Spongebob Versi 2015 yang Berantakan Tapi Sarat Makna






Ah sepertinya tak ada dari kita yang tak tahu Spongebob Squarepants. Makhluk spons berbentuk kotak sudah begitu melegenda sejak episode pertamanya itu rilis pada 1 Mei 1999. Di Indonesia sendiri, seingat penulis, Spongebob itu pertama menyapa pada sekitar tahun 2003. Bersyukurlah pada stasiun televisi Lativi (Sekarang bernama TV One) yang dulu aktif menayangkan kartun-kartunnya Nickeledeon. Dulu selain Spongebob, ada Rugrats, Hey Arnold, Fairly Oddparents, The Wild Thornberries, Dora The Explorer, dan masih banyak lainnya animasi produksi Nickeledeon, yang juga memiliki kanal televisi sendiri. 

Omong-omong, apa sih kehebatan Spongebob yang dulunya bernama Spongeboy itu? Kok bisa setenar itu? Perasaan animasi yang mengupas soal kehidupan dasar laut itu tak jauh berbeda dengan animasi-animasi lain macam Doraemon, Shinchan, Looney Tunes, atau animasi produksi Walt Disney. Sampai-sampai si celana kotak itu harus dibuatkan film animasinya sampai dua kali. Iya, dua kali. Gila kan, setenar itukah si spons yang hobi mengejar ubur-ubur tersebut? 

Mungkin karena mengangkat cerita soal kehidupan bawah laut itulah, Spongebob bisa tenar. Kalau diamat-amati, jauh sebelum Spongebob, memang termasuk jarang sekali ada animasi yang mengangkat kisah di bawah laut. Apalagi yang tokoh-tokoh utamanya itu kebanyakan makhluk laut. Ada lobster, cumi-cumi, kepiting, bintang laut, hingga ubur-ubur. Untuk animasi dengan tokoh-tokohnya itu binatang yang bisa hidup dan bergerak seperti manusia, sudah banyak. Disney, Warner Bross, atau Hanna-Barbera (yang sudah join ke Disney) sudah mempopulerkannya lewat cerita Donal Bebek, Looney Tunes, dan Tom and Jerry. Bahkan studio-studio animasi di Jepang juga sering, meskipun tak sesering Amerika. Oke, anggaplah seperti. Kita anggap saja Spongebob bisa tenar karena kisah kehidupan bawah lautnya. Apalagi di episode-episode awal, kita banyak disuguhi pengetahuan-pengetahuan soal bawah laut (yang kalau sekarang, boro-boro. Cerita Spongebob  jadi ngawur dan murni 100% imajinasi). 

Film animasi layar lebar Spongebob yang pertama.
Versi bioskop dari Spongebob itu pertama keluar pada 19 November 2004. Di layar televisi Indonesia, keluar pada tahun 2008. RCTI yang punya ide untuk membeli hak siarnya. Ceritanya itu soal Spongebob dan Patrick yang diberikan misi untuk menyelamatkan mahkota Raja Neptunus yang ternyata berada di dunia manusia. Ceritanya lucu, mengalir, tak dipaksakan, dan memang khusus buat anak-anak, ada pesan moralnya yang tampak jelas sekali. Moralnya: jangan pernah meremehkan seseorang walau seseorang itu tampak culun, lemah, dan tak bisa diandalkan di matamu. Karena orang-orang seperti itulah yang mungkin bisa jadi penyelamat. 

Gara-gara animasi layar lebarnya yang keluar di 2004 itulah, penulis sempat memasang ekspektasi tinggi pada animasi layar lebar selanjutnya. Masih segar dari ingatan kita, animasi si kuning yang berjudul "The Spongebob Movie: Sponge Out of Water". Kali ini dalam versi tiga dimensi yang grafiknya bikin penulis kita ini tercengang akibat saking bagusnya. Namun tidak dengan ceritanya. 

Film animasi Spongebob versi tiga dimensi. 
Cerita "The Spongebob Movie: Sponge Out of Water" itu tak sebagus pendahulunya yang rapi sekali story line-nya. Berantakan sekali dan cenderung tak masuk akal. Oke, dari keberantakan itu, kita mungkin bisa menangkap esensi dasarnya, yaitu soal resep Krabby Patty yang dicuri lagi. Kali ini pelakunya bukan Sheldon Plankton. Melainkan oleh seorang manusia dengan kostum bajak laut yang amat sangat membingungkan bagaimana caranya mencuri. Padahal si bajak laut berjenggot itu hanya mengunjungi sebuah pulau terpencil, bukannya menyelam ke Bikini Bottom. 

Saking berantakannya juga, tak ada petunjuk mengapa kisahnya bisa meluber hingga angkasa luar dan pahlawan super. Dan, agak lucu juga bahwa ternyata si bajak laut itu terobsesi dengan Krabby Patty hanya untuk usaha sandwich-nya sukses. Bahkan ending-nya terasa dipaksakan sekali. Kesan terburu-buru sungguh terlihat. Hingga penulisnya sempat tak menikmati menonton Spongebob versi 2015 ini. 

