanggung-tanggung, seperti hendak memancing keingintahuan para penonton, para pemuda langsung dihadapkan ke sebuah konflik. Mereka diserang oleh buaya-buaya ganas. Beberapa tewas dimakan buaya. Beberapa lagi selamat. Nah beberapa inilah yang merupakan tokoh-tokoh utama di film sebelumnya. Ada Ernest, Kemal, Babe, Fico, Arie Keriting, Bintang, hingga Mongol Stress.

Mereka semuanya, seperti yang diceritakan di film sebelumnya, ternyata pasien rumah sakit jiwa--yang merupakan kelinci percobaan dari dokter Panji. Dokter Panji sendiri--di film ini--berada di dalam penjara, yang nanti bakal dibebaskan oleh anak buah dari seorang raja penjudi yang diburu oleh interpol. Interpol-nya ini juga tidak mengetahui bahwa para pemuda yang berhasil ditangkap dan diinterogasi itu ternyata tidak berhubungan langsung ke si raja judi (yang ternyata--maaf spoiler--seorang perempuan). Mereka hanya boneka, yang di pikiran mereka tahunya hanya merampok bank, lalu terlibat dalam sebuah misi rahasia yang diberikan oleh seorang agen sekaligus komedian bernama Indro. Bahkan mereka pun tak tahu pikiran mereka semua sudah dimanipulasi oleh dokter Panji. Sekarang yang mereka tahu mereka bakal jadi raja kasino. Tapi sebelumnya harus melewati rintangan demi rintangan lebih dahulu di sebuah pulau.

Sekilas, cerita di atas memang tak masuk akal. Terlalu imajinatif dan cenderung dihubung-hubungkan. Tapi inilah "COMIC 8: CASINO KINGS". Walau ada unsur misterinya, sedikit gore, sedikit thriller, sedikit action, film ini tetaplah film komedi. Bukankah kebanyakan film komedi memang seperti itu--yang banyak dibumbui adegan-adegan irasional? Dan ketidaklogisan "COMIC 8: CASINO KINGS" ini jauh lebih baik dari pendahulunya. Sekiranya film ini memiliki alur yang lebih rapi untuk disimak. Tempo film ini lumayan cepat. Tidak membosankan sama sekali. Apalagi saking banyak twist, film ini jadi bisa memaksa tiap orang yang menonton untuk menyelesaikannya sampai akhir.

Namun untuk dikatakan sebagai sebuah film sempurna, "COMIC 8: CASINO KINGS" masih jauh dari kata sempurna. Mungkin film ini ditargetkan untuk menjadi sebuah film franchise; bukan sebagai sebuah film yang harus masuk nominasi dalam sebuah festival film. Pemilihan waktu tayangnya mungkin juga demi meraup pemasukan dari penjualan tiketnya. Tapi tetap, walau masih jauh dari kata sempurna, "COMIC 8: CASINO KINGS" tetap film karya anak bangsa yang perlu diapresiasi. Sebab, sungguh film ini begitu total dibuat.

Lawakan-lawakan yang terkandung dalam "COMIC 8: CASINO KINGS" ini memang khas lawakan seorang comic (julukan untuk pelaku stand-up comedy, red). Bukan lawakan-lawakan picisan ala komedi slapstick. Walaupun ada juga adegan-adegan slapstick di film ini. Tak ayal, tak banyak orang bisa memahami segala lawakan yang digunakan di dalam "COMIC 8: CASINO KINGS" ini. Salah satunya, saat beberapa orang pemuda dilahap buaya. Entah apa pula maksudnya, di sela-sela para comic yang malah bertingkah konyol di situasi genting, malah muncul adegan-adegan ala film slasher.Yang jelas, untuk penulis sendiri, kemunculan adegan-adegan gore itu memang memaksa untuk terus menonton saking penasarannya.

Dari semua film komedi yang dihasilkan anak bangsa, (mungkin) "COMIC 8: CASINO KINGS" ini sebuah anomali tersendiri. Begitu total. Di saat kebanyakan film komedi Indonesia itu cenderung biasa-biasa saja sinematografinya, "COMIC 8: CASINO KINGS" ini malah banyak melibatkan efek spesial dan CGI. Meskipun CGI yang ada itu tak rapi; masih terlihat kasar. Belum lagi dengan kemunculan beberapa aktor-aktris kenamaan Indonesia seperti Indro Warkop, Sophia Latjuba, Lidya Kandou, Barry Prima, Willy Dozan, Ray Sahetapy, hingga Yayan Ruhian si Mad Dog. Walau beberapa di antara mereka cenderung terlihat sebagai  cemeo saja; jarang dari mereka yang begitu menonjol kemampuan aktingnya. Di film ini, bintangnya memang para comic itu, terlebih delapan orang comic seperti Ernest, Kemal, Ge, Babe, Fico, Arie Keriting, Mongol Stress, dan Bintang Timur.

Ada unsur gore, ada unsur action, ada unsur thriller, komedinya masih menguat, kurang apa lagi "COMIC 8: CASINO KINGS" ini? Sungguh amat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Film komedi ini sangat direkomendasikan untuk ditonton (jika tak ada kerjaan).

Oh iya, untuk semakin membuat tertarik menonton, sedikit bocoran salah satu lawakannya. Itu saat Kemal tengah berhadapan dengan dua orang comic yang penulis lupa namanya (maklum bukan pengikut stand-up comedy) di sebuah hutan rimba.

Kemal: "...ucapin terimakasih itu ke Allah... Allah itu ada di atas..."
Salah satu comic: "Emang Allah cuma ada di atas doang? Allah ada di mana-mana kali."
Kemal: *bengong*




RATE: 85 / 100



Genre: Komedi
Produksi: Falcon Pictures
Distributor: 
Produser: HB Naveen, Frederica
Sutradara: Anggy Umbara
Pemain: Sophia Latjuba, Panji Pragiwaksono, Ge Pamungkas, Indro Warkop, Ernest Prakasa, Kemal Pahlevi, Bintang Timur, Babe Cabita, Fico, Arie Keriting, Mongol Stress,...
Bahasa: Indonesia
Durasi: 102 menit
Tanggal Rilis: 16 Juli 2015

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.