Konsep 'Bad' yang Unik dalam "Call Me Bad Girl"




Ini dia yang namanya Busaba. 
Entah kenapa, untuk film Thailand yang satu ini, penulis merasa sedikit menyesal untuk menontonnya. Serasa sudah membuang uang sebanyak tiga puluh ribu rupiah secara tak berfaedah. Filmnya memang lucu. Khas film-film bergenre sejenis lainnya dari negeri Siam tersebut. Banyak adegan yang cukup bisa membuat penulis terbahak-bahak. Namun tetap saja, bagi penulis, film ini kurang begitu bagus. Kenapa?

Sebabnya film ini memiliki alur yang sedikit membingungkan. Terlalu random ceritanya. Ditambah lagi, film ini terasa dangkal ceritanya. Selain itu, yang bikin penulis gemas itu soal konsep baik dan buruk tersebut.

Well, penulis menonton film ini juga karena tertarik dengan tagline-nya: "I'm cutie, I'm sassy, I'm bad,... you still love me anyway, right?" Mari garis-bawahi secara tebal-tebal kata 'bad'.


Anggapan awal, film ini tentang seorang pria baik-baik--yang tipe pria rumahan begitu--yang menyukai seorang wanita tipikal bitchy--yang memiliki gaya urakan, senang kehidupan malam, dan liar serta tak terkendali. Itu anggapan awal sang penulis yang kalau bicara soal film Thailand, dia tahunya hanya Aom dan Mario Maurer saja. Tapi ternyata keliru. Agak (untuk penegasan saja).

Tokoh utama wanitanya sih memang tipe bitchy yang hobi masuk klub malam dan minum-minum sampai teler. Tipe wanita yang juga playgirl. Sesuai dengan anggapan awal penulis kita yang ngepens banget sama Yuki Kato.

Sementara untuk tokoh utama pria, memang dari penampilan itu sudah sesuai. Tipe pria baik-baik yang cenderung anak rumahan. Tapi itu sampai setidaknya di salah satu scene, di mana sang pria malah ternyata tak jauh berbeda dengan Busaba, tokoh utama wanitanya. Sama-sama doyan minum dan mabuk. Rada aneh melihat cara Nuasamut yang coba menghilangkan stress dengan minum minuman beralkohol.

Dari situlah, penulis mulai merasa bahwa sang sutradara (dan kru-kru lainnya) memiliki konsep super unik soal baik dan buruk. Mungkin mereka lebih menitikberatkan soal kesetiaan. Dan konsep 'bad' (dari tagline-nya) lebih mengacu keliaran Busaba yang sempat bikin Nuasamut geli. Atau dengan kata lain, konsep 'bad' yang diangkat ialah saat di mana sang tokoh utama wanitanya itu hobi mempermainkan perasaan orang lain. Itu dia!

Hal itu dipertegas oleh kata-kata ibunda dari Nuasamut: "Sekali kuda liar, tetap kuda liar. Mereka lebih menyukai kebebasan." Kuda liar di sini itu sejenis ungkapan khas Thailand untuk menyebut seseorang yang kurang menyukai suatu komitmen dalam hubungan asmara. Apalagi memang Busaba dan teman-temannya sepakat untuk tidak terlalu lama menjalin hubungan dengan seorang pria, terlebih lagi sampai jenjang pernikahan.

Kalau bicara bagaimana sang sutradara merangkai chemistry antara Nuasamut dan Busaba, agak lumayan kacau. Di awal itu diceritakan Busaba ini sempat terkesan dan jatuh cinta dengan bagaimana cara Nuasamut memperlakukannya. Apalagi Nuasamut sampai rela menerjunkan diri ke danau akibat skenario yang Busaba buat. Namun cerita selanjutnya malah menceritakan mengenai Busaba yang seperti seorang perempuan jalang, yang hanya ingin sesuatu dari Nuasamut yang bekerja sebagai seorang CEO. Oke mungkin kacau bukan kata yang tepat.  Bagaimana kalau membingungkan?

Well, hubungan Nuasamut dan Busaba memang cukup membingungkan. Kurang jelas siapa suka siapa. Apakah Nuasamut yang suka Busaba? Atau malah sebaliknya? Tapi mari kita abaikan. Bukankah seringkali kisah-kisah romansa itu cenderung membingungkan dan complicated? Walaupun, mau dilihat bagaimanapun, penulis merasa jalan dua tokoh utama menuju ending terasa begitu dikebut. Kita--para penonton--kurang bisa merasakan timbulnya cinta antara Nuasamut dan Busaba. Sekejap penonton dipertunjukkan saat Busaba menerima pinangan Nuasamut. Eh lain waktu Busaba dengan akal bulusnya berencana untuk mengakhiri hubungan dengan Nuasamut, yang kelak disesalinya. Terasa ngebut. Kita sebagai penonton tak diberikan kesempatan untuk menikmati aura dari momen-momen tersebut. Kita malah lebih disuguhi oleh aksi-aksi komikalnya. Mungkin itulah yang menjadi penyelamat dari film ini, sehingga cukup terasa layak untuk direkomendasikan. Itu pun dengan sedikit berat hati.

Kalian tahu kenapa, menonton "Call Me Bad Girl" ini serasa menonton film-film Indonesia bergenre sejenis yang dulu sempat marak menghiasi bioskop tanah air. Ambil contoh "Otomatis Romantis" yang keluar pada tahun 2008. Sinematografi khas film-film drama. Cerita romance yang kurang nendang. Berharap saja "Call Me Bad Girl" ini tak tergerus oleh waktu yah. Mari kita aminkan.

Sekali lagi, sebagai penutupnya, penyelamat dari film ini hanyalah di unsur humornya. Juga pada konsep baik-buruknya yang rada nyentrik. Oh satu lagi, penulis sangat menyukai kata-kata ibunda dari Nuasamut itu.

"Sekali kuda liar, tetap kuda liar. Mereka lebih menyukai kebebasan."




RATE: 75 / 100



Genre: Komedi-Romantis
Sutradara: Ong-art Cheamcharoeporn Pemain: Pechaya Wattanamontri, Teeradetch Methawarayuth, Sararat Sajew, Panpaporn Ponpipat, Suwapit Taipornworrakit, Phenphak Sirikul,...
Bahasa: Khmer
Subtitle: Inggris dan Indonesia
Durasi: 90 menit
Tanggal Rilis: 23 Desember 2014

2 comments:

  1. Replies
    1. Wah ga ada saya. Ini cuma khusus kasih review dan bedah film/drama aja. Hehe. Maaf.

      Delete

Silakan berkomentar dengan bahasa yang sopan! Komentar-komentar yang bermuatan negatif akan dihapus.