Tebu Simply







Beginilah penampakan es atau jus tebu. Baik rasa dan tampilan luar, itu seperti es kacang hijau. 






Sebetulnya aku sudah mau mencicipi ini sejak tahun lalu. Tiap bertemu Dias di Summarecon Mal Bekasi, aku selalu pengin mencicipi es atau jus tebu. Penasaran saja rasanya seperti apa. Yah, aku tahu, tebu itu asal muasalnya gula pasir. Namun tetap saja, pasti rasanya bukan seperti air putih yang diberi gula pasir. Makanya, penasaran aku dengan rasanya es atau jus tebu tersebut. 

Nah, saat hari ulang tahun Mas Tony yang jatuh pada tanggal 15 Agustus kemarin, kesampaian juga. Ternyata es atau jus tebu itu memang manis banget. Tapi itu rasanya tak seperti air putih yang diberi gula. Berbeda sekali.  Es atau jus tebu ini lebih mirip rasanya dengan es kacang hijau di awal minumnya.

Mungkin akan terasa sangat pas sekali jika disajikan dalam gelas kecil (atau dalam loki juga boleh). Sebab, itu dia, porsinya Simply ini lumayan besar. Lebih cocok diminum berdua bareng doi (Haha, #MendadakKangenBerat  😐😢). Kalau diminum sendiri, bisa bikin eneg. Aku saja kenyang dan kembung mampus. Mulut jadi penuh gula. Sehingga aku butuh minum air putih agar menghindari dehidrasi. 

Tapi, untuk minuman lainnya, salah satunya es susu kacang kedelai, itu sangat DEP SEDEP. Minum segelas--saking takarannya sesuai, itu masih kurang. Bawaannya mau lagi dan lagi. 

Oh, terakhir, Simply ini--walau khusus menjual es atau jus tebu--juga menjual aneka minuman lain. Ada es kacang hijau, liang teh, hingga beberapa minuman herbal. Harganya juga tak melebihi Rp 30.000. Segelas saja sudah Rp 15.000. Itu untuk es atau jus tebunya saja yah.

Simply ini kayaknya juga bisa ditemukan di beberapa mal terkenal. Jadi, jika kalian menemukan gerai Simply, tak ada salahnya dicoba. Nikmatnya sulit didustakan siapapun. 😊

Tapi, kalau ngotot mau buru-buru mencicipi, silahkan main ke lantai paling atas, ke Food Temptation-nya. Gerainya ada di dekat tangga jalan dan tak jauh dari Solaria yang serba ungu. 






16 Aug 2017  Immanuel Lubis 0

Martabak Mickey - Gading Serpong




















Dari segi tampilan warna, agak sedikit berbeda dari martabak-martabak yang ada di pinggir jalan. Kayak agak pucat (mungkin ini yang membedakan antara martabak reguler/blue band dengan martabak wisman/wysman/bangka yang lebih banyak dagingnya). Namun kalau secara aroma, martabak dari Martabak Mickey ini sangat menggugah selera. Ke-DEP SEDEP-annya sangat dimulai dari aroma. Mungkin hal itulah yang sempat mengganggu driver Go-Food waktu mengantarkannya ke aku pada jam 11:30 siang. 

Ternyata sangat gurih memang. Bikin ketagihan. Bikin mau lagi dan lagi,... sampai akhirnya tandas juga dan aku kekenyangan. Walau kegurihannya itu tak hanya datang dari aromanya. Kacang yang ditaburi juga lumayan nyentrik. Pas aku cicipi, lebih mirip kayak martabak yang diolesi selai kacang. Kacangnya ditumbuh halus dan encer banget soalnya. Namun tetap DEP SEDEP kok. Malah bikin ketagihan makan gara-gara kacangnya. Baru kali itu makan martabak kacang dengan penampilan dan rasa kacang mirip selai kacang. 



















Martabak model ini hanya dijual di Ruko 1B Gading (Serpong), Blok B3 nomor 22, Jalan Boulevard Raya, Serpong Utara, Tangerang. Harganya hanya Rp 45.000 (itu juga karena memilih martabak yang jenis klasik; kalau yang model-model sekarang, yah harganya bisa dari Rp 50.000 hingga Rp 150.000). Itu juga sudah bisa dicicipi saat matahari lagi terik-teriknya. Alhasil, sensasinya sangat berbeda dengan saat dimakan di sore atau malam hari. Kan martabak biasanya dijual saat sore, petang, atau malam. Hehe.





