"LDR": Lupakan Plotnya, Nikmati Photographic Scenes-nya






Akting Mentari De Merelle memang yang paling menonjol
 di antara pemain-pemain lain.
Pernahkah kalian merasa buang-buang duit sehabis penonton? Jika ditanyakan balik ke penulis yang bersangkutan, jawabnya, "Ya". Dan film "LDR" ini sudah membuat penulis merasa bahwa tiket senilai tiga puluh ribu rupiah itu serasa besar sekali. Duh!

Awalnya, penulis tertarik karena tagline-nya: "Ketika harus memilih, mana yang kau ikuti, hatimu atau takdirmu?" Apalagi jalan ceritanya juga eye-catchy. Baca sinopsisnya (yang soal kisah cinta segitiga), jadi bikin sang penulis kita ini harus lari secepat mungkin menuju bioskop. Tapi apa daya, menit-menit awal, film ini memang luar biasa; tapi tidak di menit-menit setelahnya. Mulai terasa datar, penuh adegan ala sinetron, dan satu lagi: khas Cassandra Massardi banget. 

Yup, penulis mendadak jadi teringat dengan salah satu karya Mbak Cassandra Massardi yang lainnya. Yang mana film itu merupakan debut pertama Cinta Laura Kiehl di dunia layar bioskop tanah air. Agak-agak girly begitu. Hal itu tampak dari penggambaran kedua tokoh lelakinya--Paul dan Demas--yang pasti merupakan tipe lelaki idaman tiap perempuan manapun; apalagi kedua tokoh utama lelakinya itu terkesan feminim sekali. Siapa juga yang tidak pengin punya lelaki macam Demas, yang gara-gara ditolak, malah pengin terjun diri ke sebuah sungai di kota Verona--yang katanya angker itu? Tiap perempuan, berani jamin, ingin juga punya pacar seperti Paul yang dingin namun ternyata romantis. Bahkan, maaf sedikit spoiler, siapapun juga ingin menjadi seperti Carrie yang kelak diperebutkan oleh dua lelaki. Sungguh khas perempuan sekali! Buat kaum pria, lebih baik hindari saja film-film seperti ini. Film ini hanya cocok ditonton oleh kaum hawa atau para sepasang kekasih (biar makin hot hubungannya, he-he-he). 


Salah satu photographic scene yang penulis maksudkan. 
Tapi film ini tetap layak ditonton bagi mereka yang bukan perempuan dan/atau yang masih melajang. Apa sebab? Setidaknya film ini banyak ditaburi quote-quote keren. Belum apa-apa penonton sudah disuguhi satu quote yang filosofis sekali. Selain itu, film ini punya banyak photographic scenes yang membuat segala mata memandang jadi terkesima (Sutradaranya benar-benar meriset dulu nih!). Alhasil, buat yang suka jeprat-jepret, nah film ini layak tonton deh! Selain latarnya di Verona, Italia, penulis cukup acung jempol terhadap kinerja sang sutradara (atau si kameramen?). Gila yah, tahu banget spot-spot yang cukup fotografis. Film ini pun jadi tampak seperti film yang tengah mempromosikan kota Verona, Italia. Gara-gara lihat scene-scene tersebut, penulis jadi berhasrat ingin berkunjung ke Verona, Italia deh.

Omong-omong, kalau butuh gambar-gambar keren yang bertema romance, boleh nih di-crop saja dari film "LDR" ini. Tapi nanti yah, sebulan-dua bulan setelah tayang perdana filmnya. Lebih baik beli yang asli, jangan yang bajakan, he-he-he. 

Soal pemain, bisa dibilang keempat pemain utamanya itu masih hijau. Baik itu anak sulungnya Ahmad Dhani, Verrel Bramasta (anaknya Venna Melinda), Aurelie Moremans, dan Mentari De Merelle (yang mana kemampuan aktingnya sangat memesona untuk ukuran pendatang baru). Masih belum cukup familier nama-nama itu di gendang telinga (setidaknya untuk penulis sendiri). Walau masih hijau, patut diacungkan jempol. Mereka bermain seperti sudah cukup sering berakting saja. Mantap! Belum lagi si Al Ghazali itu. Kemampuan akting Al mulai ada peningkatan dari film perdananya yang syuting di Hongkong, "Run away". Sepertinya Al cukup berpotensi menjadi seorang aktor kelas wahid.

Anyway, kita balik dulu ke soal story line-nya. Yang bikin tambah nyesek lagi, ternyata film ini ada kelanjutannya. Entah penulis yang kurang update, entah ini bagian dari strategi marketing juga, penulis merasa dibodoh-bodohi. Apalagi di posternya juga tak disebutkan bahwa film ini punya part keduanya. Minimal beritahukanlah penonton lewat trailer, sinopsis (di situs-situs bioskop), atau poster filmnya. Mana ceritanya juga banyak ditemukan bolong sana-sini, di mana penonton kurang mendapatkan informasi soal latar belakang para tokohnya. Kenapa Alexa mengidap kanker? Apa profesi Demas? Bagaimana ceritanya Carrie bisa melanglang buana ke Italia? Gambarkan sedikit juga perjalanan karier dari Paul yang katanya buku perdananya terbit di Italia dengan menggunakan bahasa Inggris. Yah tak usah panjang-panjang juga. Sekiranya film ini jadi terasa lebih hidup dengan sedikit diceritakan soal latar belakang para tokohnya. Belum lagi ceritanya sedikit dikebut demi bisa segera memperlihatkan kisah cinta segitiga antara Carrie, Demas, dan Paul (di mana tokoh bernama Alexa langsung dilenyapkan dengan alasan meninggal karena kanker). 

Tapi tetap kok, film ini cukup keren buat ditonton. Photographic scenes-nya yang sangat memorable. Quote-quote-nya yang banyak menghiasi scene demi scene. Kemampuan akting Mentari de Merelle yang luar biasa. Hingga ceritanya yang--harus penulis akui--cukup manis. Satu lagi, buat para interisti (termasuk penulis sendiri), film ini wajib tonton. Kapan lagi coba stadion kebanggaan para interisti jadi bagian dari sekian latar yang ada di film besutan Mas Guntur Soeharjanto ini? 


RATE: 70 / 100



Genre: Romance
Produksi: Maxima Pictures
Distributor: Maxima Pictures
Produser: Yoen K, Ody Mulya
Sutradara: Guntur Soeharjanto
Pemain: Al Ghazali, Verrel Bramasta, Mentari De Merelle, Aurelie Moremans
Bahasa: Indonesia
Durasi: 84 menit.
Tanggal Rilis: 13 Mei 2014

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.