Bakpau A-Satu












Komentarku setelah mencicipi Bakpau A-Satu yang ada di FoodHall Senayan City:

"Sebetulnya aku pilih yang rasa kacang hijau, yah karena sudah kebiasaan. Itu bakpau rasa kesukaanku selain yang rasa coklat. Sementara Dias, dia memang lebih menyukai yang serba daging-dagingan, apalagi yang mengandung B2 (atau pork, dalam bahasa Inggris Slang-nya). Soal selera, memang tidak boleh diperdebatkan juga sih. 
Anyway, bakpau A-Satu ini ukurannya kecil, namun isinya lebih banyak. Variasi rasanya juga bermacam-macam. Harganya sebetulnya tak terlalu mahal, tak terlalu murah. Walau untuk beberapa varian rasa, ada yang sedikit mahal."












Tertarik untuk mencicipi Bakpau A-Satu? Salah satu gerainya ada di FoodHall Senayan City yang ada di lantai lower ground (LG).  Masuk saja ke FoodHall-nya. Gerainya tak jauh dari foodcourt-nya FoodHall. 






15 Sep 2017  Immanuel Lubis 2

Mencicipi Yang Namanya Rum @ Häagen-Dazs













Nama es krim ini Rum Raisin. Baru diberitahukan juga oleh Dias, rum itu semacam anggur Perancis, yang biasa diolah menjadi minuman beralkohol (atau minuman keras). Pertama kali icip, apalagi saat mengunyah buah rum-nya, kepalaku agak pusing sedikit. DEP SEDEP memang. Lumayan empuk juga. Penampakannya agak mirip sedikit dengan buah kurma (di es krimnya tersebut), meskipun ini buah anggur. Terasa manis juga sedikit juga, walau agak berbau obat (mungkin di situlah unsur alkohol-nya). Itulah juga yang membuat kita agak pusing saat mengunyahnya. Kalau mencicipi hingga di atas 5 scoop sekaligus, bisa mabuk kita kali yah, hahaha.












Karena dari luar negeri, juga termasuk buah impor, tak heran harganya agak mahal sedikit. Meskipun tak ngaruh juga yah. Soalnya dua scoop-nya itu seharga Rp 65.410 (Hitung sendiri berapa satu scoop-nya! 😆). Lebih murah dari Baskin Robbin yang sudah lebih terkenal di Indonesia. Kelebihan lainnya dari Häagen-Dazs ialah es krimnya rata-rata memiliki bentuk dan rasa yang unik-unik (mungkin karena berasal dari Perancis, sebuah negara yang memiliki ketrampilan berkuliner yang sangat luar biasa dan eksentrik). Bahan pembuat es krimnya juga pilihan. Yah tapi itu semua tergantung selera juga. 











Foto di atas tersebut merupakan salah satu jenis varian es krim yang dijual di Häagen-Dazs (yang ada di Summarecon Mal Serpong). Bentuknya unik yah?! Rasanya apalagi. Sangat luar biasa DEP SEDEP. Pertama kali masuk, aku agak kaget. Selain dibawakan es krim (yang nama jenisnya lupa), disuguhi air putih. Gratis pula. Apa ini kebiasaannya atau bukan? Jujur saja, sehabis makan es krim, kita memang butuh minum air putih (atau air mineral) untuk menetralisir kandungan gulanya. 












Anyway, Häagen-Dazs ini wajib dikunjungi juga. Es krim-es krimnya sangat layak dicicipi. Tak terlalu mahal pula. Buat yang ingin makan es krim sambil nongkromg begitu, tak ada salahnya mampir ke Häagen-Dazs. Ini, aku lagi mengunjungi salah satu cabang Häagen-Dazs yang ada di Senayan City lantai 5. Kebetulan aku ditraktir Dias yang tengah merayakan sesuatu, hehe. 













