Roti Cane & Mi Aceh













Foto di atas itulah yang namanya Mi Aceh. Dari nama terakhirnya, kita pasti sudah tahu asal kuliner tersebut. Yah pastinya dari provinsi bernama Nanggroe Aceh Darussalam. Sepintas Mi Aceh memang agak mirip dengan spaghetti. Agak-agak mirip juga sama Lo Mie. Mi-nya itu memang agak besar-besar, namun tak sebesar udon. 

Kali pertama makan itu waktu aku kuliah di semester pertama dan kedua. Itu sekitar tahun 2007 dan 2008. Mendiang Mami sering mengajakku jalan-jalan hingga mampir ke daerah perumahan bernama Regency. Dulu namanya memang seperti itu. Tapi mungkin sekarang--kalau menurut kebiasaan warganya--tetap dikenal sebagai Regency. Dulu, jaman aku masih SD, tiap orang-orang dari Serpong mau ke Ciledug, mau tak mau harus lewat Regency yang lebih efisien.

Tapi aku tak bermaksud bercerita soal masa lalu. Apalah artinya masa lalu, terutama yang pahit-pahit. Hehe. 

Yang aku mau bahas di sini selalu soal kuliner (selain soal film dan drama televisi). Lalu, kembali ke soal Mi Aceh tadi, pertama makan Mi Aceh itu yang versi rebus. Kesan pertama: kok mi-nya udah langsung gede-gede,--emang enak? Soalnya kebiasaan kalau lagi makan mi instan, kalau mi-nya sudah gendut-gendut (ada yang bilangnya, londoh) biasanya kurang DEP SEDEP buat dimakan. Nah, khusus Mi Aceh ini sangatlah berbeda. Justru makin terasa sangat DEP SEDEP di balik ukurannya yang besar-besar. Apalagi yang bikin ketagihan dan selalu teringat itu tiap bumbu khasnya tersebut. Gurih-gurih! Pedas memang Mi Aceh itu, tapi pedasnya juga tak terlalu pedas. Justru di situlah letak daya tarik utama Mi Aceh. Di rasa pedasnya. Makin pedas, makin bikin kangen. 

Tadi siang, karena kangen sama Mi Aceh, aku cari soal tempat kuliner yang menjual Mi Aceh. Eh ketemu. Ada yang jual di daerah Karawaci, Tangerang. Langsung aku pesan Mi Aceh, tapi kali ini yang goreng. Dan, ternyata tak jauh berbeda antara yang rebus dan yang goreng. Sama-sama DEP SEDEP! Malah kayaknya lebih DEP SEDEP yang goreng. Lebih bikin ketagihan. 

Oleh Mi Aceh Bang ONE, seporsinya itu seharga Rp 18.000. Lumayan murah juga, kan? Gimana? Lewat fotonya itu, tertarikkah? Silahkan main-main ke Jalan Borobudur Raya Nomor 27A, Karawaci, Tangerang. 










Jangan lupa juga untul mencicipi cemilan bernama Roti Cane yah. Itu juga dari Aceh. Sama-sama DEP SEDEP. Namun Roti Cane ini terasa agak mirip kue pancong. Jauh lebih gurih kalai ada topping-nya. Mirip sama kue pancong, yang kalau tidak ditambahkan dengan gula pasir, memang enak, tapi kalau ada topping-nya jauh lebih DEP SEDEP lagi. Sama seperti kue pancong, Roti Cane ini memang agak manis, walau manisnya agak datar dan hambar. Aneh kan? Tertarik kan? Makanya, yuk, jangan lupa mampir ke Mi Aceh Bang One yah.






20 Jul 2017  Immanuel Lubis 0

Bakso Bakar Bumbu Kacang













Untuk sajian kuliner kali ini, rasa-rasanya kok lebih enak kalau makan di tempatnya langsung, yaitu di Komplek Pengayoman, Tangerang? Bakso bakar bumbu kacangnya itu pas diantar sama tukang delivery order, memang DEP SEDEP. Namun sepertinya ke-DEP SEDEP-annya memang jauh lebih terasa kalau makan di tempat. Memang tidak selamanya makan dalam kemasan kotak itu selalu DEP SEDEP. Terkadang ada beberapa menu yang lebih enak jika makan di tempatnya langsung... menggunakan piring dan sendok serta garpu (mungkin juga pakai sumpit, walau aku tak bisa pakai sumpit, 😐)












Daging baksonya lumayan, kok. Lumayan empuk. Terasa garing juga. Pas makannya itu, serasa lagi makan bakwan juga. Tahu, bakwan, kan? Ini bukan gorengan bakwan yah? Tapi bakwan yang suka ditawarkan oleh tukang-tukang bakso tertentu. Nah, rasanya itu persis kayak lagi makan bakwan. Rasanya juga kayak batagor (baca: bakso tahu goreng). 