Tapi mungkin kalau coba tonton sekali lagi, mungkin dikemas secara berantakan begitu, yah karena target pasarnya itu anak-anak. Mungkin segenap kru dari animasi yang lahir dari sebuah animasi berjudul "Rocko's Modern Life" ini  ingin film animasi kali ini menjadi sebuah film animasi layar lebar yang murni bertujuan untuk menghibur dengan banyaknya adegan komikal yang bikin kita terbahak-bahak; atau minimal nyengirlah. Walau ada banyak pesan moral yang bisa kita temukan, mungkin Paul Tibbit, selaku sutradaranya ingin orang-orang--terlebih anak-anak--lebih menyimak "The Spongebob Movie: Sponge Out of Water" sebagai suatu hiburan yang tak ada maksud menggurui sama sekali. Kita tahu kan, kebanyakan film animasi itu memang terlihat seperti sedang menggurui para penonton (kalau diamati baik-baik). Mungkin karena itulah, Spongebob dibikin seberantakan itu. Yah karena para pembuatnya ingin "The Spongebob Movie: Sponge Out of Water" itu menjadi suatu hiburan yang mengocok perut. Segala trik untuk bikin ketawa, ada di situ semua lagian. Cukup banyak adegan pembodohan yang bisa bikin kita terpingkal pula. 

Eh tapi, seperti di paragraf sebelumnya, "The Spongebob Movie: Sponge Out of Water" ini memang ada pesan moralnya. Namanya juga animasi yang identik dengan dunia anak-anak. Apalagi serial televisinya juga memang buat anak-anak. Alhasil Paul Tibbit, dkk tak lupa untuk memasukkan pesan moral. Setidaknya ada lima yang penulis bisa tangkap seperti:

1. Tak selamanya rivalmu akan menjadi rival. 
Diceritakan Plankton dituduh mencuri Krabby Patty oleh Mr. Krab. Plankton tak terima. Karena memang bukan Plankton pelakunya kali ini. Spongebob percaya karena ia ada saat kejadian. Malah berkat Plankton-lah, Spongebob, dkk bisa mengalahkan Burger Beard. 

2. Harga sebuah kebenaran itu mahal.
Sekeras apapun Plankton dan Spongebon berusaha mengatakan faktanya, tetap saja Mr. Krab dan segenap penghuni Bikini Bottom tak percaya. Saking mahalnya, keduanya sampai harus pergi ke masa lalu di saat situasi Bikini Bottom lagi kacau-kacaunya. 

3. Jangan menyerah. Apapun bisa terjadi di hidup ini. Tak ada yang mustahil, bukan?
Walau penghuni Bikini Bottom, terlebih Mr. Krab, itu bebalnya setengah mampus, akhirnya mereka percaya bahwa bukan Plankton pelakunya. Itu semua berkat kegigihan Spongebob dan Plankton. Karena kegigihan pula, pasukan pahlawan super dari Bikini Bottom bisa mengalahkan seorang manusia bernama Burger Beard. Meskipun sempat nyaris kalah, bantuan nyaris selalu menghampiri mereka dalam bentuk apapun. 

4. Rumput tetangga memang jauh lebih indah. Namun rumput sendiri jauh lebih baik.
Saat ending, maaf spoiler lagi, Squidward tampak berat untuk meninggalkan dunia manusia yang tampak wah di matanya. Namun akhirnya si makhluk bertentakel itu sadar bahwa tempatnya itu di bawah laut--yah di Bikini Bottom tepatnya. 

5. Keajaiban itu ada (untuk mereka yang percaya dan mau berusaha lebih). 
Sama seperti Spongebob, dkk yang diberikan karunia untuk menjadi pahlawan super. Karena kengototan mereka untuk menyelamatkan resep Krabby Patty, bantuan berupa kekuatan super itu datang. 

Yah begitulah lima pesan moral yang bisa penulis tangkap. Awalnya, setelah menonton, penulis memang agak menyesalinya. Tapi setelah mendapatkan kata-kata bagus dari seorang teman, sepertinya memang ada maksud tersendiri di balik keberantakan "The Spongebob Movie: Sponge Out of Water" ini. 

Akhir kata, "The Spongebob Movie: Sponge Out of Water" ini memang cukup direkomendasikan untuk ditonton anak-anak. Sangat bagus pula sebagai sebuah tontonan keluarga, Sebab "The Spongebob Movie: Sponge Out of Water" ini mengajarkan anak-anak untuk berani bermimpi, jangan takut berbuat sesuatu, dan selalu memperjuangkan kebenaran. 


RATE: 80 / 100


Genre: Komedi
Produksi:  Nickeledeon Movies, Paramount Animation, United Plankton Pictures
Distributor: Paramount Pictures
Sutradara: Paul Tibbit
Pemain: Tom Kenny, Antonio Banderas, Clancy Brown, Rodger Bumpass, Bill Fagerbakke, Carolyn Lawrence, Mr. Lawrence, Matt Berry,...
Bahasa: Inggris
Subtitle: Indonesia
Durasi: 92 menit
Tanggal Rilis: 6 Februari 2015 (di Amerika Utara), 28 Januari 2015 (di Belgia dan Belanda)

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.