Inilah Alasan Mengapa "Theory of Everything" Dapat Banyak Piala Oscar






Amat susah untuk membuat film yang diangkat dari kisah nyata. Apalagi jika menggunakan pemeran yang bukan tokoh aslinya. Belum lagi, jika tokoh cerita itu memang sudah lama tiada. Yang masih ada saja, sulit. Nah ini yang sudah meninggal. Makin susah pula.

Pasti sulit untuk membikin film seperti itu. Di tambah lagi, tokoh yang bersangkutan itu memang punya pengaruh cukup kuat untuk khalayak. Para penonton harus mendapatkan kesan bahwa memang film itu diangkat dari kisah si X yang berprofesi sebagai XY. Di sini mungkinp kerja bagian casting, make-up, hingga sutradara sangat berperan. Jangan sampai salah pilih cast. 

Kalau bicara yang satu itu, akhir-akhir penulis agak sedikit merasa kecewa dengan beberapa film Indonesia yang diangkat dari kisah nyata. Mulai dari film "Jokowi", "Soekarno Extended", "Habibie dan Ainun", "Di balik 98", hingga "Guru Bangsa Tjokroaminoto", beuh, tak ada satu pun yang bikin penulis terkesan. Okelah, story line-nya bagus. Tapi soal pemilihan cast-nya, big no-no. Terkesan terlalu dipaksakan harus menggunakan aktor-aktris yang sudah punya nama. Daripada harus menggunakan mereka yang sudah punya nama, lalu dimirip-miripkan, bagaimana jika menggunakan pemain baru--atau pemain lama yang kurang begitu tenar--tapi memang bisa membawa kesan bahwa tokoh dalam film itu memang dari kisah nyata yang mana penonton sudah cukup familier dengan orangnya?

Seperti film "Theory of Everything" yang menang banyak di ajang Academy Awards. Gila, pemeran Stephen Hawking-nya itu pas banget. Eddie Redmayne benar-benar sudah bikin kita (atau sekiranya si penulisnya sendiri) mengira bahwa dirinya memang Stephen Hawking sendiri. Apalagi Stephen Hawking juga masih hidup. Itu menjadi satu-dua nilai plus yang lain dari banyak kelebihan yang ada di dalam film "Theory of Everything".

Omong-omong, anggap saja penulisnya ini kampungan, yang jelas nama Eddie Redmayne ini masih terdengar asing di telinga penulis. Riset di Wikipedia, ternyata Eddie cukup lama malang melintang di dunia perfilman. Film pertamanya itu "Like Minds". Terus berlanjut ke film "Good Shepherd", "The Other Boleyn Girl", "Glorius 39", "Hick", "Les Miserables", hingga yang tergres "Jupiter Ascending". Mungkin entah karena filmnya tak begitu terkenal, entah juga karena ia lebih sering memerankan peran-peran kecil. Yang jelas, perannya di  "Theory of Everything" itu memang luar biasa. Total sekali memerankannya. Ia bisa membawa kesan bahwa dirinyalah si penemu teori lubang hitam tersebut. 

Usut punya usut, Eddie Redmayne ini ternyata lulusan dari Trinity College jurusan "History of Art". Ia juga pernah bermain teater beberapa kali. Salah satunya itu, "Animal Ark" yang memang debutnya sebagai pemain teater di tahun 1998. Tak ayal, Eddie bisa memerankan secara totalnya seorang Stephen Hawking yang kidal dan kadang berperilaku nyeleneh. Well, berlian agar terlihat makin kinclong, yah memang butuh proses lama dan harus terus diasah. Sama seperti Eddie yang terus mengasah bakat akting sejak di kampusnya, teaternya, hingga akhirnya bisa memerankan sebagai Stephen Hawking di  "Theory of Everything". Perjuangannya membuahkan hasil. Satu penghargaan best actor di ajang Oscar berhasil diraupnya. 

"Theory of Everything" sendiri merupakan sebuah film yang diangkat dari sebuah biografi berjudul "Travelling to Infinity: My Life with Stephen" yang ditulis oleh Jane Wilde Hawking, mantan istri Stephen Hawking yang walau sudah bercerai, namun masih menjalin hubungan baik. Yang mana, di filmnya itu, diceritakan keduanya pisah secara baik-baik. Tampaknya Stephen ingin memberikan yang terbaik untuk Jane agar bisa mengejar mimpi-mimpinya. Stephen tak mau mimpi-mimpi istrinya terus terbengkalai demi merawat dirinya. 

Menyimak dari opening hingga credit title, film ini jatuhnya memang romance, agak jauh kalau mau dibilang sebagai film biografi dari Stephen Hawking. Unsur romance-nya begitu kuat sekali. Sebab film ini lebih menyoroti hubungan Jane dan Stephen. Sumpah, waktu menontonnya, penulis sempat terpikirkan apakah sosok perempuan seperti Jane itu sungguh ada. Too good to be true, baby. Jarang sekali ada someone special yang ada di saat kita suka dan terlebih lagi saat duka. Meskipun sempat frustrasi dengan keadaan Stephen, Jane tetap setia. Bahkan Jane begitu mencoba untuk menyelami karier dan segala pemikiran Stephen. Bisa dibilang, sebetulnya Jane itu bagaikan soulmate untuk seorang Stephen Hawking. Sayang mereka berdua memutuskan untuk bercerai, dan Jane sudah menikah lagi. 

Selain soal kemampuan Eddie Redmayne, berikan aplaus untuk tim make-up dan Anthony McCarten  yang sudah membuat  "Theory of Everything" ini jadi terasa hidup. Sehingga penonton serasa berada di era di mana Jane dan Stephen hidup. Pasti tak gampang untuk membuat visualisasi seperti itu. Luar biasa!

Hingga film kelar pun, penulis belum menemukan kelemahan-kelemahan dalam  "Theory of Everything" ini. Paling, yah itu dia, sedikit membosankan. Tapi mungkin itu bukan suatu kelemahan yang cukup signifikan. Soal membosankan itu juga, penulis juga tak merasa terlalu mengantuk saat menontonnya. Justru penulis sudah dibuat terbuai saat menonton. Mau tak mau menyimaknya sampai tuntas. Saking bagus sekali cerita dan sinematografinya. 

Last but not least, dalam  "Theory of Everything" ini, kita bakal lebih tahu secara mendalam soal Stephen Hawking dan pandangannya soal Tuhan. Akibat menonton film ini, pandangan penulis berubah total. Ternyata Stephen Hawking masih percaya dengan Tuhan. Meskipun dulunya sempat meragukan keberadaan Tuhan sampai akhirnya sebuah penyakit ganas bernama amyotrophic lateral sclerosis yang menyerangnya saat masih mahasiswa. 

Akhir kata, film ini memang layak mendapatkan banyak piala Oscar.


RATE: 100



Genre: Romance
Produksi: Working Title Films
Distributor: Focus Features
Produser: Tim Bevan, Eric Fellner, Lisa Bruce, Anthony McCarten
Sutradara: James Marsh
Pemain: Eddie Redmayne, Felicity Jones,...
Bahasa: Inggris
Durasi: 123 menit
Tanggal Rilis: 7 September 2014  (untuk TIFF), 1 Januari 2015 (di Britania Raya)

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.