Bumbu kacangnya juga lumayan gurih. Kuahnya juga. Iya, bakso bakar ini pakai kuah layaknya bakso kuah yang dihidangkan di dalam mangkok. Tambah DEP SEDEP-nya lagi, mantap, pakai sambal hijau. Pedas banget sih, tapi makin DEP SEDEP! Belum lagi ada campuran lontongnya. Yah walaupun belum terlalu mengenyangkan perut (ah, mungkin karena diantarnya pas aku lagi lapar berat!😅). 










Harga seporsinya, untuk yang versi delivery order, Rp 24.000. Itu sudah termasuk tiga tusuk bakso bakar (satu tusuk isinya tiga bakso), lontong, kuah, bumbu kacang, dan sambal hijau. Kalau untuk makan di tempat, aku kurang tahu yah. Tapi mungkin bisa lebih mahal. Soalnya terlihat dari kemasannya yang sangat elegan, menurutku. Itu menunjukan tempat makannya pasti lumayan cozy dan mentereng, bukan sekadar warung atau rumah makan biasa layaknya kedai bakso di jalan-jalan. 

Tertarik? Bisa pesan lewat Go-Food atau GrabFood. Atau, bisa datangi tempatnya langsung di Komplek Pengayoman, Jalan Pengadilan Raya Blok D6 nomor 6, Tangerang. Di bawah ini, bisa kalian lihat sendiri beberapa akun social media dan situs resminya.






Ini makanan khas Lampung kah?






20 Jul 2017  Immanuel Lubis 0

Pisang Goreng Kriuk Cipondoh, Tangerang













Tiap orang sepertinya menyukai penganan bernama pisang goreng. Cemilan yang termasuk ke dalam jenis jajanan kaki lima bernama gorengan itu memang mudah ditemukan di mana-mana. Di jalan-jalan (selama menemukannnya di tempat dan waktu yang tepat), kita akan bisa menemukan lima penjual gorengan, khususnya pisang goreng. Di mal-mal, kadang juga suka ada yang menjual pisang goreng. Nggak mau rugi? Bikin sendiri juga mudah, kok. Tinggal sedia pisang (yang khusus buat bikin pisang goreng yah; aku lupa namanya), tepungnya, dan minyak secukupnya. Ta-ra, pisang goreng sudah siap disajikan. 

Selain itu, pisang goreng--kadang yang aku lihat--dijual dalam bentuk yang bermacam-macam. (Anyway, aku bicara soal pisang goreng yah. Molen pisang tidak termasuk). Ada yang agak lembek. Ada yang berbentuk seperti kipas. Ada pula yang berukuran lebih kecil. Sampai ada juga pisang goreng crispy yang mulai ngetren itu di tahun 2005, waktu aku masih SMA. 

Yup, pisang goreng crispy! Pisang goreng ini dibuat dengan cara digoreng pakai tepung yang khusus digunakan buat bikin ayam goreng crispy (itu loh, ayam goreng ala KFC). Ke-DEP SEDEP-annya sangat luar biasa. Kriuk-kriuk di mulut awalnya, hingga di gigitan akhir jadi kenyal-kenyal empuk. Sensasinya seperti itulah. Maaf kalau terdengarnya tidak enak di bagian 'kenyal empuk' tersebut. Pisang goreng crispy ini aku sejak pertama icip-icip di tahun 2005 itu, sudah sangat menyukai. Pokoknya kalau ada yang menjualnya, bawaan pengin  beli itu selalu ada. Apalagi kalau ada yang membawakan oleh-oleh pisang goreng crispy. Satu kata: WUIH!

Nah, sama seperti pisang goreng pendahulunya, yang crispy ini juga masih bermacam-macam variasinya. Pernah yah, aku memakan pisang goreng crispy yang ditaburi srikaya. Gila, itu DEP SEDEP banget! Kenikmatannya tiada tara. Selain itu, belum lama ini aku menemukan pisang goreng crispy dengan rasa ovomaltine. Pisangnya itu diolesi susu ovomaltine, maksudnya. Persis seperti foto di bawah ini.  












