Mesin Waktu = Kotak Pandora (?)




Ada yang sudah menonton Interstellar? Itu merupakan film tentang sekelompok antariksawan yang dalam misi mencari planet yang bisa ditinggali selain Bumi. Di luar itu, mereka juga diharapkan bisa memecahkan persoalan worm hole dan black hole.



Tiga astronot tengah dalam misi memecahkan solusi soal worm hole.
Tambahan informasi nih. Worm hole itu semacam batu loncatan untuk mempermudah perjalanan waktu. Dan black hole itu... perlu dijelaskan apa itu black hole. Itu lho lubang hitam yang hobi mengisap benda-benda langit yang ada di dekatnya. 

Lewat postingan ini, tak bermaksud untuk me-review film besutan Christopher Nolan tersebut. Filmnya, harus penulis akui, cukup bagus--dan membosankan. Yup, membosankan (Heran deh, kenapa IMDb bisa kasih rating 8,9). Dua jam penayangan film itu sukses bikin penulis jadi terkantuk-kantuk parah. Baru sisanya, film ini menunjukan tanda-tanda gegap gempita. Baru menarik untuk ditonton.

Ha-ha-ha.

Dan dari film yang dibintangi oleh Anne Hathaway itu, selama menontonnya juga, sang penulis yang ganteng ini sempat terpikirkan soal time travel. Bertualang waktu. Semua sudah pernah menonton sinetron "Lorong Waktu" kan. Yang dulu pernah eksis di pertelevisian Indonesia era 2000-an awal. Sinetron tentang keberadaan sebuah mesin waktu yang dijalankan oleh seorang ustad. 

Nah soal konsep mesin waktu itu, dulu penulis sering sekali berangan-angan andai saja mesin waktu itu bukan sekadar bumbu cerita. Keberadaannya itu benar-benar ada. Manusia bisa bertualang waktu, entah itu mau ke masa depan, entah itu mau ke masa lalu. Sepertinya enak yah, kita bisa mengintip seperti apa masa depan kita. Siapa tahu, setelah tahu istri kita di masa depan itu berbeda tipis sama Selena Gomez, bisa jadi pelecut semangat. Tiap malas menyerang, membayangkan lagi istri bertampang Hispanik itu, kan langsung jadi semangat lagi buat beraktivitas. Menjalankan sesuatu itu jadi lebih mudah karena kita sudah dapat kepastian soal masa depan kita.

Ya keleus, kalau punya masa depan kayak gitu. Punya istri secantik Selena Gomez, punya rumah bak istana, atau tongkrongan di garasi itu Ferrari atau Mazda minimal, hidup kita bisa jadi lebih mudah. Ha-ha-ha.

Teman-teman, terpikirkan tidak -- mesin waktu itu betul-betul bisa diwujudkan keberadaannya? Iya, bisa diwujudkan. Jadi, tak sekadar berada di angan-angan kita semua. Bahkan sekelompok ilmuwan juga pernah mengatakan bahwa mesin waktu itu bisa diciptakan. Menurut salah satu teori dalam ilmu Fisika, kita bisa pergi ke masa depan. Itu terjadi bila manusia pergi menjauh dari Bumi dalam waktu yang sangat cepat, lalu kembali lagi ke bumi, maka bisa dipastikan manusia sudah tiba di masa depan. Namun itu baru sekadar teori. Karena sampai sekarang kan, belum ada artikel manapun yang menceritakan tentang seseorang yang bisa pergi ke masa depan.

Lalu, masih ada lagi teori lainnya. Yaitu ketika manusia bisa menciptakan alat transportasi seperti yang ada di Back to the Future, yang mana bisa bergerak melebihi kecepatan cahaya. Ingat, cahaya itu bergerak lebih cepat daripada suara. Makanya, tak heran, kilat lebih dulu ada ketimbang petir. Dan sampai sekarang juga belum ditemukan mobil seperti yang dikendarai oleh Marty McFly, tokoh di Back to the Future.

