Mana yang Bakal Sukses? Si Workhorse atau Si Bigmouth?




Kelas kepenulisan skenario.
Asian Wiki menggolongkan film ini sebagai film komedi-romantis. Namun, menurut penulis, film ini tak termasuk ke dalam genre tersebut. Jujur saja, unsur komedinya kurang. Apalagi unsur romance-nya. Lebih pantas genre drama yang disematkan ke film yang keluar pada 2013 silam.

Film "Workhorse and  The Bigmouth" ini bercerita soal dunia kepenulisan. Terlebih lagi tentang bagaimana sebuah film atau drama televisi dibuat. Lebih spesifik lagi, kita diajak untuk melihat bagaimana para calon penulis skenario ini belajar bikin sebuah skenario yang kece. Meskipun penulis tetap merasa kurang tentang pengetahuan dunia kepenulisan skenario di Jepang sana. Kurang begitu dieksplorasi. Tapi, overall, okelah sedikit mendapat gambarannya saja.

Di film ini, diceritakan bahwa ada dua tokoh yang ternyata sebagai suatu perbandingan. Laki-laki dan perempuan. Yang perempuan bernama Michiyo Mabuchi, seorang yang gigih sekali dalam memperjuangkan mimpinya sebagai seorang penulis skenario kenamaan. Saking seriusnya, ia sampai melakukan riset ke sebuah panti jompo demi bikin sebuah skenario tentang kehidupan di panti jompo. Sempat mengalami penolakan beberapa kali, Michiyo tak kendur. Ia terus berusaha dan berusaha, belajar serta belajar.

Di sisi lain, ada tokoh utama lainnya. Seorang lelaki bernama Yoshimi Tendo. Dalam diri Yoshimi ini sudah bikin Michiyo teringat akan sosok perempuan itu yang dulu begitu besar mulutnya. Kalau kata orang Indonesia, tong kosong nyaring bunyinya. Bayangkan saja, Yoshimi ini punya impian sebesar semesta tapi malas mewujudkannya. Ada saja yang ia lakukan saat bakal menuliskan skenario di laptop-nya. Menonton acara televisilah, menonton JAV-lah, dan lain-lain, dan sebagainya. Sampai akhirnya, Yoshimi ditegur keras oleh Michiyo. Batu banget kalau Yoshimi masih tak mendengar. Untungnya lelaki berambut pirang itu insaf dan mulai serius mengerjakan skenarionya. Walau idenya simpel--bahkan sempat ditolak akhirnya, tetap saja kita perlu acungi jempol si brilian nan malas ini akhirnya mau mencoba.

Yup, Yoshimi ini sebetulnya lebih kreatif daripada Michiyo. Kepala Yoshimi selalu disesaki oleh ide-ide cerita. Hanya saja Yoshimi begitu malasnya untuk merealisasikannya dalam bentuk sebuah skenario. Memang sih, berikutnya sadar si Yoshimi itu. Tapi tetap saja film ini ngehe banget.

Bagaimana tidak ngehe? Coba pikir deh, saat kita berjuang mati-matian untuk meraih sesuatu hal, eh ternyata yang malah menuai hasil itu yang kita tahu orang itu sering melakukan hal yang sia-sia. Agak sedikit kecewa saat akhirnya Michiyo malah membuang mimpinya menjadi penulis skenario. Tapi yang seperti itu kan memang sering terjadi di dunia nyata. Kadang keberuntungan sering menjadi faktor penentu seseorang dalam mencapai golnya. Sama seperti Yoshimi yang akhirnya sadar dan mulai menulis skenario pertamanya sejak mengikuti pelatihan menulis skenario. Yoshimi memang terkesan malas. Namun patut kita ketahui bahwa lelaki itu tak gentar dalam mengejar mimpinya. Beda dengan Michiyo yang malah keok di tengah jalan.

Meskipun dunia kepenulisan skenarionya itu kurang begitu dieksplorasi, sekiranya film ini menjadi tontonan wajib untuk para calon penulis (skenario). Moralnya gampang dilihat dari gabungan karakter Michiyo dan Yoshimi. Yaitu, dalam mengejar mimpi itu, agar tidak gentar, menyerah, malas, dan besar mulut saja. Terus mengejar mimpi walau kita melihat bahwa sia-sia saja mengejarnya. Lagipula kita kan tak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan kita.  

Omong-omong, berhubung ada scene-scene dewasa, sebaiknya yang sudah berusia 17+ yang boleh menonton. Atau yang sudah memiliki pikiran dewasa  (baca: mature) yang boleh menontonnya. Tontonlah film ini tanpa pikiran ngeres yah! Sayang sekali jika kalian menontonnya sembari sibuk nyabun.

Sebab, menurut penulis saja, film ini sesungguhnya amat sangat memotivasi sekali (di luar adegan-adegan dewasa tersebut). Penulis saja langsung terlecut semangatnya saat menontonnya sampai habis. Tapi pikiran tiap orang berbeda-beda sih.

At last, berhubung sedikit bumbu humor dalam film ini, mungkin film ini memiliki tempo yang cukup lambat. Menunggu satu jam penayangan film ini saja, penulisnya sempat merasa terkantuk-kantuk. Apalagi film ini juga memiliki banyak kebolongan di dalam story line-nya. Dan lagi, visualnya juga tak terlalu spesial untuk bisa membuat kita terus menyimaknya sampai habis. Alhasil, tontonlah film ini dalam keadaan tidak mengantuk.


RATE: 90 / 100



Genre: Drama
Produksi: TOEI Company, King Records, Parco Co. Ltd., Kinoshita Komuten (as Kinoshita Group), Dentsu, Toei Video Company, Memory Tech Television Osaka (TVO), Toei Channel, Stairway, CNS
Distributor: TOEI Company
Produser: Gen Sato, Ryo Kawada, Toshiki Kimura
Sutradara: Keisuke Yoshida
Pemain: Kumiko Aso, Shota Yasuda...
Bahasa: Jepang
Durasi: 119 menit
Tanggal Rilis: 2 November 2013

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.