Pisang goreng crispy rasa ovomaltine ini sangat DEP SEDEP. Ovomaltine-nya saja sudah begitu DEP SEDEP. Susu ovomaltine kan sangat luar biasa rasanya. Harganya juga lumayan mahal. Kualitas coklatnya benar-benar DEP SEDEP dan bikin ketagihan. Jauh melebihi susu Milo. Ini dipadukan pula sama pisang goreng crispy yang kriuk-kriuk itu. Tak terbayangkan kan, bagaimana saat mencicipinya?! Nah, kalau aku sendiri, benar-benar sangat puas. Makan siangku hari ini sungguh terasa istimewa sekali. Terimakasih buat "Pisang Goreng Kriuk Cipondoh" yang berada di Jalan Perdamaian, Cipondoh, Tangerang. Kalian benar-benar sangat luar biasa dalam meracik makanan yang diolah dari buah bernama pisang tersebut. Two thumbs up, deh! 

Sebetulnya "Pisang Goreng Kriuk Cipondoh" memiliki banyak variasi menu. Ada yang polos saja, rasa susu keju, rasa susu keju kacang, rasa susu keju stroberi, hingga susu keju ovomaltine oreo. Harganya bervariasi dari Rp 14.000 hingga Rp 28.000. Itu juga harga dari aplikasi delivery order macam Go-Food. Kalau datang sendiri ke gerainya, mungkin bisa beli satuan yang jelas lebih murah. Aku saja keluar uang Rp 22.000, sudah dapat sepuluh pisang goreng crispy. Berarti satuannya itu seharga Rp 2200. Murah kan? Tapi jadi mikir, mau nggak penjualnya menjualnya secara satuan? Hehe. 

Kesimpulan dari semua kesimpulan, "Pisang Goreng Kriuk Cipondoh" ini sangat layak dimasukan dalam culinary list kalian kalau tengah berkunjung ke daerah Cipondoh, Tangerang. Yang tinggal di Banjar Wijaya dan sekitarnya, pasti tahu kayaknya. 

By the way, sempat berpikir pisang goreng crispy ini tak jauh berbeda sama pisang bakar seperti foto di bawah ini. Ternyata aku salah besar. -_-













Pisang bakar yang agak terasa lembek di atas itu dijual oleh "Pempek Gama" atau "D'Grobakz'". Dan, pisangnya itu ternyata dibakar, bukan digoreng. :(






18 Jul 2017  Immanuel Lubis 0

Oh Ini Toh Kue Lumpur...?!







Yang hitam itu topping oreo-nya. 






Sempat terpikirkan setelah kejadian hari ini, kalau usaha kulinernya mau laris, sebisa mungkin nama menu atau bentuk kuliner yang disajikan itu dibikin senyentrik mungkin. Sebab, mungkin sama seperti aku, salah satu pertimbangan orang beli itu, yah kalau bukan karena namanya, yah bentuknya, yang baru disusul soal harga dan cita rasa. 

Dulu gara-gara nama, jadi mencicipi es bubur kacang ijo yang disajikan oleh satu tempat makan di daerah Kemang Pratama. Sekarang, terpaksa keluar uang gara-gara tak tahan untuk melihat dan mencicipi yang namanya kue lumpur.

Yup, kue lumpur!

Ternyata setelah menunggu hampir tiga puluh menit, baru tahu bahwa kue lumpur itu agak mirip sama kue sus. Rasanya itu kayak dicampur lumpur yang manis-manis begitu. Walau, kue lumpur-nya "Pempek Gama" (atau "D'Gerobakz" kalau di Grab) masih agak datar rasanya. Bingung kan sama penggambaranku? Ya sudah, kalau main ke daerah Kota Modern, Tangerang, mampir saja ke tempat yang ada di foto yang ada di bawah ini. 

By the way, apa jangan-jangan kue lumpur itu nama lain dari kue sus? Anybody knows?!




Dalam kotaknya, ada tiga buah kue lumpur. Berarti sebuahnya itu sekitar 6 ribuan. Agak mahal sebetulnya, menurutku. Yah walau rasanya sangat DEP SEDEP!!!!!