Lokasi Martabak Mickey gampang ditemui. Dari pintu masuk Gading Serpong, sebelum Summarecon Mal Serpong, lalu berada di jejeran ruko yang ada gereja PRII, Holland Bakery, dan restoran Korea Bornga. Tinggal cari saja dulu kincir anginnya Holland Bakery. Sudah ketemu, lalu cari perlahan ruko yang ada plang bertuliskan 'martabak mickey' beserta gambar kepala Miki Tikus.



















10 Aug 2017  Immanuel Lubis 0

BEBEK SEMANGAT yang Bikin Makan Makin Semangat













Di Plaza Semanggi, lantai 3A, menggantikan Mie HCM yang sudah lama tutup, telah buka tempat kuliner baru. Namanya BEBEK SEMANGAT. 

Nah, buat kalian yang sangat suka makan bebek, sepertinya BEBEK SEMANGAT ini sangat layak dikunjungi. Apalagi, menurut pengakuan mas kasirnya, BEBEK SEMANGAT hanya ada di Plaza Semanggi. Di Jakarta (atau Jabodetabek), baru di sana saja. Selanjutnya, yah kalian harus capek-capek ke Jalan Kusuma Bangsa Nomor 31, Surabaya. Baru ada dua cabang soalnya.











Kalau yang di Plaza Semanggi, konsep interiornya lumayan. Tempatnya juga lumayan nyaman. Catchy-lah buat ngobrol-ngobrol. Soal harga, kebanyakan hidangannya tak terlalu mahal. Bisa dilihat sendiri di daftar menu yang ada di foto bawah. 











Waktu pertama makan di sana, aku--bersama Dias--memesan Bebek Kremes yang harganya Rp 27.000. Sangat DEP SEDEP. Dagingnya empuk sih. Tapi karena aku kedapatan yang bagian paha, agak sedikit. Dias yang enak, dapat bagian dada, yang banyak dagingnya. Yang minus malah kulitnya yang kriuk-kriuk itu. Agak asin. But, overall, it must be tasted by all of you. 












BEBEK SEMANGAT ini mungkin lebih menyediakan menu lokal, selain yang berhubungan dengan bebek. Sebab, itu bisa dilihat dari daftar menunya. Ada ayam kremes, telor ceplok, telor dadar, terong, hingga kulit pitik. Minumannya juga sangat berbau lokal. Serba teh. Eh, teh itu bukan minuman lokal kan yah, sebetulnya? 😉












Pas aku makan bebek kremesnya, sama mas-mas pelayannya, juga diberikan dia sambal. Sambal terasi dan sambal hijau. Walhasil, aku jadi bisa membandingkan lebih enak makannya tanpa sambal atau tidak. Dan, karena aku suka  makanan pedas-pedas, kayaknya jauh lebih enak makannya pakai sambal. Mungkin menu Bebek Sambal Ijo sangat layak diicip-icip kalau ke sana lagi.












Satu lagi, ada satu menu kuliner yang menarik perhatian kita berdua. Itu Bebek Mozza, yang dilumuri oleh keju mozzarella. Buat cheese lover, Bebek Mozza ini harus dicicipi. 












Kalau masih kurang menarik, BEBEK SEMANGAT juga memiliki menu bernama Bebek Raja Rempah. Dari fotonya, pasti Bebek Raja Rempah ini sangat membikin air liur kita jadi menetes-netes. Pasti sangat DEP SEDEP banget!!!!!











Sebagai penutupan (dari post kali ini), untuk kali pertama aku mencicipi es jeruk nipis. Sumpah, kapok mencicipinya. Pahiiiiiiit!!!!!!! 😣

BEBEK SEMANGAT ini berada di lantai 3A Plaza Semanggi. Dekat sama Solaria, foodcourt Maxxx, dan dekat tangga jalan yang menuju Cinemaxxx. 

