"The Voices": Tiap Manusia Punya Jiwa Psikopat




Kebetulan Penulis menontonnya pas May Day.
Anyway, selamat hari buruh! Maaf telat! :p
Pasti menyenangkan bisa punya kemampuan untuk berbicara dengan binatang. Yah seperti yang Jerry Hickfang lakukan. Pria ini bisa berbicara dengan kedua binatang peliharaannya. Ada seekor anjing bernama Bunny Monkey yang selalu memberikannya saran-saran bagus. Ada pula seekor kucing bernama Mr. Whisker yang selalu saja berucap kata-kata kotor dan menyesatkannya. Herannya Jerry lebih cenderung untuk mendengarkan Mr. Whisker ketimbang Bunny Monkey (Mungkin ini gambaran dari kita yang seringkali lebih suka untuk mendengarkan suara-suara minor). 

Tadinya seperti itu. Begitulah yang terlihat. Terlihat Jerry memang dianugerahi kemampuan untuk berbicara dengan binatang. Tapi ternyata tidak, saudara-saudara. Itu semua hanya halusinasi Jerry saja--yang memang masih tercatat sebagai pasien sebuah rumah sakit jiwa, selain sebagai mantan narapidana setelah membunuh ibunya secara sadis. Jerry seorang psikopat. Oh tidak, mungkin tepatnya, Jerry seorang pengidap skizofrenia. 

Segala hal yang terjadi itu sebetulnya hanyalah halusinasi Jerry semata. Tak benar-benar terjadi. Baik itu kucing dan anjingnya yang bisa bicara maupun beberapa potong kepala manusia yang Jerry simpan dalam kulkasnya (yang menurut pikiran Jerry, juga bisa berkomunikasi dengannya). Segalanya akan lenyap jika Jerry meminum obatnya. Yang tadinya, rumah itu terlihat indah sekali di pikiran Jerry. Namun, setelah meminum obat, keindahan itu lenyap. Rumahnya berubah drastis. Jadi suram sekali dan membuat Jerry ketakutan dan terus dinaungi rasa bersalah. 

Bagaimana tidak dinaungi rasa bersalah, Jerry itu sakit. Sejak kecil, ia sudah masuk lembaga pemasyarakatan. Dirinya sudah dirujuk ke bagian psikiater. Belum lagi ia masih terus dihantui perasaan bersalah karena dulu secara sengaja membunuh ibu kandungnya sendiri yang juga pernah mendapatkan terapi dari seorang psikiater (Itu juga karena disuruh ibunya). Ditambah lagi akibat siksaan dari sang ayah yang seorang militer, yang tak suka dirinya dulu memiliki imajinasi layaknya anak-anak normal lainya (Padahal wajar anak kecil itu punya imajinasi atau teman imajinernya). Tak heran kan, kalau setelah membunuh secara tak sengaja pacarnya sendiri, Jerry jadi merasa bersalah sekali. Ia di tengah kebimbangan (yang digambarkan dengan pertengkaran konyol antara Mr. Whisker dan Bunny Monkey) antara melaporkan dirinya sendiri ke polisi atau terus bersembunyi dan melakukan aksi pembunuhan berantainya.

Mungkin karena antara hukumannya sudah selesai dan si psikiater merasa Jerry sudah terkendali jiwa dan pikirannya, makanya si Jerry dibiarkan begitu saja untuk hidup bebas di tengah-tengah masyarakat. Bahkan Jerry pun bisa bekerja menjadi sebuah buruh pabrik, yang lalu berlanjut dengan menjalin hubungan cinta dengan sorang perempuan yang bekerja di bagian akuntansi di pabrik ia bekerja. 

Awalnya, sang pacar juga merasa aneh dengan Jerry. Sempat menjauhi Jerry juga yang dirasa janggal kelakuannya. Namun akhirnya, sepulang dari karaoke bar, sang pacar--yaitu Fiona, mulai simpati dengan Jerry. Tapi hanya sementara. Karena setelah suatu kejadian di mana Jerry menyembelih seekor lembu dengan nafsunya, Fiona jadi histeris dan... tewas secara tak sengaja di tangan Jerry. 

Jerry merasa bersalah. Timbul pergulatan batin. Dua ekor binatang peliharaannya malah terus membingungkan dirinya. Bingung antara melaporkan diri ke polisi atau terus bersembunyi. Walau akhirnya, Jerry memutuskan untuk mengikuti kata-kata Mr. Whiskers. Jenazah Fiona dipotong-potong. Bagian-bagian tubuhnya disimpan dalam beberapa kotak makan. Lalu kepalanya disimpan dalam kulkas seolah hendak diawetkan. 

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, di pikiran Jerry, kepala Fiona itu bisa berbicara. Padahal nyatanya tidak. Apalagi setelah Jerry menelan pilnya. Kepala Fiona kembali berubah menjadi seonggok kepala mayat yang sudah tak bisa bergerak lagi. Begitu pun yang terjadi dengan dua korban lainnya. 

Omong-omong, film "The Voices" memang terkesan menjijikan. Sepintas ada unsur gore atau slasher-nya. Namun kalian salah. Kedua unsur itu tak terlalu mendominasi. Malah kurang greget. Hanya baru sampai di tingkat bikin perut mual untuk sementara waktu saja. Begitu pun dengan unsur thriller-nya. Yang mendominasi dari film yang dibintangi oleh Ryan Reynolds ini adalah unsur komedinya. Banyak dialog dan adegan yang bisa bikin kita terpingkal. Bahkan ada beberapa quote keren yang bisa kita temukan dari "The Voices" ini.

Seperti kata-kata si psikiater bernama Dr. Warren itu. Di mana dokter itu berujar bahwa tiap manusia memang memiliki kecenderungan untuk mendengarkan suara-suara yang mungkin tak akan didengar oleh sesamanya. Namun ada baiknya jika halusinasi-halusinasi itu--baik suara, penglihatan, maupun bebauan--tak memengaruhi kehidupan normal kita sebagai seorang manusia. Sehingga akhirnya malah merampas kebahagiaan kita sebagai insan seutuhnya.

Mungkin film ini tak berkehendak untuk membuat kita merasa merinding, jijik, mual, mulas, atau ngeri sekalipun. Tidak seperti itu. Mungkin film ini sekadar mengingatkan kita bahwa sebetulnya tiap manusia memiliki jiwa psikopat yang bersemayam dalam raga. Tinggal manusianya saja yang bisa mengontrolnya atau tidak. Bisa mengontrolnya itu bagus sekali. Sementara jika tidak, yah siap-siap saja kebahagiaan kita hilang selamanya. Dan kita akan terus dihantui ketakutan dan kecemasan yang cukup berlebihan.

Yah mungkin seperti itulah. Itu juga penulis bisa mengambil kesimpulan seperti itu dari kata-kata dr. Warren saat diculik Jerry serta ending theme-nya yang keren sekali. So, happy day! Enjoy your life, please!


RATE: 95 / 100



Genre: Komedi, Thriller, Slasher
Produksi:  Matthew Rhodes, Adi Shankar, Roy Lee Spencer Silna
Distributor: Lions Gate Entertainment
Sutradara: Marjane Satrapi
Pemain: Ryan Reynolds, Gemma Arterton, Anna Kendrick, Jacki Weaver,...
Bahasa: Inggris
Subtitle: Indonesia
Durasi: 104 menit
Tanggal Rilis: 19 Januari 2014 (di Sundance), 6 Februari 2015 (di Amerika Serikat secara keseluruhan), 30 April 2015 (di Jerman dan Indonesia)

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.