17 Jul 2017  Immanuel Lubis 0

Bagaimana Cara Menikmati Sebuah Makanan [BAGIAN: Spaghetti]







Bagian pertama: Bakso & Daging-dagingan
Bagian kedua: Minuman Berkrim
Bagian ketiga: Susu Kedelai
Bagian keempat: Daging Panggang B2 & Telur Mata Sapi
Bagian kelima: Mi Instan
Bagian keenam: Pasta Salmon
Bagian ketujuh: Martabak












Kali ini, untuk episode kali ini, tulisannya pindah ke channel youtube aku. Simak yah, @nuellubis berkuliner: BAGAIMANA CARA MENIKMATI SEBUAH MAKANAN. Dan, mungkin berikutnya untuk bagian "BAGAIMANA CARA MENIKMATI SEBUAH MAKANAN" akan ditampilkan dalam bentuk video. 😁





* disponsori secara diam-diam oleh Food Hall Summarecon Mal Bekasi






16 Jul 2017  Immanuel Lubis 0

Martabak SPEKTAKULER & ORIENT













Kunjungi situsnya: MARTABAK SPEKTAKULER.







Sejak kecil, aku ini memang sudah penggemar penganan bernama martabak yang ditinggal sampai siang di keesokan harinya, juga tak lekas basi (cuma agak dingin dan rasanya agak berkurang sedikit). Tiap Papi pulang kerja sambil bawa sekotak martabak, wah aku langsung girang banget. Mau itu martabak telur, mau itu martabak keju, maupun martabak coklat kacang, semuanya aku suka. Walau favoritku tetap saja martabak coklat kacang. Menggigit kacang-kacang yang ditaburi di dalam one piece martabaknya, wuih itu suatu kenikmatan tiada tara. DEP SEDEP-nya sangat luar biasa. 

Sekarang pun sama. Aku masih tetap menggemari penganan bernama martabak yang biasanya akrab sebagai jajanan kaki lima. Well, penganan yang sangat cocok dijadikan bahan sarapan ini memang sejak aku kecil, sudah dikenal sebagai jajanan kaki lima. Untuk menemukan yang menjual martabak, kita biasanya harus menunggu waktu petang dulu, barulah kita jalan-jalan malam menyusuri tiap sudut perkotaan hanya demi menemukan tukang martabak. Terbayang kan, betapa repotnya seorang ibu hamil yang mendadak ngidam martabak keju?! Sudah ngidam martabak, harus martabak keju pula. Bisa dari Tangerang ke Bogor, hanya demi membeli martabak keju. 

Kalau akhir-akhir ini sih, mencari martabak tidak sesulit di era 90-an yah. Sekarang martabak tidak hanya dijual di kaki lima. Yang aku lihat, gerai-gerai martabak dalam sebuah ruko (baca: rumah-toko) lumayan banyak ditemukan. Tahun lalu (2016), waktu tengah main ke daerah Cibodas Baru, Tangerang, sekitar jam 12 siang, aku sudah menemukan ruko yang berjualan martabak. Martabak yang dijualnya pun beraneka ragam. Tak hanya telur, kacang, atau keju saja. Melainkan tokonya juga berjualan martabak dengan topping oreo, silver queen, hingga yang berasa duren. 

Tak hanya itu saja. Pernah juga aku menemukan martabak tipker (baca: tipis kering) yang ada di sebuah mal yang ada di daerah Gading Serpong. Martabak mini yang lebih garing, sehingga jadi agak-agak mirip d'crepes. Sudah tipis begitu, diberikan topping yang sesuai keinginan kita. Tak kalah sama martabak-martabak konvensional deh. 

Karena fenomena martabak yang amat mudah dijumpai (tak hanya dijual saat petang) inilah, aku sedikit terpengaruh untuk mencicipi jenis martabak di luar rasa yang pernah kumakan waktu kecil dan remaja itu. Iseng buka ponsel, buka aplikasi online delivery (yang juga lagi marak), mendaratlah aku pada pilihan dua toko martabak. Yang satu ada di daerah Palem Semi, Karawaci. Satu lagi, di daerah Kebon Nanas,--yang tak jauh dari tempat tinggalku juga. 


























Untuk martabak di toko pertama, aku pesan secara online dari toko "Martabak Spektakuler" yang ada di daerah Palem Semi, Karawaci (ada di dekat gerbang masuknya; di daerah ruko-rukonya). Aku pesan martabak kacang, namun yang warnanya hijau. Maksudnya, martabaknya itu dibuat dengan menggunakan tepung daun pandan. Rasanya sangat DEP SEDEP di luar dugaan. Martabaknya saja sudah sangat suka, apalagi dibikin dengan tepung daun pandan. Wow, luar biasa DEP SEDEP! Karena sejak kecil pula, selalu suka kue-kue yang dibuatnya dengan menggunakan tepung daun pandan, sehingga menghasilkan cemilan warna hijau yang sangat menggairahkan. Ini mah kenikmatannya double, menurutku. Ditambah lagi, topping kacangnya lebih banyak daripada yang dijual di tukang martabak yang ada di kaki lima (ya iyalah, masa gerai di ruko dibandingkan sama kaki lima?!). Secara harga, martabak mereka juga tak kalah murah. Yang paling murah, masih sekitar Rp 30.000-an. Kelebihan lainnya, martabaknya--menurut pengakuan salah satu pembeli--tidak bikin gatal di tenggorakan. Katanya sih, rasanya lumayan lembut di mulut.



