Benar-benar bikin semangat BEBEK SEMANGAT ini. Bikin para pekerja kantor yang sudah kelelahan jadi kembali bersemangat. 😊




10 Aug 2017  Immanuel Lubis 0

Nasi Gudeg Wayang













Biasanya kalau aku lagi kere, lalu teman juga ikutan kere, solusinya yah seperti yang ada di foto di bawah ini. Kita beli makanan yang mana porsinya bisa dimakan berdua. Syukur-syukur kalau dapat paket makanan yang lebih murah harganya. 

Anyway, hoki banget, aku, Mas Tony, dan Dias ketemu menu kuliner seperti ini di mal macam Summarecon Mal Bekasi (SMB).  Porsinya seabrek, harganya tak terlalu mahal--hanya Rp 34.000. Padahal kalau di beberapa tempat kuliner yang menyediakan menu gudeg seperti ini, harganya bisa jauh lebih mahal. Sebab, rata-rata gudeg itu memang mahal. 

Sebetulnya juga agak nggak begitu sreg dengan ayamnya. Agak pucat begitu soalnya. Tapi pas icip, benar-benar DEP SEDEP. Lumayan empuk ayamnya. Gurihnya benar-benar gurih, bukan gurih yang dibuat-buat (apalagi yang diada-adain #eh 😂). Mantap jiwa dan roh, pokoknya! 😆

Aku cuma bisa berkomentar seperti itu, yah karena yang kebanyakan itu Mas Tony, dan Dias. Itu juga beli paket nasi gudeg ini dapat sumbangan dari Mas Tony, dan Dias. Nggak enak aku kalau main comot banyak-banyak. Alhasil, cuma icip ayamnya saja. Habis penasaran, ayam sepucat itu benar-benar DEP SEDEP-kah? Dan, ternyata benar-benar DEP SEDEP!

Lalu, seperti foto yang ada di atas, menu-menu yang dijual di Gudeg Wayang itu memang segala yang berhubungan dengan Jawa Tengah dan Jogja. Aku nggak begitu paham juga; yang kadang bisa keliru pula. Jadi, maafkan aku kalau ada menu yang berasal dari Jawa Timur dan Jawa Barat. Yang aku tahu, nasi gudeg itu dari Jogja (Kalau Nasi Liwet itu dari mana?). Terus, ada simbol wayang itu, berarti dari Jawa Tengah. Haha. Sesederhana itu pikiran aku, layaknya seorang anak kecil. Sampai-sampai tidak kepikiran yang jauh-jauh. 

Kalau habis lihat post ini, kalian tertarik untuk menikmati setiap hidangan kuliner yang dijual oleh Gudeg Wayang, silahkan main-main ke Food Temptation, Summarecon Mal Bekasi (SMB). Lapaknya ada di tengah-tengah foodcourt-nya. Hampir di seberang Yoshinoya, kok. 

Tadi sempat searching sedikit di Google Map, aku kira mereka ada cabangnya di dekat Stasiun Kranji. Nyatanya, kok rasanya aneh? Kalau memang ada, kenapa nggak ada bangunan yang memasang plang 'Gudeg Wayang'? Tapi biarlah, jaman sekarang--apalagi di dunia maya--siapapun bisa menyebarkan informasi. Sering mengalami aku. Ngakunya ada apotek di wilayah itu, eh pas ke sana, sudah 3-4 jam cari-cari, tak ketemu-ketemu. -_-'

Ya sudahlah, mungkin memang Gudeg Wayang hanya ada di Summarecon Mal Bekasi saja kali. Mereka nggak buka cabang di mana-mana. Dari tampilan lapaknya (dan namanya), memang kelihatan itu semacam produk rumahan yang belum terlalu memiliki nama.













8 Aug 2017  Immanuel Lubis 0

Warung Talaga - Summarecon Mal Bekasi (SMB)













Ada-ada saja ulah seorang manusia dalam bertahan hidup, khususnya agar bisnisnya laku. Salah satunya, yah seperti yang dilakukan oleh Warung Talaga yang berada di Down Walk, Summarecon Mal Serpong. 