Sekarang sih sudah ditemukan pesawat yang bergerak melebihi kecepatan suara. Namanya pesawat Concorde. Namun, para ilmuwan masih melihat bahwa kendaraan yang bergerak melebihi kecepatan cahaya itu sebagai suatu yang mustahil diciptakan. Kalau aku sendiri sih berpendapat, tidak ada mustahil di dunia ini. Segala hal bisa terjadi. Termasuk menikahi model papan atas. Ha-ha-ha. Dulu saja, sebelum phonograph diciptakan oleh Thomas Alva Edison, tak satu pun manusia yang bisa membayangkan kalau kelak ada suatu alat yang bisa menyimpan suara, yang bisa diperdengarkan kembali. Sebelum muncul Edison denganphonograph-nya, manusia hanya bisa menciptakan alat yang bisa menyimpan suara, tapi tak bisa diperdengarkan kembali. Lalu Edison muncul, dan berpandangan bahwa jikalau suara itu bisa ditelusuri, tentu manusia bisa mendengarnya kembali.

Nah kalau suara bisa ditelusuri, pasti dong cahaya bisa ditelusuri jejaknya. Pasti suatu saat manusia bisa menciptakan alat dimana kita bisa menelusuri jejak cahaya, yang otomatis kita bisa bertualang ke masa lalu dan masa depan. Yah, sebetulnya mesin waktu itu bisa diciptakan kalau manusia bisa menjelaskan lebih lanjut permasalahan cahaya itu. Bukankah menurut ilmu pengetahuan, dunia ini tercipta karena adanya ledakan cahaya besar yang dinamakan big bang? Berarti sama seperti prinsip pembuatan phonograph, dengan menelusuri jejak demi jejak cahaya, ta-ra... mesin waktu sudah di depan mata.

Mungkin sekarang ini sebetulnya manusia sudah bisa menciptakan alat yang bisa digunakan untuk menelusuri jejak cahaya. Itu lho cakram yang kalau kita masukan ke pemutarnya, kita bisa melihat beragam jenis film. Bunga Flamboyan bisa, action bisa, horor bisa, komedi juga bisa. Bukankah kamera video juga bekerja sesuai dengan prinsip sama yang digunakan Edison saat menemukan phonograph?

Yah, namun sepertinya kita hanya bisa melihat saja. Mungkin kemampuan berpikir manusia memang baru sebatas untuk membuat alat semodel kamera video itu. Mungkin kita belum mampu (Atau mungkin belum siap) untuk membuat mesin waktu; mesin dimana kita tak hanya melihat, namun juga merasakan. Dan mungkin memang benar, mustahil kita bisa bergerak sama seperti kecepatan cahaya. Apalagi untuk menelusurinya dan mengalaminya kembali.

Kalau dipikirkan ulang, mungkin mesin waktu itu ibarat kotak Pandora. Tahu kan kotak Pandora itu?

Pandora merupakan nama tokoh dalam mitologi Yunani. Menurut mitologi Yunani -- yang kurang lebih sama seperti di Alkitab, hanya ada satu jenis manusia. Dahulu Bumi itu hanya ada kaum adam saja. Dan Prometheus itulah yang menciptakan kaum lelaki. Lalu semuanya berubah setelah Prometheus membuat jengkel Zeus dengan mencuri api dari surga demi membantu pekerjaan para lelaki yang dibenci keberadaannya oleh Zeus.

Zeus murka. Lalu bersama-sama para dewa-dewi lainnya menciptakan yang namanya perempuan. Konon Pandora itu merupakan perempuan pertama di muka bumi ini (Kalau di kitab Kejadian, kita mengenalnya sebagai Hawa atau Eve). Dan Pandora itu dianugerahi banyak hal. Aphrodite memberikannya kecantikan, Apollo memberikannya kemampuan bermusik, Athena mempersembahkannya pakaian terindah, lalu terakhir, Hermes memberikannya kemampuan bercakap-cakap.

Sempurna. Pandora yang sempurna itu lalu dikirimkan ke Bumi untuk menemui Epimetheus, saudara Prometheus, kaum raksasa yang diperintahkan untuk menciptakan laki-laki. Selang beberapa lama, Zeus dan para dewa-dewi lainnya menghadiahkan Pandora dan Epimetheus itu sebuah guci yang bersegel. Oleh Zeus, guci dilarang untuk dibuka. Namun saking penasarannya, Pandora membuka gucinya, lalu segala hal-hal buruk memasuki Bumi. Yah itu penyakit iri, penyakit dengki, kebencian, amarah, nafsu, dll, dsb -- yang mungkin kita mengenalnya sebagai tujuh dosa utama manusia.