Kemudian, untuk martabak kedua, aku pesan dari toko "Orient Martabak". Di luar dugaan, tokonya ini ternyata benar-benar dekat sama rumah. Tak jauh dari gerbang tiga komplek (Sekretariat Negara, Bona Sarana Indah, dan Taman Anyelir) yang ada di Jalan MH Thamrin, Kebon Nanas. Terletak di seberangnya soalnya. Nah buat kalian yang dari luar Tangerang, jika kalian masuk dari gerbang tol Kebon Nanas, toko martabaknya ada di sebelah kiri dan tak jauh dari Masjid Jami Al-Falah. Agak persis di seberang Rumah Sakit Awal Bros. "Orient Martabak" ini bukanya di atas jam 3 sore. Rasanya, untuk yang kupesan ini--yang mana itu martabak isi meises, tak kalah DEP SEDEP. Meisesnya itu loh, wow, sangat melimpah ruah. DEP SEDEP memang, namun sempat bikin mual juga akibat makan empat potong sekaligus (habis DEP SEDEP banget!!!!!). Kualitas meises yang digunakan juga tak sembarang dipilih. Kayaknya sih, mereka pakai meises yang agak mahal daripada yang dijual di kaki lima. Pantas harganya begitu mahal sedikit.

Anyway, aku memang begitu orangnya. Tak begitu tahan untuk tidak mencicipi tiap kuliner dengan nama dan bentuk yang sedikit unik dan nyeleneh. Bawaannya selalu saja ingin mencicipi. Belum lama juga, aku mencicipi martabak dari toko "Martabak Engkong Lim". Tak jauh berbeda dari kedua martabak yang barusan kubahas. Entah itu secara harga, entah itu pula secara rasa dan bentuk. Sama-sama DEP SEDEP. Di Tangerang ini juga, yang jual martabak, yang aku lihat, lumayan banyak. Bukanya tak lagi di atas jam 6 sore. Bahkan ada beberapa yang buka di jam 10 pagi dan 1 siang. Alhasil, para penikmat martabak dijamin tak akan menyesal selama berada di kota Tangerang yang ber-akhlakul kharimah tersebut.

Terakhir, ke depannya, aku masih ingin terus mencicipi tiap rasa dari tiap jenis martabak yang akhir-akhir ini tengah ngetren. Masih penasaran untuk mencicipi martabak ovomaltine, martabak oreo, sama martabak silver queen. Hehehe. 












16 Jul 2017  Immanuel Lubis 0

Pelajaran dari CHICKEN SOGIL













Ayam goreng yang ada di foto di atas tersebut, kalian menyebutnya apa? Kalau waktu kecil, Mendiang Mami menyebutnya ayam sioto (dalam bahasa Batak itu, yang artinya ayam si bodoh). Ada yang menyebutnya ayam suntik. Ada juga yang menyebutnya ayam crispy. Ada pula yang menyebutnya ayam kriuk-kriuk. Buat dua terakhir itu mungkin karena faktor kulit ayamnya yang garing. Krik-krik-krik. Sama garingnya waktu ada teman coba melawak atau melucu, tapi malah krik-krik-krik. Coba membantu atau baik-baik, nyatanya malah tidak membantu dan membuat segala sesuatunya jadi tambah runyam. Coba ikut campur demi kebaikan, eh malah tambah bikin ribet. Yang ada, zzzzz. Tidur saja sana! 












Apapun itu penyebutannya, jenis ayam goreng yang cara pembuatannya terinspirasi dari KFC, McDonalds tersebut memang sangat enak. Akhir-akhir ini makin menjamur saja jenis ayam goreng seperti ini dengan beragam nama dan merek. Sepengamatan aku juga, secara rasa, tak jauh beda. Namun untuk para inspiratornya, memiliki banyak pembeda. Seperti ayam KFC yang ada rasa pedasnya; ukurannya kecil, dagingnya banyak. Ayam McDonalds yang banyak berukuran besar, namun beberapa kalau tak pakai bumbu, seringkali tasteless. Dan, masih banyak lagi para pembedanya.