Dari foto di atas itu (juga beberapa yang ada di bawah), bisa terlihat bahwa Warung Talaga ini seperti mencoba tampil beda dan unik. Mungkin dengan cara seperti inilah, mereka menarik pembeli. Salah satunya, *uhuk* aku sendiri. Jadi malu sendiri pas ingat aku terpaksa mencicipi segelas es cincau buatan Warung Talaga gara-gara interior tempat makannya yang rada nyeleneh. Sesuai dengan namanya, tampilannya dibikin mirip jadi  seperti warung. Mungkin dibuatnya seperti ini diperuntukan bagi para pengunjung Summarecon Mal Bekasi yang kangen suasana warung, namun tetap lebih ingin terlihat bergaya. Malu-malu (mengakui), tapi mau ceritanya. Haha. 












Konsepnya memang warung. Aura warung-nya sangat terasa. Apalagi hidangan-hidangan kuliner yang disajikan memang sangat warung sekali. Namun tidak dengan harganya. Harganya sangat tidak warung sekali. Temanku saja, Dias sempat membenarkan. Alhasil, karena sudah masuk, ya sudah aku memilih untuk mencicipi yang paling murah: es cincau. Gelasnya lumayan gede. Cocoklah diminum untuk bertiga. Buat aku, Mas Tony, dan Dias












Rasanya? Lumayan DEP SEDEP. Hanya saja, sepintas jadi mirip perpaduan antara es cincau dan susu kedelai. Apalagi yang putihnya itu agak berasa seperti susu kedelai, walau agak hambar. Baru berasa lumayan saat ditambahkan dengan sirup merah (jangan dicampur sama gula jawa yah?! 😅). Soal harga, segelasnya itu seharga Rp 21.000. Sekitar segitulah. Mahal yah? Tapi porsi dan rasanya, menurutku, yah lumayanlah. 














Kalau main ke Summarecon Mal Bekasi, jangan lupa main-main ke Warung Talaga yah. Ada di Down Walk-nya, yang berada di pintu masuk. Tak jauh dari Sushi Tei. 





7 Aug 2017  Immanuel Lubis 0

Pasar 8 Alam Sutera












Jadi..... setelah Mami aku meninggal dua tahun lalu, di rumah, pas jam makan siang, biasanya sama Papi, lauknya itu beli dari suatu tempat kuliner yang lumayan dekat dengan rumah. Itu di daerah  Alam Sutera. 

Langsung saja.

Namanya itu Pasar Delapan. Dekat, kok, sama perumahan di mana aku tinggal. Kalau naik motor, sekitar lima belas menit juga sudah sampai. Pasar Delapan ini terletak hampir di dekat gerbang masuk ke Perumahan Alam Sutera. Dari jam bundaran-nya, kalau jalan kaki sih, paling hanya sepuluh menit. Tak jauh pula dari Flavor Bliss--dan persis di seberang Rumah Makan Cianjur. 






Aku lagi di salah satu gerbang Pasar Delapan. 






Tak hanya buat makan siang, biasanya kalau pagi hari, buat sarapan, seringnya beli di Pasar Delapan. Bakmi-nya, Kwetiauw-nya, Bihun-nya,..... lumayan DEP SEDEP!!!!! Tak pernah bosan buat mencicipi tiap kuliner yang dijual di tiap lapak yang berada di Pasar Delapan. Soal harga, seperti kebanyakan pasar moderen lainnya, tak terlalu mahal pula. Relatif. Kalau mau cari makanan yang sesuai untuk kantong mahasiswa (yang hanya mampu beli makanan dengan harga di bawah Rp 50.000), banyak tersedia di Pasar Delapan. Mau ambil duit dulu, ada ATM center pula. Nah!





Lagi di dekat Pasar Delapan, yang ada tempat kuliner yang jual masakan khas Vietnam. 






Layaknya pasar, Pasar Delapan ini buka pada jam 6 pagi; yang mulai agak sepi ketika matahari tepat di atas kepala (alias jam 12 siang). Jam-jam sibuknya itu memang di antara jam 7 sampai jam 10 pagi. Sudah agak siangan, sudah mulai agak sepi. Sepi pengunjung, sepi penjual pula. Sudah banyak lapak atau kios yang tutup. 






Buat rotinya, rotinya itu beli di Bakery Caramia yang ada di Jakarta.






