"The Lazarus Effect": Kembali Kombinasi Antara Dunia Supranatural dengan Sains





Memang seru untuk membahas fenomena supranatural dari sudut pandang ilmu pengetahuan. Tak ayal, pernah ada artikel pula yang menceritakan mengenai sekelompok ilmuwan yang berusaha menyelidiki keangkeran dari sebuah penjara legendaris yang ada di Amerika Serikat. Selain seru, terkadang juga menjadi sesuatu yang menggelikan saat melihat seseorang dengan intelektualitas tinggi yang berusaha menjelaskan fenomena gaib dari kacamata ilmiah. Sama persis dengan yang dilakukan oleh Frank.

Frank ialah seorang kepala penelitian dari sebuah tim yang berusaha menemukan serum Lazarus. Serum itu mengambil nama Lazarus, yah karena sesuai dengan apa yang menimpa Lazarus di Injil: bangkit dari kematian. Serum itu pun begitu. Frank dan empat rekannya itu berjuang menemukan serum Lazarus untuk bisa membangkitkan kembali makhluk hidup yang sudah mati. Entah apa maksudnya, yang jelas seekor anjing mati menjadi kelinci percobaan. 

Masuk akal tidak sih, jika percobaan pertama itu langsung berjalan sukses? Nah itulah yang Frank, dkk alami. Si anjing mati berkedut-kedut pertanda kehidupan baru saja mendatanginya kembali. Mereka berlima girang bukan kepalang. Berikutnya, si anjing itu diteliti lebih lanjut. Mana tahu ada efek samping dari serum tersebut. Ternyata memang ada. Penyakit katarak yang diderita si anjing sebelum meninggal, bisa sembuh total. Plus, si anjing memiliki karakter yang luar biasa agresif. 

Entah apa juga maksudnya, serasa dikebut, cerita berlanjut pada kesuksesan Frank, dkk yang berujung pada penjegalan oleh rival mereka di institusi yang merupakan lembaga di mana penelitian itu mendapatkan sokongan. Tak hanya itu, pimpinan di institusi itu juga sempat melarang dengan alasan serum itu sudah melangkahi kekuasaan Tuhan. Namun, seperti yang sudah diceritakan, Frank menganggap alasan itu sebagai omong kosong. Apalagi Frank ini diceritakan sebagai sosok yang ateis.

Frank, dkk tak menyerah. Meskipun hasil penelitian diambil alih secara paksa, mereka tetap bersikukuh untuk meneruskannya. Termasuk untuk menduplikasikan hasil penelitian. Siapa tahu hasil penelitian mereka itu malah diklaim sebagai kepunyaan orang lain. Malam harinya, mereka kembali melanjutkan penelitian secara diam-diam. Anjing mati lainnya menjadi obyek penelitian berikutnya. Kali ini, mungkin hukuman dari Tuhan, tunangan Frank--yaitu Zoe--meninggal akibat sengatan listrik.

Frank sedih. Mungkin karena akal sehatnya sudah hilang, walau sempat ditentang, pria itu lalu berkeinginan menginjeksikan serum itu ke tubuh Zoe. Sukses lagi. Namun kali ini kelewat sukses. Sebabnya, Zoe jadi memiliki kemampuan yang luar biasa. Kemampuan otaknya bekerja seratus persen maksimal. Padahal menurut mitos, manusia itu hanya bisa menggunakan 10% dari kemampuan otaknya.

Oke, film ini memang luar biasa. Efeknya sungguh digarap serius. Efek suara pas. Efek visual juga oke. Apalagi efek spesialnya. Twist demi twist datang di saat yang tepat. Sebagai film horor, film ini tak bisa dibilang gagal. Namun tetap saja, film ini sangat nanggung. Horornya masih kurang nendang; akibat dari keterlibatan unsur sains di dalamnya. Banyak pertanyaan yang ditinggalkan tanpa adanya jawaban yang pasti. Contoh, maaf kalau merasa spoiler, tak dijelaskan mengapa Frank, dkk melakukan penelitian serum Lazarus tersebut. Apakah untuk senang-senang, demi kemanusiaan, atau untuk berusaha membuktikan bahwa dunia supranatural (termasuk Tuhan) itu tak ada? Itu salah satu contohnya.

Bahkan penonton juga diberikan sedikit gambaran soal masa lalu Zoe yang buruk. Tak dijelaskan mengapa Zoe bisa terus menerus bermimpi buruk tiap malam. Minim penjelasan. Sehingga penonton dipaksa untuk menjawab sendiri dengan sedikit (kalau tak bisa dibilang tak ada) segala kebingungan yang ada. Apa nanti bakal ada sekuelnya? Penulis juga berharap yang sama. Apalagi dari segi premis, seharusnya "The Lazarus Effect" ini bisa menjadi film yang luar biasa. Jika dibikin dengan durasi 120 menit, tanpa adanya banyak kebolongan sana-sini, mungkin IMDb atau Rotten Tomatoes tak akan segan untuk memberikan nilai tujuh atau delapan mungkin.

Tapi, ya sudahlah, "The Lazarus Effect" ini seperti yang sudah dikatakan, tak gagal juga untuk dikatakan sebagai film horor. Buat pecinta horor, buat para pencari kebenaran soal alam semesta ini, dan buat yang penasaran bagaimana serum yang bisa membangkitkan mereka yang sudah mati, "The Lazarus Effect" ini cukup begitu direkomendasikan. 


RATE: 80 / 100



Genre: Horor, Fiksi Ilmiah
Produksi:  Jason Blum, Luke Dawson, Matt Kaplan, Jimmy Miller, Cody Zwieg
Distributor: Relativity Media
Sutradara: David Gelp
Pemain: Mark Duplass, Olivia Wilde, Donald Glover, Evan Peters, Sarah Bolger,...
Bahasa: Inggris
Subtitle: Indonesia
Durasi: 83 menit
Tanggal Rilis: 27 Februari 2015

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.