Nah, dari legenda itulah, kenapa aku bisa bilang mesin waktu itu ibarat kotak Pandora. Bisakah kalian bayangkan andaikata Tuhan mengijinkan manusia untuk memiliki pengetahuan soal time travel itu? Bisa ditebak, pasti mesin waktu bakal ada. Pasti mesin waktu bakal jadi komoditas paling populer yang mengalahkan televisi, komputer, kendaraan bermotor, atau lampu. Pasti lalu lintas waktu akan ramai, sehingga diperlukannyalah seorang petugas lintas waktu.

Ha-ha-ha. 

Lagian, kalau ada mesin waktu, pasti bakal dimanfaatkan banget sama manusia. Semua orang pasti ingin melihat masa depannya. Semua orang pasti ingin melihat masa lalunya, dan kalau perlu memperbaikinya. Semua orang, tanpa terkecuali, pasti akan melakukan apa yang kutulis ini. Karena pada dasarnya manusia itu makhluk dengan keingintahuan maha dahsyat (Pantas Hawa gampang tergoda bujukan ular). Sehingga, jika dibiarkan terus menerus, berani jamin, kehidupan di Bumi jadi berantakan sekali.

Ya iyalah berantakan. Bagaimana tidak berantakan, jika tiap orang itu pergi ke masa lalu, lalu cepat atau lambat akan memperbaikinya. Kehidupan di Bumi jadi tak berpola sama sekali. Dan pelajaran Sejarah mungkin tak akan pernah ada di muka Bumi ini. Bagaimana mau ada pelajaran Sejarah, kalau rekam jejak seseorang pun bisa berubah-ubah tiap detik. Apa yang mau dipelajari? Dan masa depan tak akan pernah ada apabila masa lalunya berantakan dan tak berpola. Tambah kacaunya lagi, andaikata manusia mulai berusaha menyelidiki siapa dia sebenarnya dan dunia ini tercipta. Manusia mungkin bakal tahu siapa tahu penciptanya. Dan mungkin mereka akan berusaha menyaingi si Pencipta dengan membuat dunia yang mereka inginkan. Alhasil, kalau sudah begitu, manusialah pencipta atas diri mereka sendiri. 

Jika masa depan itu masih tetap ada dengan masa lalu yang tak berpola, manusia juga pasti jadi makhluk yang lebih pemalas daripada binatang. Bayangkan, buat apa kita berharap semuluk mungkin, kalau kita sudah tahu bahwa masa depan kita itu tak lebih dari masa sekarang yang seorang penjual voucher isi ulang. Buat apa juga bekerja banting tulang, kalau kita sudah diberikan jaminan bahwa kelak kita akan menjadi milyarder.

Karena itulah, kenapa aku bilang mesin waktu itu ibarat kotak Pandora. Dan alasan-alasan di atas itu hanya segelintir dari pemikiran-pemikiranku yang belum dituangkan. Mungkin kalian bisa cari tahu sendiri kenapa mesin waktu itu tak akan pernah terciptakan dalam bentuk fisik.

Kalau dipikir lagi, mungkin lebih baik mesin waktu itu hanya sekadar teori belaka. Lebih baik seperti itu. Jauh lebih baik jika manusia itu hanya mengetahui masa lalunya saja, tanpa ada usaha untuk memperbaikinya langsung. Manusia kan jadi memiliki kemauan untuk berintrospeksi dan merenung. Bukankah proses pendewasaan itu terjadi saat manusia mau merenungi apa yang sudah ia alami?

Kemudian, dengan tidak bisa diketahuinya masa depan, bukankah itu jadi jauh lebih mengasyikan? Kita tak perlu membebani otak kita dengan pikiran-pikiran yang tak perlu. Masa depan hanya ada di awang-awang dan akan terus menjadi suatu pengharapan di tiap manusia itu melakukan aktivitasnya tiap hari. Dan berimajinasi itu sebetulnya sebuah kegiatan rekreasi. Dengan berimajinasi, otak kanan kita bekerja. Andaikata masa depan itu bisa diketahui, pasti otak kiri manusia akan memulai membuat berbagai rencana menuju masa depan tersebut. Ketidakseimbangan pun tercipta. Sebab otak kanan jadi terabaikan fungsinya.

Maka dari itu, lebih baik bagi kita hidup dengan mesin waktu yang akan terus menjadi teori belaka.

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.