Berikut foto di atas itu bakmi rebus campur pangsit yang biasanya aku jadikan sarapan. DEP SEDEP banget. Kuahnya gurih. Mi-nya apalagi. Malah saking enaknya, aku lebih suka makan mi tanpa kuah. Serius, malah lebih enak mi-nya ketimbang kuahnya. Haha. 












Sementara, yang ini foto lauk makan siang di keluargaku. Bisa dilihat kan, harganya murah meriah. Sama-sama DEP SEDEP pula. Biasanya Papi paling sering beli ayam cabai hijau dan telur rebus bersambal. Itu yang paling sering dijadikan lauk makan siang sehari-hari. Saking DEP SEDEP-nya, aku malah jauh lebih suka makan lauknya saja tanpa nasi.












Gimana? Tertarikkah sehabis baca tulisan ini? Kalau iya, jika tengah main ke Tangerang, tak ada salahnya main ke Alam Sutera, terus dilanjutkan hingga Pasar Delapan. Oh iya, di waktu sorenya, ada banyak warung tenda juga di Pasar Delapan. Makin banyak kuliner lainnya yang murah meriah dan serba DEP SEDEP. Seperti kata anak kekinian, "Makin malam, makin seru!" 😆












7 Aug 2017  Immanuel Lubis 0

Edaz Barber Shop & Bakso Jawir















Salah satu kebutuhan yang perlu dipenuhi seorang manusia selain sandang, pangan, dan papan ialah kebutuhan akan style. Salah satunya, soal rambut. Selain buat gaya-gayaan, orang sangat butuh rambutnya dipotong itu karena memang dia merasa harus. Yah mungkin saja dengan rambutnya jauh lebih rapi, orang yang bersangkutan bisa menjamin kesehatan dirinya.

Loh kok? Pasti banyak yang bertanya-tanya seperti itu. Yah jelas ada hubungannya. Dengan rambut berantakan tak karuan, itu malah membuat diri seseorang rentan dimasuki beberapa virus dan kuman. Ambil contoh: penyakit kulit adalah salah satu penyakit yang paling sering dialami oleh mereka yang berdandan ala Robinson Crusoe yang terdampar di pulau terasing selama sebulan lebih, lalu rambut, kumis, jenggot, hingga berewok tumbuh seperti rumput liar. Rumput liar saja dipangkas habis agar selain enak dipandang, terhindar pula dari hal-hal tak enak seperti nyamuk jadi bertambah banyak. Nah, rambut pun juga begitu.












Tak heran juga salah satu bisnis yang lumayan menguntungkan itu ialah bisnis potong rambut (untuk pria). Walau tak seperti wanita yang dalam sebulan bisa sampai dua puluh kali ke salon, laki-laki juga perlu untuk perawatan rambut. Rambut--jika tidak dirawat dengan benar--akan tumbuh layaknya rumput liar. Orang yang bersangkutan bisa rentan kena beragam penyakit yang salah satunya tersebut penyakit kulit. Selain itu, selain agar lebih rapi dan terawat, memotong rambut seseorang juga memerlukan keahlian khusus. Memang rumput liar saja yang perlu keahlian khusus, rambut juga kali?!

Memotong rambut juga tidaklah gampang, aku kira. Beberapa kali melakukan pengamatan di beberapa barber shop, yang potong rambutnya itu juga tak asal pangkas. Benar-benar diperhatikan agar setiap potongannya itu enak dilihat dari tiap sudut pandang. Kata-kata yang  selalu kudengar tiap pangkas itu: "Sebentar lagi, Mas. Masih belum rapi. Yang kiri belum." Itu artinya, pekerjaan potong rambut bukanlah suatu pekerjaan yang gampang dilakukan oleh semua orang. Bahkan membotaki kepala seseorang pun tak bisa asal-asalan. Salah-salah, kepala seseorang bisa lecet. 

Tak heran, tarif pangkas rambut itu selalu tak bisa dibilang murah. Sekarang hampir jarang sekali ditemukan tarif yang di bawah Rp 15.000. Harga itu pun sudah bisa dibilang murah. Selain yang kita bayar itu skill si pemangkas, si pemangkas tentunya juga harus memperhatikan biaya-biaya seperti biaya sewa tempat, biaya perlengkapan pangkas rambut (seperti gunting, krim, bedak, maupun handuk kecil yang digunakan saat memangkas), serta biaya listrik. Yang terakhir, sebab tiap barber shop pasti memiliki alat pangkas elektronik yang berbunyi ngung-ngung-ngung begitu.