15 Sep 2017  Immanuel Lubis 0

Spaghetti Ala ROTI BAKAR PRESIDEN PAKOJAN













Walau Spaghetti Sauce Bolognese ini dijual oleh tempat-tempat kuliner kecil, belum lagi berlokasi di jalan yang bukan jalan utama di Tangerang (juga baru buka sejak 24 Desember 2016), kalian tetap jangan meremehkannya. Benar-benar DEP SEDEP. Racikan bumbu spaghetti-nya (yang dikenal dengan nama pasta) benar-benar bisa menandingi buatan rumah makan-rumah makan atau restoran-restoran yang sedikit lebih mentereng. Bahkan tak kalah pula dengan spaghetti buatan restoran-restoran Italia. Yang bikin unik lagi: taburan kejunya. It makes more tastier. Untuk mi-nya juga sama. 

Alhasil, buat yang lagi pengin makan spaghetti tapi nggak mau rugi (baik di uang, waktu, maupun energi), spaghetti ala ROTI BAKAR PRESIDENT PAKOJAN ini harus diicipi. Bisa dipesan lewat aplikasi GrabFood dan GoFood. Harganya hanya Rp 23.500. Dijamin puas dan kenyang! 












Kalau pengin tahu tempatnya, mudah saja. Lokasinya tak terlalu sulit. Sebab tak terlalu jauh dari jalan tol Tangerang-Jakarta. Jika kalian yang tinggal di Alam Sutera hendak melaju ke daerah Ciledug--lalu lewat daerah Cipete (biasa dikenal sebagai Cipete Pakojan), nah di situlah letak ROTI BAKAR PRESIDENT PAKOJAN. ROTI BAKAR PRESIDENT PAKOJAN ini terletak persis di depan gerbang belakang Perumahan Banjar Wijaya; juga tak jauh dari Kota Moderen (nama lamanya Modern Land).

Saat lihat di Google Map, tempatnya sangat cozy. Cocok buat dijadikan tongkrongan. Bersih pula. Ada wifi juga. Tak salah memasukan ROTI BAKAR PRESIDENT PAKOJAN ke dalam daftar kuliner di Tangerang yang harus dicicipi. 













Menunya apa saja?

Wah macam-macam, deh! Selain spaghetti, ada waffle, pisang bakar, roti bakar, milkshake, dan indomie. Indomie-nya ini tak seperti mi-mi yang dijual di tiap warmindo (baca: warung makan indomie). Benar-benar enak walau mi-nya menggunakan mi instan yang dijual dengan harga sekitar 2000-an. Bisa pakai topping pula--yang ada topping telur mata sapi, keju atau kornet. Belum lagi ada menu Indomie Gotong Royong (4 mi instan yang digoreng berbarengan) untuk kalian, para pecinta mi instan ala warmindo. Mantap kan! Soal rasa, Indomie Gotong Royong ini sangat DEP SEDEP, apalagi yang rebusnya. Kuahnya itu bikin ketagihan.











Gimana? 

Tertarik? 

Ya sudah, kunjungi ROTI BAKAR PRESIDEN PAKOJAN di Jalan HR Rasuna Said, Cipete, Tangerang, yang ada di belakang persis Perumahan Banjar Wijaya (satu dari sekian perumahan elit di Tangerang). 






14 Sep 2017  Immanuel Lubis 0

Makan Bertiga @ Mujigae, Summarecon Mal Bekasi







Yang pakai jersey Manchester United dan tas bertuliskan 'SCTV' itu Dias (also known as Kristoforus Bramandias). Yang pakai kaus oblong kelonggaran itu Mas Toni. Terakhir, yang paling ganteng, yah gue, novelis "Misi Terakhir Rafael: Cinta Tak Pernah Pergi Jauh"






Kesan setelah makan di Mujigae, Summarecon Mal Bekasi:  
"Hmm, mahal yah. Tapi rata-rata masakan Korea memang mahal-mahal; yang sampai ke minumannya segala. Lebih mahal masakan masakan Korea ketimbang  masakan Jepang. Terus, antara nasi dan dagingnya, nggak balance juga. Banyakan nasinya. Apa karena dimakannya bertiga? Harusnya disesuain juga agar bisa dimakan bertiga. Pas dagingnya habis, nasinya masih ada, alhasil kebuang. Sempat kepikiran digadoin sama kimchi. Tapi gak jadi. Karena itu ternyata pilihan yang goblok. Kimchi itu semacam bumbu di Korea sana; dan rasanya pedas dan asin gitu. Hiiiy!!!!! Anyway, terakhir, Dias ternyata jago masak juga."






