"Chappie": Sebuah Film Simbolisasi yang Agak Mirip dengan Kisah Pinokio




Cerita awal dari "Chappie" ini agak sedikit mirip dengan Robocop. Yaitu tentang penggunaan robot untuk menumpas kejahatan. Film yang diangkat dari sebuah novel yang dikarang oleh sang sutradaranya sendiri ini bercerita tentang kehidupan di kota Johannesburg yang sudah tak aman lagi. Angka kejahatannya semakin meninggi. Sehingga pemerintah Afrika Selatan akhirnya memilih untuk membayar sekelompok ilmuwan untuk memproduksi droid yang bisa membantu tugas polisi.

Film yang novel aslinya itu berjudul "Tetra Vaal" itu sebetulnya, maaf, kurang memiliki banyak twist. Mudah ditebak alurnya seperti apa. Namun yang membuat film ini terasa istimewa sekali, penulis merasa film ini juga mirip dengan cerita klasik karangan Carlo Collodi. Tahu, dong, cerita apa itu. Pinokio maksudnya. Yup, "Chappie" ini begitu mirip dengan kisah Pinokio.

Yang bikin mirip itu saat seorang ilmuwan muda bernama Deon Wilson bikin sebuah robot yang lain dari kebanyakan robot yang sudah dibuatnya. Robot ini lebih humanis. Sayang, tempatnya bekerja sempat memboikot. Entah karena frustasi, Deon menyeberang ke sisi jahat, bergabung dengan sekelompok kriminal yang mulai geram dengan keberadaan droid. Apalagi kelompok kriminal itu lebih bisa mengapresiasi karyanya yang terbaru, si Chappie itu. Walaupun bos kelompok tersebut punya rencana tersendiri. Chappie mau dimanfaatkan untuk mempermudah mereka melakukan sejumlah aksi kejahatan. Awalnya Deon sempat mati-matian menghalangi. Tapi apa daya, kelompok itu sulit ditahan. Apalagi Chappie juga sudah terpengaruh. Chappie malah sempat tak menghargai Deon selaku pencipta (dan mungkin ayahnya). That's why penulis bilang "Chappie" ini mirip dengan cerita Pinokio yang tak mau mendengarkan kata-kata Kakek Gepetto dan malah hobi mendengarkan suara-suara yang tak baik.

Kelak Chappie bakal sadar bahwa dia sudah melakukan kekeliruan. Deon rupanya benar. Kelompok kriminal, terutama bosnya, itu memang hanya memanfaatkannya. Di saat itu, kelompok kriminal itu diserang oleh seseorang dari organisasi di mana Deon bekerja. Chappie sadar pula mana yang benar-benar jahat sebetulnya.

By the way, "Chappie" ini sebetulnya film bagus. Walau premisnya sedikit mirip Robocop, "Chappie" tetap film yang cukup direkomendasikan. Film ini juga menyadarkan penulis bahwa terkadang orang jauh ke lubang hitam itu karena tak memiliki kesempatan. Sama seperti Deon yang mau saja bekerja sama dengan geng yang terdiri dari tiga orang: Ninja, Yolandi, dan America.

Hanya saja, penulis merasa "Chappie" ini sedikit agak dikebut pembuatannya. Alurnya terkesan terburu-buru menuju ending. Pun banyak ditemukan kejanggalan-kejanggalan. Salah satunya saat Chappie itu dibakar oleh sekelompok berandalan cilik. Oh please, Chappie itu mesin, kan. Yang namanya mesin jika diberikan api, pasti terbakar atau mungkin meledak. Untung saja, "Chappie" memiliki akhir film yang cukup menyentuh.

Soal penggunaan efek-efek, terlebih efek spesial, jangan ditanya. "Chappie" cukup luar biasa. Porsi antara permainan efek dan cerita juga cukup berimbang. Hanya saja sempat ada kebingungan soal lini masanya. Sebetulnya "Chappie" ini mengambil latar di tahun berapa? Masa sekarang atau masa depan?

Dan, selain mirip Robocop dan Pinokio, "Chappie" sepertinya agak merupakan sebuah film satire. Mungkin novel "Tetra Vaal" itu juga begitu kali. Sebetulnya dibilang satire juga kurang tepat. Namun penulis beranggapan bahwa "Chappie" ini seperti berusaha menyampaikan bagaimanakah hubungan antara Tuhan dan manusia akhir-akhir ini. Itu terlihat dari hubungan Deon dan Chappie. Simbolisasi sepertinya cukup banyak bermain dalam "Chappie".


RATE 80 / 100


Genre: Sci-Fi, Action
Produksi: Media Rights Capital
Distributor: Columbia Pictures
Produser: Simon Kinberg
Sutradara: Neill Blomkamp
Pemain: Sharlto Copley, Dev Patel, Watkin Tudor Jones, Yolandi Visser, Jose Pablo Cantillo, Sigourney Weaver, Hugh Jackman,...
Bahasa: Inggris dan Afrikaans
Durasi: 120 menit
Tanggal Rilis: 6 Maret 2015 (di Amerika Serikat), 4 Maret 2015 (khusus di New York)

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.