Skip!

Sebab, aku bukan mau membahas soal segala pembeda di rivalitas ayam goreng bernama macam KFC, McDonalds, Burger King, Wendy's, A&W, hingga Texas Fried Chicken. Tidak, bukan itu yang mau kubahas. Yang mau kubahas itu.....

.....

Lihat foto pertama, kan? Nah, baru-baru ini aku pesan ayam goreng secara delivery order (secara online maksudnya). Bukan dari merek terkenal. Dari yang kecil-kecil begitu. Awalnya pesan yang paha atas. Eh kata driver Grab-nya, lagi kosong. Ya sudah aku alihkan ke bagian dada. Pas diantarnya, surprise banget buat aku. Tak menyangka dada ayam Chicken Sogil sebesar ini ukurannya. Bahkan kalah, loh, sama KFC, McDonalds, dan sebangsanya. Seumur hidup baru kali ini aku makan dada ayam yang sebesar ini. Rasanya juga lumayan DEP SEDEP. Soal harga, tak terlalu mahal. Masih di bawah Rp 20.000 untuk menu nasi + dada ayam + teh manis. Murah meriah kan.

Kaget aku. Perasaan sebelumnya makan di Chicken Sogil, belum sebesar ini dada ayamnya. Ah, mungkin sudah mulai terjadi perubahan sedikit. Apalagi yang aku lihat Chicken Sogil ini cabangnya tidak hanya di Jalan MH Thamrin, Kebon Nanas, Tangerang. Mereka memiliki beberapa gerai juga di beberapa tempat di Tangerang (setelah aku amati). Mungkin sudah mendapatkan kepercayaan. Alhasil banyak pembelinya. Semoga makin laris dan harganya tetap diusahakan murah. Karena biasanya begitu, kan? Makin digemari, jadi makin mahal.

Anyway, yeah, belajar dari kasus Chicken Sogil, hidup memang suka kasih kejutan yah. Satu lagi, jangan suka meremehkan sesuatu. Kadang yang seperti Chicken Sogil ini bisa memberikan ke-DEP SEDEP-an sangat luar biasa daripada yang gerai ayam goreng dari negeri Paman Sam. Pernah juga, loh, waktu ke basement Senayan City bareng Dias, aku menemukan merek jenis ayam goreng seperti ini yang tak kalah DEP SEDEP. Merek kecil, merek abal-abal, eh malah tak kalah DEP SEDEP!

Hmmm.....






14 Jul 2017  Immanuel Lubis 0

Pertama Kali Icip Es Kacang Merah yang Super DEP SEDEP!













Es kacang merah itu salah satu penganan dari pulau yang menurutku bentuknya seperti huruf K. Yah datangnya dari Pulau Sulawesi. Datang dari Makassar. Asalnya sama dengan Es Pisang Ijo juga.

Nah, kebetulan pula, aku mulai mengenal Es Kacang Merah setelah mengenal Es Pisang Ijo. Kejadiannya itu pas jaman masih kuliah dulu. Sekitar tahun 2008 mungkin. Waktu itu ada yang jual di sekitar rumah. Berhubung aku ini bermental anak-anak, yang tiap mendapati ada yang unik (atau sedikit nyeleneh), persis kejadian waktu makan Es Burjo itu, aku masuk ke gerainya dan icip Es Pisang Ijo-nya. Barulah beberapa bulan kemudian aku icip-icip Es Kacang Merah-nya. Awalnya aku nggak begitu suka. Jauh lebih suka makan Es Pisang Ijo. Beberapa kali makan Es Kacang Merah di beberapa tempat, pun aku masih merasakan hal sama. Sampai.....

.....sampai akhirnya ketemu juga yang berhasil menyediakan Es Kacang Merah yang sangat DEP SEDEP. Kacang merahnya juga tidak atos (bahasa Jawa untuk keras).  Bumbunya juga lumayan gurih. Harganya juga lumayan.














Yuk, kalau lagi di Tangerang, jangan lupa mampir ke tempat yang alamatnya ada di sini ya. 












Tonton juga ya videoku di channel nuellubis, yang lagi asyik makan Es Kacang Merah: Keseruan nuellubis Makan Es Kacang Merah












10 Jul 2017  Immanuel Lubis 0