12 Sep 2017  Immanuel Lubis 2

Nasi Biryani






Nasi biryani itu.....












Nasi biryani itu,--yah seperti ini. Seperti nasi yang diberi santan dan ditambahkan banyak rempah-rempah. Sangat pedas? Pasti! Tapi sangat DEP SEDEP pula. Lumayan harum dan menggairahkan. Sangat berselera. Mungkin nasi biryani ini merupakan salah satu bukti bahwa kuliner India itu--meskipun pedas--sangat berselera.












Seperti post sebelumnya (baca: martabak India), ada daging kambingnya. Rupanya nasi biryani itu juga dimakan dengan campuran kare India yang terkenal sangat pedas. Daging kambingnya (yang dikenal dengan sebutan kebuli) sangat renyah. 

Anyway, setelah searching di Google, baru tahu, nasi biryani utamanya dicampur dengan sayuran, daging, telur, rempah-rempah, yoghurt, dan buah-buah kering. Namun saat aku makan tadi, yang terlihat dan terasa hanya rempah-rempah dan daging saja. Mana campurannya yang lainnya? Apa mungkin terselip saking mengolahnya sangat mahir? Atau nasi biryani ini versi sederhananyakah? Entahlah. Konon, cara pembuatan nasi biryani ini juga sangat sulit; tak semudah yang kita pernah bayangkan. Walau kenyataannya memang rumit jika membaca tulisan ini: cara pembuatan nasi biryani












Harga seporsinya Rp 32.000. Di mana belinya? Masih sama seperti post sebelumnya, yah di sini dong.












12 Sep 2017  Immanuel Lubis 0

Oh Ini Toh yang Disebut Martabak India







Yang ini dokumentasi pribadi. 






Well, pengalaman pertama itu selalu sesuatu. Dan, inilah pengalaman pertama aku merasakan kuliner bernama martabak India. Awalnya aku kira itu semacam martabak telur yang diberikan bumbu kari India yang sudah terkenal sangat pedas (namun sangat bikin kangen). Eh ternyata martabaknya itu lebih menyerupai telur dadar. Benarkah seperti ini bentuknya? Atau ini merupakan hasil kreasi dari tempat kuliner bernama "Roti Cane dan Martabak India Ibu Gandhi"? Entahlah, biarkan waktu yang menjawab.

Walau bentuknya lebih mirip telur dadar, secara rasa, ada kemiripan juga dengan martabak telur yang kita kenal selama ini (lewat penjual martabak yang berkeliaran di atas jam 5 sore). DEP SEDEP, kok. Mungkin cikal bakal martabak telur ini dari martabak India seperti ini. Toh martabak memang berasal dari India juga sebetulnya.

Untuk kari-nya, memang amat pedas. Kari India memang berasa seperti itu. Sangat pedas daripada kari China, kari Korea, maupun kari Jepang (yang lebih manis). Namun, yang pedas inilah yang menjadi daya tarik martabak India ini. Seperti tak bisa dipisahkan saja mau bagaimanapun dunia ini dengan kejinya ingin memisahkan (#halah). Sebab, kalau tak pakai kari, berani sumpah, rasanya biasa saja, walau tetap DEP SEDEP. Apalagi dimakan sekaligus bersama acar. Plus, daging kambingnya lumayan empuk juga; nggak atos (baca: keras). 






Foto dari Google Map. Di Google Map, belum tersedia informasinya. Iseng saja, aku masukan ke database-nya. Yang serba DEP SEDEP, memang harus dipromosikan. 