Sudah mahal, yang namanya barber shop terkadang susah dicari. Malah dalam satu kawasan, hanya ada satu barber shop. Jika yang itu penuh, kita harus cari barber shop ke kawasan lain. Bayangkan, hanya agar penampilan lebih kece, kita harus jauh-jauh berjalan berkilo-kilometer. Persis seperti aku yang harus ke daerah Gading Serpong, hanya untuk tampil rapi dan keren.












Awalnya, mau ke Ernest's Barber Shop yang dekat dengan Summarecon Mal Serpong. Namun tempatnya itu full-reserved. Lalu, karena aku ingat masih ada barber shop lainnya, buru-buru aku langsung ke ruko Fluorite (masih di kawasan Gading Serpong, yang persis dekat gerbang utama Gading Serpong).












Nama barber shop itu Edaz Barber Shop. Tempatnya lumayan nyaman. Ada beberapa pemangkas (atau kapster). Alhasil, kita tak perlu mengantre yang lumayan lama. Kerjanya lumayan gesit dan telaten. Harga sekali pangkas Rp 50.000. Itu pun tak sekalian dengan cukur kumis, jenggot, dan berewok. Kalau disertakan, biayanya bisa sampai Rp 80.000. Namun tetaplah, tarifnya masuk akal. Ada musik, ada mesin pendingin pula, serta tempatnya juga lumayan bersih. Bahkan, sedia layanan keramas pula. Nah, buat para laki-laki yang sangat memperhatikan gaya, tak ada salahnya mendatangi Edaz Barbershop. 











Sehabis potong rambut, berhubung sudah di atas jam 12 siang, aku mampir ke Bakso Jawir yang tak jauh dari Edaz Barbershop. Anyway, sorry, tak ada foto tempat. Aku hanya beli buat dibawa pulang. Tak sempat pula ambil gambar tempatnya (namun tempatnya lumayan nyaman dan bersih). Yang bisa kubilang, baksonya Bakso Jawir itu sangat DEP SEDEP. Lumayan lembut dagingnya. Kuahnya juga gurih. Harga tak terlalu mahal. Bisa dilihat kan, dari foto di atas. Sama persis kayak waktu aku pesan lewat Go-Food. 












Kalau lagi main-main ke daerah Gading Serpong dan cari tempat kuliner yang lumayan murah, Bakso Jawir ini layak untuk dikunjungi deh!






7 Aug 2017  Immanuel Lubis 0

Jus Duren Campur Kopyor Ala ICE JUICE KEDUNGSARI













Akhirnya kesampaian juga minum jus di Ice Juice Kedungsari. Agak mahal sedikit dari tukang jus di jalan-jalan. Tapi worth it kok. Anyway, waktu main ke Summarecon Mal Bekasi, aku sempatkan diri beli jus duren campur kopyor (kopyornya hanya jadi semacam topping; jadi tidak diblender sekaligus bareng durennya). Rasanya sangat DEP SEDEP. Apalagi disajikan dengan gelas lumayan besar. Alhasil, harga yang sebesar Rp 42.000 itu jadi sangat sebanding. Malah bisa diminum borongan dengan teman-teman se-hang out. Oh iya, rata-rata harga jus di Ice Juice Kedungsari itu memang mahal-mahal. 












Untungnya, Ice Juice Kedungsari tak hanya ditemukan di Summarecon Mal Bekasi, namun ada pula di AEON Mal dan Summarecon Mal Serpong. Walaupun pusatnya ada di daerah Kebon Jeruk. Tak jauh dari markas besar RCTI itu loh. Kelihatan itu plangnya mereka. Gede-gede pula. 

Kalau tak sengaja menemukan Ice Juice Kedungsari, jangan lupa mencicipi yah. Dijamin tak akan menyesal loh. Salah satu jenis franchise minuman yang wajib dicicipi. 






4 Aug 2017  Immanuel Lubis 0