Dari foto tersebut, ketahuanlah kalau aku mencicipi martabak India tersebut dari tempat yang seperti yang ada di foto di atas paragraf ini. Tempatnya berlokasi di Jalan MT. Haryono, Tangerang. Di aplikasi GrabFood, disebutnya: 'Roti Cane dan Martabak India Ibu Gandhi - Pasar Lama Jl. MT Haryono No. 34A (Samping Kel. Sukasari Tangerang), Kec. Tangerang, Tangerang, Kec. Tangerang, 15118'. Tak salah, karena memang berada tak jauh dari Pasar Lama. Buat yang tinggal di daerah BSD, lalu mampir ke Pasar Lama, kan pas balik ke BSD lagi, kalian akan melewatinya juga. Tempatnya berada di kiri yah?! Tak jauh juga dari GOR Damyati yang cukup melegenda di daerah Tangerang wilayah kotamadya (GOR itu sudah satu dekade lebih berada di sana). 

Tempatnya agak kecil. Tapi karena sudah mencicipi martabak india-nya, menu-menu lainnya juga pasti DEP SEDEP.  Aku sangat merekomendasikan tempat ini buat para penggemar kuliner dari India. Ada nasi biryani dan kebuli juga, loh. Sorry belum bisa menunjukan foto dalam tempatnya seperti apa (Maklum pesannya hanya lewat aplikasi. Iya aku tahu, hanya tahu lewat aplikasi, tapi menuliskannya sudah seperti benar-benar pernah pergi dan makan di sana saja. Tubuhku di berada rumah, tapi roh dan pikiranku melayang-layang hingga Jalan MT Haryono #halah). Tapi berani jamin, segala kuliner di sana sangat DEP SEDEP! Kelebihan lainnya: harga tak terlalu bikin dompet jebol 😆.






8 Sep 2017  Immanuel Lubis 2

Nasi Jambul Rumah Makan Ndelik













Rasanya nasi jambul itu seperti nasi uduk. Yah, nasi jambul itu hampir mirip dengan nasi uduk, baik secara tampilan maupun secara rasa. Walaupun waktu aku pertama kali mencicipi, itu rasanya mirip seperti nasi yang dibakar lalu diberikan abon (mungkin cara pembuatannya dengan cara dibakar atau di-steam). Kurang lebih seperti itulah rasa jambul. Meskipun demikian, nasi jambul tetaplah DEP SEDEP. Ini salah satu kuliner yang harus dicicipi pula. 

Secara tampilan, nasi jambul ini cocok juga dijadikan bahan sarapan kalian. Tapi entahlah. Mungkin karena baru mencicipi nasi jambul di satu tempat, jadi kesan pertama itu: nasi jambul isinya sedikit; lalu lauknya hanya nugget, dua timun, dan beberapa iris daging ayam. Mirip kayak nasi kucing juga. 

Kalau dilihat dari nama tempat di mana aku pesan, kayaknya nasi jambul ini penganan dari Jawa sana yah (Maksudnya, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur). Ndelik itu loh. Belum lagi beberapa menunya itu. Khas Jawa sekali. Tak heran, aku sempat berpikir nasi jambul itu kuliner dari Jawa sana. Semoga saja salah yah. Berasumsi--apalagi kalau salah--sungguh tak mengenakkan. Memberikan informasi yang salah itu jelas tak ada dalam kamusku pula. Ditambah lagi, beban moral dalam memberikan informasi itu sangat besar. Salah-salah orang yang mendapatkan informasi malah jadi tersesat. Itu ibarat ada orang yang bertanya, lalu kita berikan alamat yang salah, walhasil orang itu tak akan sampai (padahal tengah bawa orang sakit parah). 












Eh, aku bicara apa yah? Keluar dari topik pula. Haha, maklum orangnya kadang suka OOT (baca: out of topic). 

Kembali ke soal nasi jambul lagi, jika kalian penasaran, silakan main-main ke Tangerang, ke Jalan Perintis Kemerdekaan. Rumah Makan Ndelik berada tak jauh dari Mal TangCity. Tak jauh pula dari terminal angkot. Kenapa aku merekomendasikan ke sana? Sebab aku baru pertama kali makan nasi jambul dan itu datangnya dari Rumah Makan Ndelik. 

Kalau dilihat dari foto-foto yang ada di Google Map, tempatnya agak kecil. Bangku-bangkunya sedikit (walau masih cozy). Parkirannya sedikit dan selalu ramai oleh kendaraan. Maklum saja Rumah Makan Ndelik ini terletak di pinggir jalan besar. Dekat sekolah pula. Kalau mau, datang pagian. Di aplikasi GrabFood, jam pengantarannya itu dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Mungkin Rumah Makan Ndelik bisa buka lebih cepat dari yang ada di aplikasi. Minimal setengah jam lebih awal. Aku saja pesannya baru sekitar jam 8 pagi.

Terakhir, selain nasi jambul, ada pula lontong, nasi lemak, soto, dan sop iga. Yang serba Jawa, ada di sini kayaknya, hehe. Datang yah! 😊












2 Sep 2017  Immanuel Lubis 2

Makan Roti Tawar Sen yang Masih Fresh From the Oven








Kayak roti tawar biasa memang. Yang membedakan--sehingga harus di-share, pengalamannya itu. 😀






Dalam sepanjang hidup aku, baru kali aku makan roti tawar. Eits, jangan bilang aku kampungan dulu. Soal roti tawar, aku kayaknya sudah lumayan sering makan roti tawar. Mau itu pakai selai kek, pakai mentega (plus meises) kek, roti bakar kek, hingga roti tawar dengan  bentuk dan rasa yang serba unik-unik, itu semua sudah pernah mampir ke kerongkongan aku. Mulai dari roti tawar polos, roti tawar kismis, roti tawar daun pandan (yang serba hijau), roti tawar coklat (yang agak gelap), sampai roti tawar gandum. 

Maksudnya itu, aku baru pertama kali makan roti tawar yang masih hangat begitu. Iya, masih fresh from the oven. Roti tawar yang baru keluar dari panggangannya--yang baru dipajang di etalase tokonya, aku baru kali ini bisa mencicipinya. 

Oh bukan. Aku  nggak punya teman atau saudara yang bisa bikin roti tawar. Almarhumah Mami pernah memang bikin kue basah sendiri (favorit aku itu donat), namun belum sampai bikin roti tawar. Aku juga tidak dalam rangka mengunjungi satu lokasi tempat pembuatan roti. Yang aku maksud itu, yah lewat aplikasi delivery order






Padahal di aplikasi, harganya Rp 12.000. 








Lewat aplikasi GrabFood, aku menemukan toko roti begitu. Namanya Roti Sen. Aku biasanya paling sering menemukan toko roti yang agak sedikit bernama begitu. Itu macam BreadTalk atau Holland Bakery. Baru kali ini aku menemukan toko roti yang agak kecil di aplikasi-aplikasi macam GrabFood. Ya sudahlah, aku coba pesan roti buatan mereka secara delivery order. Untuk roti coklatnya, yah lumayan DEP SEDEP. Coklatnya menggunakan coklat handmade, sehingga cairan coklatnya agak-agak cair dan dari rasanya bisa tertebak. 

Nah untuk roti tawarnya memang tak jauh berbeda. Justru yang istimewa itu pengalaman pertamanya. Ini pengalaman pertama aku makan roti tawar yang masih fresh from the oven. Masih hangat, masih terasa panasnya. DEP SEDEP-nya jadi tiga kali lebih dari yang biasanya. Entah itu makannya langsung, entah itu harus pakai mentega dan meises dulu, entah pula makannya harus dibakar dulu, kenikmatannya sungguh sulit didustakan siapapun. Ini sangat berbeda sekali makan roti tawar yang biasanya aku beli dari bakery atau tukang roti yang sering berkeliaran di komplek rumah. 

Udik yah? Bodoh amatlah aku. Kapan lagi coba makan roti tawar yang masih fresh from the oven. Haha. 






Cuma copy-save in dari Google Map, kok. 







Kalau tertarik, ini ada segelintir informasi soal ROTI SEN. Buat yang tinggal di Tangerang, coba search 'Roti Sen' di GrabFood. Ada, kok. Roti Sen tak jauh dari Danau/Situ Cipondoh. 





Roti keju,di aplikasi GrabFood, cuma Rp 1000. Wow!







23 Aug 2017  Immanuel Lubis 0